Politik uang oleh sebagian besar politisi masih diyakini sebagai cara paling instan dan realistis mendapatkan suara masyarakat.

Politik uang oleh sebagian besar politisi masih diyakini sebagai cara paling instan dan realistis mendapatkan suara masyarakat.

Akhdiansyah, S.Hi Sekretaris DPW PKB NTB dan anggota DPRD NTB 2019-2024, Dapil Kabupaten Dompu, Bima dan Kota Bima.

Kapasitas, rekam jejak, gagasan maupun program ditawarkan, seperti tidak mempan mempengaruhi pilihan masyarakat. Sikap pragmatis dan krisis kepercayaan terhadap para Caleg menjadikan sebagian masyarakat terkadang kehilangan rasionalitas dalam menentukan pilihan. Itulah menjadi alasan mengapa politik uang lebih menggiurkan dalam menentukan pilihan politik

Politik uang juga telah melahirkan politisi karbitan yang ketika mendapatkan kesempatan menduduki jabatan sebagai anggota dewan, tidak bisa diharapkan membela dan menyuarakan aspirasi masyarakat, melalui kebijakan dan program pembangunan dijalankan pemerintah daerah.

Selain memang tidak faham mengenai program dan kebijakan pembangunan, politisi yang lahir dari politik uang akan lebih disibukkan mencari cara, bagaimana mengembalikan dana besar dikeluarkan selama Pemilu, meraih suara kemenangan di daerah pemilihan.

“Politik tanpa Uang”

Tumbuh suburnya politik uang dalam kenyataannya, menjadikan ‘nyali’ sebagian politisi, terutama politisi berlatar belakang aktivis NGO yang tidak cukup memiliki modal secara finansial, ciut ikut serta berkompetisi memenangkan Pemilu legislatif dan tetap abadi sebagai oposisi, tanpa bisa berbuat banyak dalam menentukan kebijakan anggaran maupun pembangunan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA