Sejarah telah membuktikan bahwa anak muda dalam setiap peristiwa besar selalu menjadi pelopor utama. 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan merupakan peristiwa besar bersejarah yang dipelopori oleh sosok anak muda yang bernama Bung Tomo yang kala itu berusia 25 tahun. 17 Agustus yang merupakan tanggal sakti sebagai titik awal kemerdekaan Republik Indonesia juga dipelopori oleh sosok tokoh muda yang bernama Bung Karno yang dikala itu ketika diangkat menjadi Presiden pertama Indonesia berusia 44 tahun. Dari sekian rangkaian peristiwa besar tersebut, setidaknya menunjukkan bahwa usia muda merupakan usia yang sangat produktif.
Para tokoh bangsa ini telah memberikan contoh baik kepada kita sebagai generasi penerus, bahwa diusia muda kita harus mampu mempersembahkan yang terbaik untuk nusa dan bangsa. “Berikanlah aku 100 orang tua maka aku akan cabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 orang pemuda maka aku akan goncangkan dunia” begitulah semangat yang diberikan oleh Sang Proklamator kepada anak muda bangsa ini.
Lantas disaat wabah virus covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini. Apa yang sudah dipersembahkan oleh anak muda.?
Dalam menyikapi pertanyaan seperti ini saya meyakini bahwa anak muda hari ini punya cara untuk menjawabnya.
Pada konteks ke-NTB-an misalnya, para pemudanya punya ragam cara dalam melakukan gerakan sosial dalam rangka membantu pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19.
Ada para pemuda remaja masjid iuran mengumpulkan dana guna membeli sabun, ember hingga gentong tempat cuci tangan untuk kemudian disebarkan dibeberapa titik gang pintu masuk rumah warga dilingkungannya, seperti yang terjadi di lingkungan Marong Jamak Selatan yang diinisiasi oleh para remajanya.
Ada pula perkumpulan pemuda yang berupaya mengumpulkan donasi yang kemudian digunakan untuk membeli Masker untuk masyarakat, APD (Alat Pelindung Diri) untuk tenaga medis, hingga paket sembako yang diperuntukkan khusus untuk masyarakat yang terdampak covid-19 serta keluarganya, seperti yang dilakukan oleh teman-teman Pemuda NW NTB beberapa pekan terakhir.
Bahkan ada pula kelompok anak muda yang melakukan penyemprotan cairan disinfektan keliling ke beberapa lingkungan hingga desa yang masuk zona merah berdasarkan data dari satgas covid-19 daerah NTB, seperti yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kreatif yang tergabung di lembaga LAZIS Melontar bekerjasama dengan ATAP NTB.
Disisi yang lain tidak sedikit pula perkumpulan anak muda yang bergabung dalam gerakan mahasiswa memilih cara yang berbeda dalam memberikan kontribusi pemikiran terhadap penanganan covid-19 yakni menjadi mitra kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tidak jarang dari sekian kritikan yang mereka lontarkan menjadi bahan evaluasi pemerintah hingga memunculkan kebijakan yang produktif.
Dari sekian potret gerakan sosial yang ditunjukkan oleh berbagai elemen anak muda tersebut, menunjukkan bahwa jiwa pelopor anak muda akan selalu tetap ada pada setiap periode zaman.
Dari setiap periode sejarah, anak muda selalu muncul dengan karakteristik sesuai dengan situasi dizamannya. Sehingga tidaklah tepat jika kita menyamakan antara pemuda di era sebelum reformasi dengan pemuda pasca reformasi. Sebab situasi yang di hadapi amatlah berbeda dan memiliki karakteristiknya masing-masing.
Betapapun itu harus di akui bahwa peran anak muda tidak bisa terpisahkan dalam setiap perjalanan sebuah bangsa. Bahkan bangsa yang besar seperti Indonesia menemukan momentum awal kemerdekaannya justru lahir dari pemikiran dan gerakan anak muda saat itu. Kita berharap kedepan anak muda terus berkontribusi besar terhadap perubahan dan kemajuan bangsa, seperti yang telah dicontohkan oleh para pendahulunya. Tentu kita berharap pemerintah juga hadir ikut serta berkontribusi untuk anak muda dengan memberikan ruang-ruang pengabdian yang produktif untuk mereka. Bukan justru lari dari tanggung jawab sebagai pemimpin bangsa dan negara yang telah di angkat oleh rakyatnya.
Mataram 10 Mei 2020




