Menuju HULTAH NW Ke-68 Menjawab Pertanyaan Motivasi Kelahiran NW Oleh: H.Muslihan Habib

banner post atas

Untuk motivasi kelahiran NW sebagai benteng mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jama`ah (ASWAJA), sejak awal pendiriannya Almukarram Maulana Syaikh menegaskan bahwa; “Saya mendirikan NW ini adalah sebagai alat mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jama`ah”. Oleh karena itu, eksistensi paham Ahlussunnah wal Jama`ah dalam teologi dan madzhab as-Syaafi`i dalam fiqih menjadi asas NW yang tidak boleh terpisahkan dan tidak boleh dirubah.

Bahkan, secara eksplisit Almukarram Maulana Syaikh pun berpesan dalam buku Wasiatnya, dengan mengatakan; “Asas NW jangan diubah, Sepanjang waktu sepanjang sanah, Ahlusunnah dalam aqidah, Madzhab Syafi`i dalam Syari`ah.”
Paham Ahlussunnah wal Jama`ah (ASWAJA) adalah postulat dari ungkapan Rasulullah SAW; “Maa ana `alaihi wa ashaabii”, yang berarati golongan yang mengikuti ajaran Islam sebagaimana diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah SAW dan shabatnya. Oleh karena itu, ketika kita kerucutkan tentang Islam Aswaja ala NW itu adalah Islam yang menganut konsep teologi yang dicetuskan oleh al-Imam Asy`ari dan atau Al-Imam Al-Maturidi dan menganut Madzhab al-Syaafi`i dalam bidang Fiqh dan menganut konsepnya al-Imam al-Ghazali dan atau Al-Junaidi al-Baghdadi dalam tasawuf. Dengan demikian, ketika seseorang yang mengaku warga NW dan keluar dari Islam Aswaja ala NW tersebut, maka secara otomatis tidaak termasuk golongan Aswaja ala NW.

Dari illustrasi sederhana tentang Islam Aswaja ala NW diatas, penulis pernah mendapatkan pertanyaan, apakah NW itu organisasi yang fanatisme madzhab dan anti tajdid?. Penulis jawab TIDAK. Oleh karena itu, untuk jawaban pertanyaan pertama, penulis menjawab bahwa NW itu, bukanlah fanatisme madzhab. Fanatisme itu sejatinya tidak bersumber dari madzhab. Dengan bermadzhab, justeru NW itu menentukan pilihan, yakni dengan memilih madzhab siapa yang dipakai dan diikuti. Secara otomatis, kita juga sadar dan akan menghormati orang lain yang menenntukan pilihan madzhabnya yang berbeda dengan kita. Lebih jauh, penulis katakan bahwa kalau mau jujur, fanatisme atau gerakan radikalisme di Indonesia itu muncul dari yang mengklaim dirinya kelompok modernis-anti madzhab dan mengatakan yang penting Islam, yang pada hakikatnya justeru mengukuhkan munculnya `madzhab baru`. Hal ini penting, supaya kita tidak termasuk individu yang gagal paham dalam konteks madzhab ini, maka perlu kita pahami juga bahwa para ulama pendiri madzhab itu adalah orang-orang yang memiliki nalar inklusif dan bukan eksklusif. Jadi mereka itu sangat terbuka dan toleran yang anti fanatisme.

Iklan
BACA JUGA  HIKMAH PAGI: INTISARI TAQWA Oleh: Drs. Ahmad Yani

Selain itu, dalam konteks bermadzhab, maka bermadzhab itu tidaklah selalu harus dipertentangkan dengan berijtihad, karena keduanya merupakan rangkaian yang selalu proporsional. Ijtihad itu sejatinya adalah`spirit pencarian dan penggalian` serta merupakan bagian `tak terpisahkan` dari bermadzhab. Oleh karena itu, bermadzhab berarti tidak alergi terhadap ijtihad. Dengan demikian, ruang berijtihad itu pun tetap terbuka, karena menutup pintu ijtihad bukanlah hakekat ajaran dalam sistem bermadzhab itu sendiri. Jika seseorang memiliki kemampuan dan kesungguhan, maka bermadzhab itu selalu mendapatkan ruang, karena semakin pesatnya kemajuan peradaban, maka semakin diperlukan banyak berijtihad.

Selanjutnya, untuk jawaban pertanyaan kedua, penulis mengatakan bahwa NW itu pun tidaklah organisasi yang anti tajdid (pembaruan). Justeru pendirinya, Almukarram Maulana Syaikh adalah seorang tipikal ulama pembaharu, sehingga beliau pun sangat terkenal sampai hari sebagai seorang pembaharu dalam bidang pendidikan di Lombok, NTB. Beliau juga termasuk pembaharu dalam tarekat, sehingga beliau menuyusun Tarekat Hizib Nahdltaul Wathan dan menyebutnya sebagai tarekat akhir zaman. Dengan demikian, perlu juga kita pahami bahwa bermadzhab itu, `tidak sama dengan anti tajdid` dan tadjid itu sendiri, tidaklah hanya bermakna sebagai upaya melestarikan agama dari pemalsuan, penyimpangan, dan pendistorsian, tapi tajdid juga berarti perbaikan dan reinterpretasi yang harus dicanangkan dan diimplementasikan secara metodologis dan sistematis. Dalam konteks ini, untuk menguatkan pemahaman kita tentang NW itu tidak anti tajdid, maka baik juga kita (NW) dapat memakai suatu kaidah yang sering dipakai oleh ormas NU yang mengatakan, “al-Muhaafadzatu `ala al-qaddimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga `barang lama` yang baik dan mengambil `barang baru` yang lebih baik).”

Adapun motivasi ketiga bagi Almukarram Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam melahirkan NW adalah untuk membangun spirit nasionalisme. Motivasi ketiga ini, selalu menarik pula untuk didiskusikan, karena kehadiran NW harus pula menjadi INDONESIA. Selain itu, mempertegas pula bahwa lahirnya NW itu, tidak semata-mata untuk menegakkan syiar Islam sebagai agama dan akidah ASWAJA an sich, tapi NW lahir dalam upaya menanamkan spirit nasionalisme. Ketika kita telisik, memang NW yang secara emberional terlahir dalam suasana dan kondisi sosio-historis dan heroik, baik dalam konteks penegakan agama Islam dan pembentukan semangat kebangsaan. Oleh karena itu, pilihan nama Nahdlatul Wathan (NW) yang berarti kebangkitan tanah air atau bangsa ini adalah sangat menampakkan aura dan spirit kebangsaan dalam nalar nasionalisme religius dalam jalinan paradigma kebangsaan yang dijiwai oleh nilai-nilai ke-Islaman. Lalu, pada titik ini, relasi antara agama dan negara memiliki hubungan yang simbiotik-mutualistik dan sinergis.

BACA JUGA  Wirid dan Tasyakuran Pahlawan Nasional

Almukarram Maulana Syaikh sendiri menyebut pemaknaan Nahdlatul Wathan itu pada dua makna filosofis sekaligus, yaitu membangun agama dan membangun negara. Hal ini, tentunya menunjuk pada keberadaan agama dan negara dalam posisi yang sama dalam satu tarikan napas. Dimana, NW itu adalah sebuah nama yang dimensinya membangun agama dan juga membangun negara. Hal yang senada disampaikan oleh Prof. Dr. Azyumardi, MA dengan mengatakan bahwa Nahdlatul Wathan itu bertumpu pada upaya-upaya untuk memadukan dan mensinergikan antara agama dan negara. Wallaau`alam.

SELAMAT HULTAH NW KE-68.
MAJU NW, MAJU DAN JAYA INDONESIA.