*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ*
*Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.*
*PENJELASAN DAI AYAT DI ATAS*
*Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan menjalankan apa yang disyariatkan! Hindarilah kebanyakan dari tuduhan tanpa ada sebab-sebab dan alasan yang tepat, karena sebagian dari prasangka itu dosa seperti berburuk sangka kepada orang yang secara lahir tampak baik. Janganlah kalian mencari-cari aib orang-orang yang beriman. Janganlah salah seorang dari kalian menyebutkan tentang saudaranya dengan hal yang tidak disukainya, karena menyebutkannya dengan apa yang tidak disukainya itu seperti makan bangkai saudaranya. Sukakah salah seorang di antara kalian makan bangkai saudaranya sendiri? Maka hindarilah menggunjingnya karena hal itu semisal makan bangkai saudara sendiri. Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sesungguhnya Allah Maha Menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang bertobat kepada-Nya, Maha Penyayang kepada mereka*
*BERDASARKAN AYAT DIATAS DILARANG MEMBUKA AIB SAUDARA SESAMA MUSLIM*
Sesama muslim adalah *_bersaudara._* Seorang muslim menderita, sakit, atau dihimpit susah karena musibah, harus dirasakan oleh muslim yang lain.
Rasulullah Saw bersabda:_
*الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَا CTتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ*
_”Seorang muslim itu *saudara* bagi muslim yang lainnya. *Tidak boleh* mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang *memperhatikan kebutuhan* saudaranya, maka *Allah akan memperhatikan kebutuhannya.* Barangsiapa yang *melapangkan kesulitan* seorang muslim, niscaya *Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya* di hari kiamat. Dan *barangsiapa yang menutupi* kesalahan seorang muslim, niscaya *Allah akan menutupi kesalahannya* kelak di hari kiamat._
(HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580).
Dalam Qur’an Suci, ada *_kewajiban untuk saling ingat mengingatkan_* tentang kebenaran, tentang yang haq.
_Allah berfirman,_
*..ِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ*
*_… ingat mengingatkan supaya mentaati kebenaran…_*
(QS. Al-Ashr : 3).
Manusia itu *_cenderung terjatuh dalam kesalahan dan dosa._*
Allah Ta’ala Maha pengampun bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya
Bila engkau lihat ada saudara atau s ahabatmu *_yang terjatuh dalam maksiat_*
maka
*_nasehatilah dengan cara yg baik_*
bukan mencelanya serta membuka aibnya.
_Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang *menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa,* maka ia tidak akan mati *kecuali mengamalkan dosa* tersebut.”_
(HR. Tirmidzi no. 2505).
_Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw bersabda:_
_”Siapa yang *melepaskan* dari seorang mukmin satu kesusahan berat *dari kesusahan dunia,* niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan *dari kesusahan* di hari kiamat._
_*Siapa yang memudahkan* orang yang sedang kesulitan niscaya *Allah akan memudahkannya* di dunia dan nanti di akhirat._
_*Siapa yang menutup aib* seorang muslim niscaya *Allah akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.* Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya *selama hamba-Nya itu menolong* saudaranya….”_
(HR. Muslim no.2699).
Hikmah dari surat An Nisa’ ayat 142 s/d 147.
Ayat 142 mengisyaratkan tentang : *beramal ingin dilihat manusia*.
hikmahnya :
(1) Syirik yang paling samar adalah riya’ yakni ketika *beramal tujuannya kepada manusia*, sedangkan riya’ yang paling samar yakni *tidak jadi beramal karena takut tertuju kepada manusia*.
(2) Menemui Alloh dengan seluruh dosa-dosa, lebih dicintaiNya dibanding menemuiNya dengan seberkas *kepura-puraan*.
(3) Barang siapa ingin beribadahnya terkenal, maka ia *budaknya terkenal*.
Barang siapa ingin beribadahnya tersembunyi, maka ia *budaknya tersembunyi*.
Barang siapa beribadahnya semata-mata merasa sebagai *budak (hamba) Alloh*, maka terserah Alloh apakah diterkenalkan atau ditersembunyikan *sama saja tidak merubah sikap* dalam beramal ibadah karena Alloh.
Ayat 143 mengisyaratkan tentang : *ragu-ragu atas amalannya*.
hikmahnya :
(1) Celakalah orang yang terbiasa beramal buruk dan telah lama ditunggu ternyata tidak ada akibat buruk, lantas *merasa bahwa Alloh menganggap itu amalan baik*, bahkan merasa sebagai bentuk kemurahan Alloh atas dirinya.
(2) Dosa *yang berulang* merupakan siksaan atas dosa sebelumnya. Dan kebaikan *yang berulang* merupakan pahala atas kebaikan sebelumnya.
Ayat 144 mengisyaratkan tentang : *memilih pelindung*.
hikmahnya :
(1) Bersahabatlah dengan Alloh, jika tidak mampu maka bersahabatlah dengan orang yang bersahabat dengan Alloh,
karena bisa menghubungkan dirimu kepada Alloh melalui persahabatannya dengan Alloh.
(2) Sebaik-baik kawan adalah orang yang memperingatkanmu dari berbuat dosa.
Sebaik-baik pendamping adalah orang yang memperlihatkan celamu kepada dirimu.
Sebaik-baik saudara adalah orang yang menemanimu menuju kepada Alloh.
Ayat 145 mengisyaratkan tentang : *tingkatan yang paling bawah*.
hikmahnya :
Tanda orang yang dihinakan oleh Alloh adalah
(1) *sukar melakukan ibadah* padahal sudah berusaha bersungguh-sungguh,
(2) *mudah terjerumus* ke dalam maksiat padahal sudah berusaha menghindari,
(3) *tertutup pintu berhajat* kepada Alloh sehingga merasa tidak perlu berdo’a dalam segala hal.
Ayat 146 mengisyaratkan tentang : *bertaubat, memperbaiki diri, berpegang teguh, ikhlas*.
hikmahnya :
(1) Jika roh merupakan rahasia Alloh, ada lagi yang Alloh rahasiakan melebihi roh, yakni KEIKHLASHAN.
*Itulah perasaan paling pribadi antara hamba dengan Tuhannya. Karena begitu rahasianya, sampai-sampai malaikat tidak mampu mendeteksinya untuk dicatat, setan tidak mampu mempengaruhinya untuk dirusak*
*Sungguh ironis jika Alloh “berusaha” merahasiakan KEIKHLASHAN kita dengan tutupan berlapis-lapis, ternyata kita dengan mudahnya “berusaha” membuka tutupan tersebut dengan ucapan manis : saya ikhlash menolong anda. Kebaikan yang pernah kita kerjakan janganlah diingat agar tidak memuji diri.*
(2) Jika ditanya : Seringnya berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat, bila aku bertaubat apakah Alloh *akan* mengampuni?.
Jawablah : Bila Alloh mengampunimu maka anda *akan* bertaubat. Sebab, kesadaran paling mendasar sebelum bertaubat yakni rasa ingat (dzikir) anda kepada Alloh, padahal dzikir Alloh kepada anda, telah mendahului dzikir anda kepada Alloh.
Dekatnya kita kepadaNya bukan karena kita mendekatiNya, tapi karena *besarnya gravitasi (tarikan)Nya kepada kita sehingga kita tergerak* untuk mendekatiNya. Karena Dialah AL AWWALU (Yang Maha Mendahului).
Ayat 147 mengisyaratkan tentang : *bersyukur manfaatnya yakni terhindar dari siksa*.
hikmahnya :
(1).Bersyukur bukanlah sebatas memujiNya karena telah memberi kita, tetapi *lebih dikarenakan telah memberi apa yang kita tidak pantas menerimanya*.
(2) Jika ditanya : Kapan harus meminta ampun kepada Alloh karena ucapan *Alhamdulillah?*.
Jawablah : Jika ada pasar terbakar, anda dengar berita bahwa toko anda selamat lantas spontan anda ucapkan *Alhamdulillah*, berarti di saat ucapan tersebut, anda lebih memikirkan / mementingkan nasib diri, tidak mau tahu nasib toko kaum muslimin.




