Dulu kita mencari ketenangan lewat lagu Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Opick. Sekarang, kenapa kita justru mencari ketenangan lewat tombol hati? Ada apa dengan yang sekarang? Apa sudah saatnya Opick merevisi judul lagunya? Jadi tombol hati ada banyak perkaranya.
Pagi tadi, saya ke kantor pondok untuk menyelesaikan beberapa tugas. Setelah semuanya selesai, terbersit dalam pikiran saya untuk menonton satu video mas Tere Liye tentang kepenulisan. Tere liye adalah seorang penulis buku terkenal, yang karya-karyanya banyak sekali menggugah, menumbuhkan minat baca, serta memberi inspirasi bagi banyak orang, dan saya termasuk yang ngefans ke beliau.
Lanjut, di tengah asyiknya menonton video pembelajaran itu, tiba-tiba muncul sebuah iklan Telkomsel. pada awalnya persepsi saya tentang iklan itu ya sama dan biasa saja. Tapi iklan kali ini terlihat berbeda, bukan hanya dari sisi visual, tapi juga dari pengisi suaranya.
Saya benar-benar langsung tertarik ketika mendengar kalimat pertamanya “Dulu kita mencari ketenangan lewat lagu tombo ati. Sekarang kenapaa kita mencari ketenangan lewat tombol hati? darrr. Disitu saya tersenyum sendiri, dan memutuskan untuk lanjut menonton video iklannya sampai selesai.
Akhirnya, saya merasakan bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh iklan tersebut begitu dalam. Saya yakin orang-orang yang menontonnya pun akan menemukan makna, jika mampu memahaminya dengan baik.
“Tombol hati” yang dimaksud di sini adalah tombol yang sering kita jumpai di media sosial. Tombol yang kita tekan ketika hati merasa suka, senang, girang, atau merasa cocok dengan sebuah konten yang disuguhkan.
Dalam iklan itu ada kalimat yang cukup menggelitik:
“Dari yang rela stop kontak, demi ngecek likes deket stop kontak. muji opor istri padahal opportunity biar dikasih hati. Atau yang ngasih takjil, tapi take konten berjilid-jilid. Dan yang jumlah rokaatnya, kalah banyak sama jumlah story nya. Padahal banyak kok yang bisa ngisi hati kita selain tombol hati.”
Lantas, ketika kita mengejar tombol hati, apakah hati kita benar-benar terisi? Apakah memenuhi hati sesederhana mengumpulkan tanda suka?
Atau justru hati menjadi penuh ketika kita menjalani Ramadhan sepenuh hati?
Bukan dengan bukti tayang, tapi dengan bukti sayang. Bukan dengan verifikasi, tapi dengan ibadah sepenuh hati.
Iklan best 2026.
Terlihat biasa tapi penuh makna.
Oke. Selamat menunaikan ibadah puasa☺
Penulis: Istariadi


