Kisah kaburnya Kyai haji muhammad suhaidi dari Perjuangan Nahdlatul Wathan

banner post atas

Pada tahun 1989, dimana pada saat itu perekonomian sedang sangat sulit dirasakan oleh Kyai Haji Muhammad Suhaidi. Dapat makan saja sudah sangat senang apalagi lebih dari itu.

Kesulitan yang diderita oleh Kyai Haji Muhammad Suhaidi bukan saja karena sulitnya memenuhi kebutuhan pokok pribadinya, akan tetapi lebih dari itu. Kyai Haji Muhammad Suhaidi harus memikirkan bagaimana menghidupi lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan yang telah dirintis, atas amanah dari Maulana Syaikh.

Memikirkan bagaimana menghidupi perjuangan, berarti memikirkan biaya operasional lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan yang meliputi pemenuhan kebutuhan pokok para guru yang mengajar di lembaga tersebut.

Iklan

Karena sangat bingungnya Kyai Haji Muhammad Suhaidi. akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan sementara lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan yang sedang dirintisnya.

Setelah tekadnya bulat, diapun menyampaikan niat kepergiannya untuk sementara waktu kepada para guru yang mengajar di lembaga pendidikan yang sedang dirintisnya itu. Jelas respon para guru menolak kepergiannya. Akan tetapi karena niatnya sudah bulat, dia tidak begitu menghiraukan larangan para guru yang tidak mau melihatnya pergi untuk sementara waktu.

Nampaknya tekad yang bulat ingin pergi sudah tidak bisa dibendung.

Malam harinya sebelum kepergian Kyai Haji Muhammad Suhaidi, beliu bermimpi bertemu dengan Maulana Syaikh dalam tiga hari berturut-turut.

Disinilah allah menujukkan karomah Maulana Syaikh. bagaimana seorang guru mursyid memberikan bimbingannya dari jarak jauh kepada muridnya yang sedang dalam kebingungan.

Adapun bentuk bimbingan dari jarak jauh diberikan melalui pertemuan dan teguran lewat mimpi, dan pertemuan langsung dalam keadaan setengah sadar.

Mimpi yang pertama Maulana Syaikh mendatanginya dengan membawa sorban hijau sambil diayunkan ke arah Kyai Haji Muhammad Suhaidi dan mengisyaratkan untuk tidak pergi meninggalkan eNWe-nya.

BACA JUGA  POTRET YAYASAN MI`RAJUSH SHIBYAN NW PONDOK PESANTREN NAHDLATUL WATHAN JAKARTA Oleh : H.Muslihan Habib "Pendiri Pesantren Terdampar di Tanah Betawi"

Mimpi yang kedua Maulana Syaikh mendatanginya dengan membawa tongkat sambil diayunkan ke arah Kyai Haji Muhammad Suhaidi dan mengisyaratkan untuk tidak pergi meninggalkan eNWe-nya, dan Maulana Syaikh menulis pada dinding kamarnya dengan tulisan “Jangan Tinggalkan NW-mu”.

Adapun pertemuan yang ketiga dengan Maulana Syaikh adalah antara tidur dan jaga. Dimana keadaan Kyai Haji Muhammad Suhaidi adalah antara sadar di kehidupan nyata dan tidak sadar dalam keadaan mimpi, dimana Maulana Syaikh mendatanginya dengan membawa perempuan yang sangat tua renta. Setelah keduanya berada dihadapannya, kemudian perempuan tersebut duduk dalam keadaan kemaluannya terbuka dihadapan Kyai Haji Muhammad Suhaidi, kemudian Maulana Shaikh menyuruhnya mengambil sesuatu di kemaluan perempuan tua tersebut.

Pertama kali Kyai Haji Muhammad Suhaidi mengambil sesuatu dari kemaluan perempuan itu, keluarlah kotoran, sehingga Maulana Syaikh memerintahkan untuk dibuang.

Kedua kalinya beliau kembali mengambil sesuatu dari kemaluan perempuan tua tersebut, keluarlah nanah. Maulana Syaikh kembali memerintahkannya untuk dibuang

Kembali yang ketiga kalinya beliau mengambil sesuatu dari kemaluan perempuan itu, keluarlah air keruh. Maulana Syaikh menyuruhnya untuk membuangnya lagi.

Yang kempat kalinya beliau kembali melakukan hal yang sama, maka keluarlah ular, Maulana Syaikh pun kembali menyuruhnya untuk dibuang.

Kemudian pengambilan yang kelima kalinya, beliu diperintah oleh Maulana Syaikh untuk mengambilnya, karena yang keluar adalah lambang eNWe bersinar lima disertai dengan bau yang sangat harum. Maulana Syaikh mengatakan ” ini yang kamu ambil”.

Setelah kejadian tersebut Kiyai Haji Muhammad suhaidi tidak berani lagi ingin meninggalkan perjuangan Nahdlatul Wathan.