Kultum Tarawih – Hari Ke-4

Kultum Tarawih – Hari Ke-4

Ikhlas: Puncak Kekuatan Jiwa dan Ketulusan Cinta

Muqoddimah

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْإِخْلَاصَ رُوْحَ الْأَعْمَالِ، وَسِرَّ قَبُوْلِ الطَّاعَاتِ عِنْدَ ذِي الْجَلَالِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه،ُ الْمُطَّلِعُ عَلَى ضَمَائِرِ الْقُلُوْبِ وَالْأَحْوَالِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ مَنْ أَخْلَصَ لِلّٰهِ فِي الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ آلٍ. أَمَّا بَعْدُ.

Isi Pidato

Hadirin jamaah shalat tarawih yang dirahmati Allah,

Kita telah memasuki malam keempat. Jika pada hari-hari sebelumnya kita telah membangun pondasi niat, kepedulian sosial, dan kecintaan pada diri sendiri, maka malam ini kita sampai pada inti dari semua itu, yaitu Ikhlas. Ikhlas adalah “ruh” dari setiap ibadah kita. Tanpa ikhlas, ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan ini hanyalah raga yang tak bernyawa, bagaikan patung yang indah namun tidak memiliki ruh.

Dalam konteks “Ramadan Berdampak”, ikhlas adalah wujud cinta yang paling murni. Seseorang yang ikhlas melakukan sesuatu bukan karena ingin dipuji manusia, bukan karena ingin dianggap saleh, melainkan semata-mata karena hatinya telah terpaku pada cinta kepada Allah SWT. Inilah kekuatan jiwa yang sesungguhnya: ketika penilaian manusia tidak lagi mampu menggoyahkan semangatnya dalam beribadah.

Jamaah sekalian yang berbahagia,

Mengapa ikhlas menjadi sumber kekuatan jiwa? Karena orang yang ikhlas adalah orang yang merdeka. Ia tidak diperbudak oleh pujian, dan tidak pula tumbang karena hinaan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang perintah untuk beribadah dengan penuh keikhlasan:

وَمَآ أُمِرُوْٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

(Wa mā umirū illā liya’budullāha mukhliṣīna lahud-dīn)

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas adalah saat kita berpuasa besok hari, meski tidak ada satu pun manusia yang melihat kita makan di tempat tersembunyi, kita tetap menahannya. Mengapa? Karena jiwa kita kuat dengan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Cinta kita kepada Allah membuat kita merasa “cukup” dengan perhatian-Nya saja.

Dahsyatnya Dampak Keikhlasan

Seorang hamba yang memiliki kekuatan jiwa melalui keikhlasan akan mendapatkan perlindungan langsung dari Allah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang sangat menyentuh hati:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ

(Innallāha lā yanẓuru ilā ajsādikum wa lā ilā ṣuwarikum wa lākin yanẓuru ilā qulūbikum)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa yang menentukan “dampak” Ramadan kita bukanlah berapa juz Al-Qur’an yang kita baca secara fisik, atau berapa jam kita berdiri tarawih secara lahiriah, melainkan seberapa besar kadar cinta dan keikhlasan yang tersimpan di dalam hati saat melakukannya. Keikhlasan inilah yang akan membuat amalan yang kecil menjadi sangat besar di mata Allah, sementara amalan yang terlihat besar bisa menjadi debu yang beterbangan jika kehilangan ruh ikhlasnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ikhlas memang bukan perkara mudah. Ia adalah perjuangan batin yang berlangsung sepanjang hayat. Namun, Ramadan adalah waktu terbaik untuk melatihnya. Di bulan ini, kita diajak untuk “menyembunyikan” ibadah kita. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang rahasia antara hamba dan Tuhannya.

Jika kita sudah terbiasa ikhlas dalam puasa, maka kekuatan jiwa itu akan menular ke amalan lainnya. Kita akan lebih ringan memberi sedekah secara sembunyi-sembunyi, lebih khusyuk salat malam saat orang lain tidur, dan lebih sabar menghadapi hinaan orang lain. Kenapa? Karena jiwa kita sudah memiliki pondasi yang kuat: “Cukuplah Allah bagiku sebagai saksi dan pemberi balasan.”

Penutup

Di malam keempat ini, mari kita bersama-sama berdoa agar Allah membersihkan hati kita dari penyakit Riya’ (ingin dipuji) dan Sum’ah (ingin didengar). Mari kita jadikan setiap tarawih kita, setiap butir nasi sahur kita, dan setiap tetes keringat kita di siang hari esok sebagai bukti cinta yang tulus.

Ingatlah, teman-teman… kekuatan jiwa yang bersumber dari keikhlasan tidak akan pernah terkalahkan oleh situasi duniawi apa pun. Semoga Ramadan kali ini benar-benar berdampak dengan menjadikan kita pribadi yang lebih tulus, lebih tenang, dan lebih kuat karena cinta kita hanya untuk Allah semata.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA