Cerpen Ke-21: Pelajaran di Jalan Jumat Malam

Cerpen Ke-21: Pelajaran di Jalan Jumat Malam

Cerpen Ke-21 Pelajaran di Jalan Jumat Malam

Malam itu, Jumat 23 Januari 2026, saya pulang setelah seharian mengajar dan menunaikan amanah sebagai guru tahfidz di SMP dan SMK Laboratorium Jakarta. Seperti biasa, lelah belum menjadi alasan untuk berhenti. Usai salat magrib hingga pukul 20.00 WIB, saya masih melanjutkan les privat Al-Qur’an dan tahfidz di rumah Fachri, siswa kelas VII SMP Laboratorium Jakarta—anak yang tekun dan penuh semangat.

Selesai mengajar, saya berpamitan kepada orang tua Fachri dan bersiap meluncur pulang menuju rumah di Perumahan Villa Gading Harapan 2 Blok A, Sriamur, Tambun Utara, Bekasi. Malam terasa tenang, jalanan tidak terlalu ramai, dan saya memperkirakan perjalanan akan berjalan lancar.

Namun sekitar delapan kilometer sebelum sampai rumah, laju motor mulai terasa berat. Saya sempat mengisi bensin di sebuah SPBU, dan di sanalah kecurigaan saya terjawab: ban motor depan kempes. Awalnya saya mengira bocor biasa. Tak jauh dari SPBU tersebut, saya menemukan bengkel kecil. Seorang mekanik memeriksa ban motor saya dengan teliti. Hasilnya cukup mengejutkan—ban dalam bocor di dua titik.

Yang lebih mengherankan, tidak ada paku atau benda tajam yang menancap di ban luar. Menurut penjelasan mekanik, masalahnya terletak pada ketidaksesuaian ukuran. Ban luar berukuran 18, sedangkan ban dalam yang terpasang berukuran 19. Perbedaan itu menyebabkan lipatan di dalam ban, yang lama-kelamaan menimbulkan kebocoran.

Saya terdiam. Ban dalam tersebut baru sekitar satu minggu lalu saya ganti di bengkel langganan saya di Pisangan—tempat yang biasa menangani perawatan motor saya, mulai dari ganti oli, menambah angin, hingga menyetel rantai. Dalam hati muncul pertanyaan: apakah ini murni kelalaian, atau ada unsur ketidaktelitian yang seharusnya tidak terjadi? Apa pun itu, malam itu menjadi pengingat bagi saya untuk lebih teliti, bahkan pada hal-hal kecil seperti memastikan kecocokan ukuran ban dalam dan ban luar.

Di tengah proses penambalan, hujan turun cukup deras. Sebenarnya setelah ban selesai ditangani saya bisa langsung pulang, tetapi hujan yang masih lebat membuat saya menunda keberangkatan. Apalagi saat itu saya membawa sekarung beras. Jika saya paksakan untuk tetap berjalan, sudah pasti beras tersebut akan basah dan rusak.

Menjelang hujan mulai mereda, saya bertanya kepada tukang bengkel apakah ada plastik besar untuk melindungi beras dari air hujan. “Ada,” katanya singkat. Saya pun diberi plastik besar, seperti plastik satu karung. Beras tersebut segera saya masukkan dan dibungkus dengan rapi. Alhamdulillah, beras itu aman dari tetesan air hujan.

Tak lama kemudian, hujan benar-benar melemah, tinggal gerimis kecil-kecil. Saya pun berpamitan, menyalakan motor, dan melanjutkan perjalanan pulang. Yang semula saya perkirakan akan tiba di rumah sekitar pukul 21.00 WIB, akhirnya baru sampai sekitar pukul 22.00 WIB.

Malam itu saya sampai di rumah dengan tubuh lelah, tetapi hati penuh pelajaran. Jalanan Jumat malam mengajarkan saya tentang ketelitian, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian kecil yang sering kali datang dari orang-orang sederhana. Dari sebuah ban bocor, hujan deras, dan plastik satu karung, saya belajar bahwa setiap perjalanan selalu membawa hikmah—asal kita mau berhenti sejenak untuk memahaminya.

Penulis : Marolah Abu Akrom 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA