POTRET YAYASAN MI`RAJUSH SHIBYAN NW PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN JAKARTA Oleh : H.Muslihan Habib “Kisah Uang Karomah untuk Ponpes NW Jakarta”

banner post atas

Kisah Uang Karomah untuk Ponpes NW Jakarta
Untuk kepentingan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, maka seringkali pimpinan pesantren ini, yaitu Kyai Haji Muhammad Suhaidi Muhammad Suhaidi, menghadap kepada Guru Besar kita al `allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dan setiap kali menghadap, sepertinya selalu ”diistiemwakan”, sehingga para Tuan Guru dari pimpinan pesantren NW lainnya, sepertinya merasa “iri hati”, karena seolah NW Jakarta sangat diperhatikan oleh Maulana Syaikh. Lalu, kenapa Maulana Syaikh sangat perhatian pada NW Jakarta?. Rupanya, karena kemauan beliau untuk mengibarkan bendera NW di Ibu Kota Negara, memang sudah lama mengharapkannya. Oleh sebab itu, berapa banyak amal jariah masyarakat atau jamaah dari hasil Hultah, misalnya yang diserahkan. Dan tidak hanya itu, bahkan uang dari karomahnya pun keluar, demi kemajuan madrasah di NW Jakarta, seperti dalam beberapa cerita berikut ini.

Karomah Maulana Syaikh dalam bentuk mendatangkan uang atau harta, merupakan bagian dari macam karomah para wali Allah lainnya. Sebagaimana karomah yang ditunjukkan oleh Rabiah al-Adawiyah, ketika akan berangkat haji dan bertemu dengan syaikh Syaiban ar-Ra`iy. Lalu, Rabiah al-Adawiyah berkata, “Aku akan pergi haji.” Syaikh Syaiban kemudian merogoh kantongnya mengambil uang untuk diberikan kepada Rabiah al-Adawiyah sebagai tambahan bekalnya pergi haji. Selanjutnya, justeru Rabiah al-Adawiyah mengangkat tangannya ke atas dan seketika itu tangannya penuh dengan uang emas. Lalu, beliau berkata kepada syaikh Syaiban. “ Engkau mengambil uang dari kantongmu sendiri, sementara aku mengambil dari alam ghaib.”. setelah itu, keduanya berangkat haji sendiri-sendiri dengan bertawakkal dan tanpa bawa bekal.
Selain contoh cerita diatas, ada juga cerita lainnya yang menceritakan tentang kantong baju Syaikh Muhammad al-Hanafi yang selalu berisi uang perak. Dan setiap ketemu dengan orang faqir murid tarekat, pasti merogoh kantongnya dan memberikan uang kepada mereka. Padahal, murid tarekat yang datang kepadanya tidak terhitung jumlahnya. Lalu, orang yang terbiasa melihat hal itu, menyatakan bahwa pemberian syaikh Muhammad al-Hanafi tersebut lebih banyak dari pemberian seorang raja.
Memerhatikan contoh karomah di atas, maka salah satu bagian dari Guru Besar kita al `allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah kemampuannya mendatangkan uang atau harta benda dan seperti yang di alami dalam contoh karomah wali lainnya di atas.

Untuk lebih jelasnya macam karomah yang satu ini, dapat kita perhatikan dari cerita penulis ketika nyantri atau belajar dengan beliau di Ma`had Daarul Qur`an wal Hadits. Selain itu, ada kisah menarik tentang uang karomah untuk kepentingan menyelesaikan tanah pesantren yang dialami dan disaksikan langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, yaitu Kyai Haji Muhammad Suhaidi Muhammad Suhaidi.
Uang Karomah dari Baju Gamis untuk Pondok Pesantren NW Jakarta
Cerita menarik adanya Uang Karomah dari Baju Gamis untuk Pondok Pesantren NW Jakarta, termuat dalam cerita seperti berikut ini.
“Pada tahun 1993, dalam upaya perluasan tanah untuk lokasi Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Kyai Haji Muhammad Suhaidi sebagai pimpinan pesantren, tiba-tiba di desak oleh seorang pemilik tanah (H.Rahmat) asal Betawi (Jakarta) untuk bisa segera bayar sebagian tanah miliknya, dengan alasan suatu kebutuhan keluarga.

Iklan
BACA JUGA  Siaran Langsung Media Sinar LIMA Dalam Acara Peletakkan Batu Pertama PonPes Al- Halimiyah NW Kuningan Dibanjiri Ribuan Penonton.

Pada saat di desak bayar seperti itu, tentunya bagi pimipnan pesantren ini tidak bisa langsung bayar dengan tunai begitu saja dengan gampang, karena membutuhkan uang banyak dan saat itu tidak memiliki uang tunai juga.
Memerhatikan kondisi ini, dalam benak serta pikiran Kyai Haji Muhammad Suhaidi dan sebagai solusi cepat, harus segera pulang ke Lombok untuk lapor ke Maulana Syaikh tentang persoalan darurat tersebut.
Selanjutnya, dalam menceritakan kisah ini kepada penulis, ia mengatakan, “ Tanpa pikir panjang, saya segera mengambil keputusan, Bismillah, Saya akan berangkat ke Lombok untuk menghadap guru saya Maulana Syaikh dan sambil berharap serta berdo`a, semoga saja beliau dengan mudah bisa membantu perjuangan ini.”
Dengan mengendarai bis malam, berangkatlah dari Jakarta ke Lombok. Dan setelah sampai di sana dan bertemu dengan Maulana Syaikh, tentunya sang murid melaporkan keadaan perjuangan pesantren di Jakarta dan menceritaakan pula soal pembayaran tanah pesantren yang bersifat darurat tersebut.
Setelah mendegarkan dengan baik dari laporan sang murid, Maulana Syaikh mengatakan, “ Wah, lagi tidak ada uang Suahidi”.
Dengan nada “merengek” sang murid, nyahut, “Tapi, orang yang punya tanah sangat mendesak Datuk.” Dan kalimat seperti itu, berulang dua atau tiga kali.
Mendengar permintaan dan desakan bertubi-tubi dari sang murid, Maulana Syaikh berkata, “ Ya sudah Suhaidi, ambil jubah (baju gamis) saya yang digantung itu.” Sambil beliau menunjuk, jubahnya yang digantung dekat dengan tempat istirehatnya.

Setelah baju jubahnya diambil, beliau menggerakkan baju jubah tersebut. Subhaanallah. Hal aneh yang terjadi. Diaman, dari jubahnya uang berjatuhan. Dan beliau berkata kepada sang murid. “ Ambil Suhaidi dan hitung ya.!”
Sambil gemetar Kyai Haji Muhammad Suhaidi mengambil uang yang berjatuhan dari jubahnya. Dan setelah dihitung, jumlah uang tersebut adalah Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah).” Jumlahnya dua juta Datuk.” Sahutnya.
Maulana Syaikh bertanya, “ Bagaimana, apa sudah cukup Suhaidi?”. Kata sang murid, “Belum Datuk.”.
Maulana Syaikh, menggerakkan lagi baju jubahnya untuk yang kedua kalinya. Dan kembali saat itu, uang berjatuhan dari jubahnya. Dan beliau berkata lagi kepada sang murid. “ Ambil Suhaidi dan hitung ya.!”
Kembali dengan sambil gemetar dan seperti rasa tidak tenang Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi mengambil uang yang berjatuhan dari jubahnya. Dan setelah dihitung lagi, ternyata nominal jumlahnya sama dengan yang pertama, yaitu; Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah).” Jumlah dua juta Datuk.” Sahutnya.

BACA JUGA  Alumnus Ponpes NW Jakarta Raih Juara MTQ Tingkat Mahasiswa Sepulau Lombok

Maulana Syaikh bertanya lagi, “ Bagaimana, apa sudah cukup Suhaidi?”. Kata sang murid, “Belum Datuk.”.
Dengan bahasa Pancor, Maulana Syaikh berkata, “Enaa, ndekman bae cukup Suhaidi (wah, belum cukup juga Suhaidi).”.
Maulana Syaikh, kembali menggerakkan lagi baju jubahnya untuk yang ketiga kalinya. Dan kembali saat itu uang berjatuhan dari jubahnya. Dan beliau berkata lagi kepada sang murid. “ Ambil Suhaidi dan hitung ya.!”
Kyai Haji Muhammad Suhaidi kembali mengambil uang yang berjatuhan dari jubahnya. Dan setelah dihitung lagi, ternyata untuk ketiga kali ini, masih jumlah nominalnya sama dengan yang pertama, yaitu; Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah).” Jumlah dua juta Datuk.” Sahutnya.
Hal yang aneh dan luar biasa dalam karomah ini, hal yang sama seperti diatas, selanjutnya berulang sampai sembilan kali. Jadi, Maulana Syaikh mengulangi gerakkan jubahnya itu, sebanyak Sembilan kali. Dan uang pun jatuh dari jubahnya, sebanyak Sembilan kali juga dengan nominal yang sama, sekali jatuh, dua juta rupiah.
Dan setelah yang ke sembilannya, ketika sang murid ditanya lagi, “ Bagaimana, apa sudah cukup Suhaidi?”. Baru sang murid, “Nggih cukup Datuk (Ya, sudah cukup Datuk).”.
Menurut Kyai Haji Muhammad Suhaidi, ketika yang ke sepuluh kalinya, ia mengatakan kepada penulis, “Saya merasa tidak enak mengatakan belum cukup lagi kepada Maulana Syaikh, padahal saya masih butuh.”.

Dan selanjutnya, sang murid disuruh hitung jumlah uang seluruhnya. Maulana Syaikh berkata,“ Berapa semua Suhaidi?. Sang murid menjawab, “ Semuanya Rp. 18.000.000,- (Delapan Belas Juta Rupiah) Datuk, Sahutnya.”
Maulana Syaikh berkata, “ Ya sudah, bawa semuanya ke Jakarta sana untuk menyelesaikan perjuangan NW.”
Selanjutnya, terhadap sejumlah uang karomah dari Maulana Syaikh yang totalnya bernilai, “Delapan Belas Juta Rupiah” yang diterima langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Kyai Haji Muhammad Suhaidi tersebut, semuanya dipakai atau diperuntukkan untuk menyelesaikan pembayaran tanah milik H. Rahmat yang saat ini sebagai lokasi bangunan SMP NW Jakarta.