Oleh: Zulbajang
Bagi warga NWDI dan NW, Hultah telah menjadi bagian dari momen “sakral” yang dirayakan sekali dalam setahun. Ditambah dengan haul pendiri NWDI, NBDI, dan NW Almaghfurlah Maulanasyeikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid semakin memperkuat sakralitas dari acara ini.
Momen sakral yang ke 88 baru saja usai digelar. Acaranya berlangsung penuh khidmat dan syarat dengan ilmu. Para ulama dari Al Azhar Mesir turut dihadirkan memberikan mau’izoh hasanah di medan Hultah NWDI Pancor Lombok Timur.
Ada Syekh Dr. Sholahuddin Muhammad Asy-Syami. Ada Syekh Dr. Usamah Hasyim al Hadidi. Ada Syekh Dr. Hasyim al Kamil Hamid Musa serta tidak ketinggalan adalah Pimpinan Yayasan al Fachriyah Tangerang Banten Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan.
Sementra itu, jamaah yang hadir, berasal dari berbagai penjuru nusantara. Bahkan! ada perwakilan dari luar negeri. Mereka datang dari tempat-tempat yang jauh. Berkorban biaya, waktu, dan lain sebagainya untuk dapat menghadiri Hultah.
“Berbondong-bondong berfirqoh-firqoh. Setiap waktu setiap saah. Banjiri Pancor menuju madrasah. Seakan menuju ke kota Ka’bah,” demikian tulis al Maghfurlah Maulanasyeikh dalam buku Wasiat Renungan Masa.
Menurut hemat saya, kerelaan dan keikhlasan para jamaah yang hadir di medan Hultah didasari oleh satu kata yang memiliki makna sangat powerfull: Mahabbah atau rasa cinta.
Mahabbah kepada para ulama, mahabbah kepada perjuangan NWDI, mahabbah kepada al Maghfurlah Maulanasyeikh, mahabbah kepada zurriyat almaghfurlah Maulanasyeikh, dan mahabbah kepada sesama warga NWDI.
Dengan kecanggihan teknologi saat ini, bisa saja jamaah NWDI tidak perlu berlelah-lelah untuk datang langsung ke medan Hultah. Cukup dengan akses internet, sudah bisa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Hultah melalui platform digital yang menyiarkannya secara langsung.
Akan tetapi, dengan “mahabbah” tadi membuat kurang afdhol rasanya jika zohir tidak hadir secara langsung.
Selain itu, dengan hadir langsung, juga dapat merawat mahabbah itu sendiri.
Saya percaya bahwa hubungan emosional orang yang hadir langsung tidak akan pernah sama dengan orang yang mengikuti melalui teknologi. Secanggih apapun teknologi itu.
Di antara pesan-pesan Ketua Umum PB NWDI TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi di Hultah NWDI ke 88 yang terekam dalam ingatan saya adalah soal eksistensi dari NWDI hingga usianya sampai pada 88 tahun. Usia yang terbilang tidak sedikit.
Panjangnya usia NWDI ini dalam pandangan TGB tadi merupakan buah dari 2 ikhtiar yang telah ditempuh.
Ikhtiar pertama berasal hasil kerja kolektif dari seluruh jamaah dan jam’iyyah NWDI tanpa terkecuali.
Ikhtiar yang kedua berasal dari hasil menempuh “jalur langit” melalui doa-doa yang terdapat dalam Hizib Nahdlatul Wathan.
Selain soal eksistensi NWDI, TGB juga berpesan kepada seluruh jamaah, kader, dan jam’iyyah NWDI supaya bisa menjalin kolaborasi dengan siapapun dalam hal-hal yang dapat membawa kebaikan dan kebermanfaatan. Tidak menutup diri atau inklusif.
Sejauh yang pernah saya baca dari beberapa tulisan ataupun buku yang membahas tentang disruption, semuanya memiliki satu benang merah yang dapat dipakai untuk menghadapi dunia saat ini adalah kolaborasi. Hal ini senada dengan pesan yang disampaikan TGB.
Penutup, saya mengucapkan selamat dan berkah Hultah NWDI ke 88 di Pancor Lombok Timur. Semoga NWDI panjang umur. Daaiman Abada.
Pancor, 27 Agustus 2023


