Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
الحمد لله رب العالمين. الذي فرض علينا صوم رمضان، ورزقنا صحة وعافية لفعله. والصلاة والسلام على سيدنا محمد الذي قال: انما الاعمال بالنية، واله وصحبه اجمعين اما بعد
Yang terhormat : Pengurus Masjid…., para hujjaj, para asatidz dan segenap jamaah shalat isya dan tarawih yang dirahmati Allah SWT.
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat sehat dan kesempatan sehingga bisa hadir di masjid yang penuh keberkahan ini untuk sama-sama melaksanakan tugas kita sebagai orang yang beriman yaitu shalat Isya dan salat tarawih secara berjamaah. Dia juga telah memberikan kita hati sebagai salah satu sarana untuk beribadah kepadanya.
Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang mulia yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang telah mengajarkan kepada kita tentang begitu pentingnya memperhatikan niat dalam melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Puasa Ramadan adalah kewajiban yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat yang sudah mukallaf atau sudah balig, dilaksanakan setiap bulan Ramadhan dalam satu tahunnya.
Siapa pun orangnya, baik itu dari kalangan ningrat, pejabat ataupun orang biasa, kalau sudah sampai kepada umur balig, maka wajib baginya berpuasa Ramadan yaitu menahan diri dari makan, minum dan menahan syahwat. Bukan sekedar itu, mereka juga harus berusaha menahan diri dari melakukan maksiat dzahir dan batin supaya memperoleh kesempurnaan pahala ibadah puasa Ramadhan.
Dalam proses menahan diri, orang yang berpuasa hendaknya juga memperhatikan hal yang sangat penting dalam bagian puasa Ramadan yaitu niat berpuasa atau niat melakukan puasa Ramadan. Karena niat merupakan salah satu penyebab sah atau tidaknya dalam melaksanakan puasa Ramadan.
Maka, jika dalam memasang niat puasa Ramadan tidak sesuai dan tidak benar, akan berpengaruh kepada tidak sahnya pelaksanaan ibadah puasa yang dilakukan oleh seseorang.
Sehebat apapun orang berpuasa dan bisa secara maksimal menjaga diri dari hal yang membatalkan puasa Ramadan atau berbagai hal yang bisa mengurangi nilai pahala Ramadan, tetap saja puasa itu tidak terhitung sah di hadapan Allah apabila niat dalam melakukannya tidak benar. Oleh karena itulah, niat merupakan bagian terpenting yang harus diperhatikan oleh orang yang berpuasa.
Ma’asyiral muslimin rahimahullah
Niat puasa merupakan salah satu dari kegiatan hati. Artinya, bahwa dalam memasang niat puasa tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan saja, akan tetapi harus dikukuhkan dalam hati bahwa esok harinya akan berpuasa Ramadan.
Tentang begitu pentingnya niat dalam melakukan ibadah, Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab, Beliau bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya amal perbuatan itu sesuai dengan niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang akan memperoleh menurut apa yang diniatkan. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis di atas menjelaskan tentang sahnya sebuah amal bergantung kepada niat, yaitu jika niatnya sesuai dan benar, maka amal ibadah itu terhitung benar. Akan tetapi, jika niatnya tidak benar dan tidak sesuai, maka amal yang dilakukan itu tidak sah. Karena bahwasanya setiap amal yang dilakukan oleh seseorang itu menurut apa yang diniatkan.
Niat yang sesuai di sini maksudnya adalah sama antara niat yang dipasang dengan ibadah yang akan dilakukan. Misalnya saja dalam pelaksanaan puasa Ramadan, maka niat yang dipasang adalah niat hendak melaksanakan puasa Ramadan. Adapun contoh yang tidak sesuai ialah misalnya esok harinya mau melaksanakan puasa Ramadan akan tetapi niatnya melakukan puasa nazar, maka puasa Ramadan yang dilakukan tidak sah karena tidak sesuai dengan niatnya.
Kemudian yang dimaksud dengan sahnya niat adalah niat yang dipasang saat hendak melakukan puasa Ramadan dipasang sesuai dengan ketentuan pokok dalam berniat yaitu berta’yin (menentukan) puasa yang dilakukan. Misalnya dengan menyebutkan dalam unsur niat “Saya niat puasa Ramadan besok karena Allah”.
Termasuk juga dalam bagian sahnya niat adalah memasang niat puasa pada malam harinya yaitu dimulai kebolehannya dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar. Atau dalam bahasa sederhananya dari masuk waktu Maghrib sampai masuk waktu Subuh.
Ketentuan tentang keharusan menetapkan niat pada malam harinya disebutkan dalam Hadits yang diriwayat oleh Hafshah, bahwa Nabi bersabda:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. (HR. Baihaqi dan Daruquthni).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Maka, jika ada kekhawatiran terhadap lupa dalam memasang niat, sebaiknya niat puasa dipasang dari awal malam atau saat baru masuk waktu Maghrib, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi lupa memasang niat puasa saat tengah malam atau saat makan sahurnya.
Kaitannya dengan antisipasi lupa dalam memasang niat puasa pada malam harinya, para ulama menyarankan supaya mengambil langkah waspada dengan memakai pendapat Mazhab Maliki yang membolehkan memasang niat diawal Ramadhan untuk menjalankan ibadah puasa satu bulannya.
Dengan memadukan dua niat, yaitu niat menjalankan puasa Ramadan sebulan penuh pada awal bulan, dan memasang niat puasa di setiap malamnya, bisa dijadikan solusi untuk mengatasi sering lupa dalam memasang niat puasa Ramadan.
Demikian kultum yang bisa saya sampaikan pada malam ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua.
Wallahul mafiq Wal Haadi ilaa Sabilirrasyad
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Oleh: Muhammad Fathi


