MENGENAL TAREKAT HIZIB NAHDLATUL WATHAN

banner post atas

Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, sebagai salah satu warisan ilmu bathin Maulana Syekh, terbentuk pada tahun 1964 melalui serangkaian proses yang panjang. Disebutkan ketika beliau menunaikan Ibadah Haji, tepatnya saat beliau tengah beribadah di Masjid Nabawi Madinah, Maulana Syekh didatangi oleh seorang yang kemudian diyakini sebagai Nabi Hidir AS dan menyuruhnya untuk membentuk tarekat. Tarekat mana kemudian diberinama Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, karena keterkaitan eratnya dengan Hizib Nahdlatul Wathan yang telah beliau susun semenjak Zaman Jepang.

Sebagai seorang yang memahami seluk beluk tarekat, Maulana Syekh cukup memahami kendala-kendala yang dihadapi oleh orang orang yang mengamalkan Tarekat. Beratnya persyaratan yang harus dipenuhi serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengamalkan terekat, menyebabkan orang-orang yang berminat mendalami tarekat mengurungkan niatnya. Apalagi bila ditambahkan kewajiban ‘uzlah (mengasingkan diri) dari hiruk pikuk kehidupan dunia pada waktu tertentu, walau uzlah ini juga tidak dilarang dalam Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan. Sadar akan kendala-kendala di atas, Maulana Syekh menyusun Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan secara ringka, praktis, tanpa mengesampingkan makna batinya.

Keringkasan bacaan yang berupa ayat Al-Qur’an, Hadits, do’a-do’a , tidak membutuhkan waktu yang lama dalam pengamalannya, setidaknya bila dibandingkan dengan tarekat-tarekat lainnya. Sementara aspek praktisnya tidak saja terletak pada kelonggaran persyaratan-persyaratan penerimaannya dan keluwesan dalam pengalamannya. Tarekat ini dapat diamalkan pada waktu-waktu khusus, sambil berjalan, bercocok tanam, berjualan, atau melakukan pekerjaan keseharian lainya.

Iklan

Karena praktisnya Tarekat Hizib Nahlatul Wathan, Maulana Syekh menyebutnya “Tarekat Akhir Zaman”, artinya tarekat yang cocok diamalkan bagi mereka yang selalu sibuk sebagaimana kondisi manusia saat ini. Maulana Syekh juga meramalkan bahwa Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan merupakan tarekat penutup dan tidak ada lagi tarekat
sesudahnya.

BACA JUGA  NW Dan NWDI Dalam Bingkai Nasionalisme

Praktisuya cara mengamalkan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, bisa dijadikan alternatif bertarekat bagi kehidupan modern. Dengan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, seseorang dapat melaksanakan tugas kesehariaanya tanpa ketinggalan akan kepuasan ruhaniyahnya
Dan sebaliknya, seseorang dapat hidup damai secara batiniyah dalam suasana kedekatan dengan Allah SWT, tanpa kehilangan atau terasing dari kehidupan dunia.

Kenyataan tersebut ternyata menarik minat berbagai kalangan untuk menerima ijazah Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, mulai dari petani, nelayan, pedagang, hingga kalangan profesional yang telah bersentaban dengan teknologi modern. Inilah yang kemudian mendorong Drs. Abdul Aziz, MA. Direktur Mapenda Depag RI sampai pada kesimpulan bahwa Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan mampu menghilangkan perbedaan antara orang tradisional dan orang modern dalam Islam.

Di sisi lain terdapat sisi-sisi kesamaan antara Tarekat. Hizib Nahdlatul Wathan dengan konsepsi Tasawuf Modern yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah. Menurut Dr. Nurcholish Madjid, “Tasawuf modern adalah sebuah penghayatan keagamaan batini yang menghendaki hidup aktif dan terlibat dalam masalah-masalah kemasyarakatan. Sesekali menyingkirkan diri (uzlah) mungkin ada baiknya, tapi jika hal itu dilakukan untuk menyegarkan kembali wawasan dan meluruskan pandangan, yang kemudian dijadikan titik tolak dalam pelibatan diri dalam aktivitas yang lebih segar. Kelonggaran-kelonggaran dalam pengamalan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan dimaksudkan agar orang dapat senantiasa melibatkan diri dalam berbagai tugas kemasyarakatan. Sedangkan tidak adanya larangan dan perintah ber’uzulah dalam. Tarekat. Hizib Nahdlatul Wathan menandakan kebolehan untuk dilakukan sewaktu-waktu bila dianggap perlu. Ini berarti bahwa Tarekat Hizib Nahdlatul, walau perlu ditelusuri lebih jauh lagi, bisa dipandang sebagai Tarekat Modern.

Dewasa ini, Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan telah berkembang di berbagai pelosok tanah air dan beberapa tempat di luar negeri seiring perkembangan organisasi Nahdlatul Wathan, seperti di Nusa Tenggara Barat, Bali, Sulawesi, Kalimantan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Riau Batam, Malasyia, Brunai Darussalam, Makkah Al-Mukarramah dan lain-lain.

BACA JUGA  Dakwah TGB (45) PESAN DAMAI DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Diambil dari kata pengantar Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang ditulis oleh H.Muslihan Habib, M.Ag dkk. Fath.