Sinar5news- Jakarta -Hari ini Ahad, 13 September Pukul 09.50 wib. langit Jakarta ikut bersolek. Angin dari laut Jakarta membawa kabar: ada dua hati yang hari ini diikat bukan hanya oleh cinta, tapi oleh adat, doa, dan bunga- bunga yang bergoyang saksi.
Rica & Haikal resmi melangkah ke pelaminan dengan Adat Sasak Lombok, diiringi doa serta wajah kebahagian penuh kasih tepat pukul 09.30 WIB. Bukan sekadar akad. Ini pernikahan yang menari di atas singgasana para dewa.
Di balai panggung yang dihias kain tenun songket, warna emas dan merah marun menyala dan bunga kuning ke emasan. Dinding tembok panggung dibalut tabir putih suci bagai salju. Rica berjalan pelan, diapit _Inaq_ dan _Amaq_ mengenakan kebaya songket Lombok dan mahkota _subang_ yang berkilau seperti butir padi.
Haikal gagah dengan _pegon_ dan _dodot_ adat, keris kecil di pinggang sebagai tanda tanggung jawab seorang lelaki dalam budaya Sasak Lombok.
Terdengar _gendang beleq_ memanggil para dewa bumi. Terdengar doa _pembayun_ yang melantun, meminta restu Dewa Rinjani dan leluhur. Ada ritual _nyongkolan_ kecil di pelataran, iring-iringan membawa _bawing_ berisi beras, ayam, dan sirih — simbol bahwa rumah tangga adalah sawah yang harus ditanam bersama.
Saat ijab kabul terucap, hening.
Hanya suara ombak lautan Ancol di kejauhan dan isak bahagia ibu, keluarga dan tamu undangan.
“Qobiltu” Haikal menggetarkan tenda panggung. Tepuk tangan pecah. Doa dan airmata mengiringi. Beras kuning berhamburan, tanda keberkahan dan harapan agar rumah tangga ini subur seperti sawah Lombok di musim hujan.
Pukul 09.30 WIB bukan sekadar waktu.
Itu detik ketika dua nama menjadi satu marga. Ketika “aku” dan “kamu” berubah menjadi “kita” dengan restu adat dan doa.
Rica, gadis yang hatinya selembut pantai Pink. Haikal, lelaki yang janjinya sekuat batu di kaki Rinjani. Hari ini mereka tidak hanya menikah. Mereka mewarisi. Mewarisi cara orang Sasak mencintai: sederhana, gotong royong, dan setia sampai ke anak cucu.
Selamat menempuh hidup baru Rica & Haikal. Semoga seperti air di Aik Kalak — selalu jernih, selalu mengalir, dan selalu menumbuhkan. Semoga seperti tenun Lombok — tiap benang suka duka dirajut jadi satu kain indah bernama rumah.
_Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fil khair_ ( red)




