oleh Zulkarnaen
Jawabannya iya, jika pertanyaannya adalah adakah perbedaan mahasiswa pada umumnya dengan mahasiswa dalam kacamata HIMMAH NW. Inilah alasan tulisan ini ditulis—untuk menjelaskan hal tersebut. Tentu. Mahasiswa dan HIMMAH NW, dua hal yang memiliki kajian tersendiri. Sebagaimana umumnya, kata mahasiswa untuk banyak orang diingatkan pada Gerakan 98—saya termasuk orang yang seperti itu. Gerakan 98 kemudian menjadi referensi praksis sematan agent of social control terhadap mahasiswa—meskipun saya tak begitu tahu siapa yang memberikan sematan ini. Mungkin karena bukan Gerakan mahasiswa Indonesia yang mengawali Gerakan semacam ini, tapi mahasiswa jauh di sana di Eropa—beberapa referensi menyebut mahasiswa Amerika adalah yang pertama.
Kalau bicara Gerakan 98, mungkin tidak berlebihan jika saya katakan kalau konstruksi berpikir mahasiswa di belakang Gerakan ini adalah kiri—kata kiri lebih enak saya sebut daripada menyebut founder pemikiran ini, tepatnya Karl Marx. Gerakan semacam ini kemudian dikonsepkan para konseptor soal mahasiswa yang basisnya realitas mahasiswa. Mereka kemudian menyebut mahasiswa sebagai iron stock, agent of change, guardian of value, agent of social control dan lain seterusnya. Sematan semcam inilah yang banyak disebut orang kepada mahasiswa—jika anda googling, anda akan menemukan ini di banyak artikel.
Hal yang penting diingat kemudian soal konsep, tentu ia merupakan produk dari sebuah konteks—sebuah pemikiran merupakan sebuah konsep dari realitas yang mengada di manusia. Inilah sekaligus yang menjadi pembeda terhadap apa yang saya ingin jelaskan di awal—soal perspektif HIMMAH NW tentang mahasiswa. Rumusnya umum dan sangat sederhana semacam tukang yang mewarnai tembok—tembok kemudian berwarna karena warna itu. Begitu juga dengan soal ini. Ada pengaruh HIMMAH NW terhadap bagaimana mahasiswa seharusnya. Jika Eropa identik dengan paradigma realisme kritis yang kemudian menentukan intrepretasi terhadap bagaimana seharusnya mahasiswa, maka paradigma yang dianut HIMMAH NW urut pasti menentukan deskrpsi mahasiswa juga.
Sehingga saya minta izin untuk menjelaskan sedikit soal HIMMAH NW—murni implikasi dari kebutuhan untuk menjelaskan tulisan ini. HIMMAH NW adalah salah satu badan otonom yang dimiliki oleh Nahdlatul Wathan yang kemudian disingkat dengan NW. HIMMAH NW menjadi laboratorium kaderisasi NW sendiri—bisa dibilang iron stock-nya NW di masa depan. NW sendiri dalam Bahasa pendirinya disebut sebagai sebuah kapal yang digunakan untuk bermanfaat untuk Islam dan Negara—ia adalah salah satu opsi sebagai jalan untuk bermanfaat kepada manusia. HIMMAH NW secara absolut mengikuti pandangan hidup NW, dalam hal ini nilai-nilai ke-Islam-an. Sampai di sini, kita bisa memahami bahwa nilai ke-Islam-an yang kental terhadap mahasiswa di HIMMAH NW—Eropa dengan Realisme kritisnya, HIMMAH NW dengan nilai ke-Islam-annya.
Pendiri HIMMAH NW dalam sejarahnya melakukan Gerakan atas dasar nilai-nilai ke-Islam-annya. Kata keimananlah yang menjadi bahan bakar Gerakan beliau, tepatnya mencintai negara adalah Sebagian daripada iman—saya kurang ingat apakah ini hadits apa tidak, namun inilah bahan bakar yang paling radikal jika ingin ditelusuri. Gerakan yang berdasarkan hal ini sebenarnya tak hanya HIMMAH NW, namun organisasi tertua di bangsa ini juga memiliki kesamaan dalam hal semangat Gerakan untuk agama dan negara—semisal HMI.
Sehingga mahasiswa dalam kacamata HIMMAH NW bernuansa sacral, bukan provan sebagaimana deskripsi Eropa terhadap mahasiswa. Sekaligus inilah yang membedakan deskripsi mahasiswa pada umumnya dengan apa yang di dalam pikiran HIMMAH NW. Hal berikutnya kemudian yang perlu untuk dipahami oleh setiap yang ingin tahu soal ini adalah soal Islam seperti apa yang dianut oleh HIMMAH NW. Inilah yang akan mengantarkan deskripsi yang lebih komperhensif, bahkan mungkin tak hanya itu, hal teknispun soal Gerakan bisa diprediksi jika memahami soal itu.




