Menyikapi Virus Corona Secara Islam

banner post atas

Sirus corona yang kabarnya sudah muncul di berbagai Negara dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat, nampaknya semakain memberikan pengaruh terhadap cara pandang masyarakat kepada virus corona, apalagi bila melihat media sosial yang sering memberitakan tentang keganasan dari virus tersebut.

Di televisi, koran, Ataupun media sosial lainnya seperti facebook, instagram, radio dan wa, virus corona menjadi pembicaraan yang sangat ramai dan menimbulkan cara pandang yang sangat pariatif.

Semakin memasyarakatnya berita tentang virus corona dikalangan masyarakat, memberikan pengaruh yang semakin dominan terhadap pemikiran dan keyakinan masyarakat terhadap virus corona.

Iklan

Mendengar berita tentang keberadaan virus corona yang sudah muncul diberbagai tempat, serta keganasan dari virus tersebut, menumbuhkan image di kalangan masyarakat bahwa virus itu bahaya dan mematikan, sehingga memunculkan rasa takut di kalangan sebagian orang. Rasa takut tersebut kemudian memberikan pengaruh yang kuat terhadap keyakinan (keimanan).

Pertanyaannya, apakah ada hubungan iman dengan virus corona? Jawabannya tentu sangat ada.

Ketika seseorang takut terhadap bahaya virus corona sehingga memunculkan kekhawatiran yang berlebihan, akan sangat berpengaruh terhadap eksistensi dan kualitas keimanannya.

Iman yang kuat akan selalu mengembalikan segalanya kepada Allah. Karena pada hakikat sebenarnya bahwa segala apapun yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali kepadanya jua. Dengan kata lain “Inna lillahi wainna ilaihi rojiun”. Maka dalam pandangan ini, virus tersebut adalah ujian dari Allah sebagai barometer untuk mengetahui sejauh mana kualitas keimanan dan keyakinan terhadapnya.

Berbeda dengan iman yang lemah, ketika melihat keganasan dari virus korona dia sudah takut dan panik, sehingga kepanikan tersebut menyebabkan lupa terhadap Allah. Dan lupa bawa virus tersebut juga merupakan ciptaan Allah SWT.

BACA JUGA  MENGUNJUNGI KYAI, KETUA PANITIA KONGRES : MINTA DOA DAN BAROKAH KYAI

Mari kita kembali mengkaji firman Allah tentang dialah sang pencipta dari segala sesuatu. Dan secara otomatis dia juga langsung sebagai pemilik tunggal langit dan bumi beserta apa yang ada padanya. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 29 dan ayat 284 Allah berfirman;

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ
شَيْءٍ قَدِير

Artinya : Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Memperhatikan potongan dua ayat diatas yaitu “مَا فِي الْأَرْضِ” apa yang ada di bumi, dan ” مَا فِي السَّمَاوَاتِ ” apa yang ada di langit, memberikan gambaran kepada kita bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan dan milik Allah. Virus corona ada di bumi, berarti juga termasuk ciptaan Allah. Maka pada hakikat sebenarnya tempat takut adalah Allah yang menciptakan virus corona.

Dan perlu untuk diperhatikan, bahwa sekejam apapu virus corona dia tidak bisa memberikan bekas apapun kecuali dengan izin Allah yang menciptakannya. Maka orang beriman memproteksi diri dari virus corona atau dari penyakit apapun namanya paling tidak dengan menggunakan dua cara:

BACA JUGA  KHUTBAH JUMAT EDISI, 13 DESEMBER 2019

Pertama; secara lahiriah, yaitu menerapkan pola hidup sehat, dengan memperhatikan keberhasilan lingkungan, kebersihan diri sendiri, dan selektif dalam mengkonsumsi makanan, serta memperhatikan berbagai hal yang terkait dengan hidup sehat.

Yang kedua; secara batiniah, yaitu meningkatkan kualitas ke imanan dengan mendekatkan diri kepada Allah, serta banyak menyebutnya. Fath.