Pentingnya Remaja Muslimah Persiapkan Diri Kejenjang Pernikahan

banner post atas

 

Oleh: Fathunnisa Kirominnufus
Bidang Pengkaderan HIMMAH NW Komisariat UIN Mataram

Melihat keadaan sekitar, yang di mana pada saat ini. Tidak sedikit remaja wanita menghabiskan waktunya dengan begitu saja, bahkan terbilang sia-sia. Karena sedikitnya kesadaran akan kebermanfaatan yang dihasilkan dari kegiatan positif yang mereka jalani. Kebanyakan dari mereka yang hanya menghabiskan waktu untuk bermain dan focus pada mempersolek diri agar mendapat perhatian atau mendapat cinta dari lelaki pujaannya. Terlebih sekelas mahasiswa, jika tidak tahu betul apa yang ia harus jadikan prioritas, bahkan berfikiran hanya mengikuti kelas akademik tanpa mengikuti kegiatan non akademik lainnya.

Hal ini penulis kira sangat hangat untuk menjadi bahan perbincangan. Di mana ketika kita menyadari bahwa kita menginginkan sesuatu, maka kita harus tahu betul harga yang harus kita bayar akan sesuatu tersebut, yakni seberapa keras usaha yang harus kita tunaikan untuk mencapai tujuan tersebut. Dan tentunya hal yang kita ingin tuju memiliki konsekuensi tanggung jawab dan kewajiban atasnya. Ketika merasa bahwasannya wanita akan menjadi seorang ibu rumah tangga, yakni istri dan juga Ibu untuk anak-anaknya kelak, maka di sinilah letak kesadaran mereka akan tindakan yang perlu dilakukan untuk menempati posisi itu nantinya.

Teringat salah satu pidato Dr. TGH. M. Zainul Majdi MA atau yang kerap disapa TGB, beliau mengatakan, “Rasulullah SAW mengajarkan seorang muslimah untuk melengkapi dirinya, apa yang dengannya. Dia bisa memberikan pengabdian yang terbaik bagi suaminya”.

Hingga pada akhirnya sampai kepada kisah Sayyidah Khadijah RA, istri tercinta Baginda Nabi besar Muhammad SAW. Di mana dikisahkan bahwa beliau diberi kehormatan. Allah menitipkan salam kepada Khadijah melalui perantara malaikat Jibril kemudian kepada Nabi Muhammad SAW. Yang memberitahukan bahwa Khadijah telah dibuatkan rumah yang berasal dari mutiara, tidak lagi ada kebisingan, hanya ada ketenangan di dalamnya.

Bagaimana bisa Khadijah RA mendapatkan rumah dari mutiara tersebut. Itu semua dikarenakan Khadijah RA tidak pernah meninggikan suaranya kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW. Beliau selalu dengan lemah lembut melayani Nabi dan mengawal perjuangan Nabi.

Lalu bagaimana dengan kita sebagai wanita muslim? Tentunya tidak ada yang tidak ingin mendapatkan seperti yang didapatkan oleh Sayyidah Khadijah. Namun, tentunya kita harus dapat membayar harga sebagai tebusan untuk sesuatu yang kita inginkan. Usaha, ya berusaha menempa diri dari sejak dini untuk dapat mengolah emosional kita. Tentunya itu bukan hal yang mudah. Untuk itu ilmu pengetahuan yang teramat berperan dalam hal ini.

BACA JUGA  Doa hari ini Rabu 5 Agustus 2020

Di kala wanita remaja pada umumnya membicarakan tentang lawan jenis untuk menjadikannya pacar, atau teman dekat. Bukan hal yang terlalu berlebihan ketika ada sekelompok wanita membicarakan perihal rumah tangga atau sebut saja lelaki idaman untuk menjadi calon suaminya. Namun, di sini bukan berarti wanita yang membicarakan perihal rumah tangga sedini mungkin ingin cepat menikah. Melainkan, mereka pada dasarnya ingin mulai mempersiapkan diri dengan berbagai persiapan. Tentunya jika diingat kembali, banyak sekali aspek yang harus dipelajari oleh seorang wanita muslimah untuk menjadi perempuan terbaik bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya.

Ketika kita peka akan peran yang kita jalani saat ini, dan peran yang akan kita emban nantinya. Maka kita akan tahu betul tindakan-tindakan yang harus kita ambil. Yang di mana waktu-waktu yang kita lalui di setiap fase kehidupan yang kita jalani tidak terlewatkan begitu saja. Karena harus ada sesuatu yang kita targetkan untuk memperoleh sebuah hasil yang akan kita pertunjukan kelak untuk kemantapan peradaban.

Maksud penulis di sini adalah di mana ketika kita melewati fase dalam kehidupan, kita akan berusaha sebisa mungkin untuk melakukan segala sesuatunya yang terbaik dalam sudut pandang kita. Contoh saja, ketika dibangku sekolah, kita paham akan posisi sebagai siswa dan juga anak bagi orang tua. Maka kewajiban kita adalah untuk belajar dan mengukir prestasi sebanyak mungkin serta berprilaku yang santun terhadapa kedua orang tua. Disinilah letak pelatihan yang kita terima, sebab di masa yang akan datang, kitalah sebagai pembimbing calon-calon generasi berikutnya.

Tidak mudah untuk mendapatkan suatu pencapaian, atau mendapat suatu penghargaan. Tentu harus melewati berbagai rintangan dan tantangan hingga mendapatkan apa yang kita inginkan. Di situlah letak nilainya, dimana kita mampu memahami alur dari sebuah proses dan dengan pemahaman dari pengalaman pribadi yang kita terima itulah letak nilai yang sangat berharga. Yang akan kita persembahkan untuk generasi selanjutnya.

BACA JUGA  Mengenal Istri-istri Rosulullah Muhammad SAW (bagian 3)

Penulis ingin sedikit berbagi cerita, tentang kekuatan sedekah yang penulis telah buktikan sendiri. Saat itu penulis menduduki bangku kelas 2 SMA di salah satu Pondok Pesantren. Ketika membaca buku Ustaz Yusuf Mansur mengenai kekuatan sedekah, disaat yang sama ada tawaran untuk pergi ke pulau Jawa. Penulis sangat ingin mengikuti tawaran tersebut. Jika difikir secara logika tidak akan mungkin bisa terwujud sebab posisi penulis pada saat itu akan mengikuti ujian akhir semester dan harus melunasi pembayaran sekolah. Namun penulis sangat meyakini dengan kekuatan sedekah seperti yang dipaparkan oleh Ustaz Yusuf Mansur dalam bukunya. Dalam Al-Qur’an juga Allah telah memberikan petunjuk bahwa ikhtiar dan amal kita akan memberikan perubahan bagi kehidupan kita sebagai manusia.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS Rad: 11).

Hingga akhirnya penulis memutuskan untuk menyedekahkan seluruh uang belanja yang jumlahnya ratusan ribu dan penulis yakin Allah Maha mengabulkan doa hambanya.
“Dan Tuhanmu berfirman ‘berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu” (QS Al-Mukmin: 60).
Dengan niatan ingin melihat bumi Allah dari atas udara. Alhasil Allah yang Maha Pemurah mengabulkan hajat penulis, untuk dapat berangkat ke pulau Jawa. Ketika kembali ke Lombok, penulis juga dapat melunasi pembayaran sekolah dan mengikuti ujian akhir dengan lancar.

Yang penulis ingin sampaikan bahwa apapun yang kita cita-citakan atau hajatkan, dengan keyakinan Iman kepada Allah niscaya hal itu akan dikabulkan. Tentu keimanan tersebut harus selaras dengan amal, sebab iman tampa amal tidak memiliki makna apa-apa. Maka amalan sedekah ini bisa menjadi salah satu amalan yang mampu menghadirkan kebaikan dan jawaban atas doa kita kepada Allah.

Hal inilah yang teramat berharga untuk kita sampaikan nantinya, dengan pembuktian yang kita buktikan sendiri tentang kebesaran Allah SWT. Serta kekuatan keyakinan (Iman) dan Ikhtiar (usaha yang kita lakukan). Hal demikian akan menjadikan pecutan bagi generasi selanjutnya untuk memberikan mereka motivasi dalam melakukan hal-hal yang terlihat tidak mungkin, namun dapat terwujud atas kehendak Allah SWT sesuai dengan Ikhtiar, Doa dan Tawakkal kita kepada-Nya.

Editor: Amaq Himmawan