Khutbah Jum’at Edisi 4 April 2025 “Makna Syawal Yang Sesungguhnya”

Khutbah Jum’at Edisi 4 April 2025 “Makna Syawal Yang Sesungguhnya”

 

بِسْمِ اللهِ وَبـِحَمْدِهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفٰى، وَسَلاَمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللهُمّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَارْحَمْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَانْشُرْ وَاحْفَظْ نـَهْضَةَ الْوَطَنِ فِى الْعَالَمِيْنَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Kaum muslimin sidang jamaah jumat yang berbahagia, Rahimakumullah.

Puji dan syukur Alhamdulillah marilah kita sampaikan kehadirat Allah Robbul’izzati, pada kesempatan jumat ini kita kembali dapat melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu shalat Jumat secara berjamaah di masjid yang kita cintai ini. Shalawat dan salam marilah kita sampaikan kepada uswatun hasanah kita yaitu baginda nabi besar Muhammad SAW. Juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya, semoga kita semua yang hadir di masjid ini, kelak di hari kiamat mendapatkan syafaat dari beliau. Aamiin.

Mengawali khutbah singkat pada kesempatan ini, sebagaimana biasa khatib berwasiat kepada diri pribadi saya dan kepada seluruh jamaah, marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa yaitu melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Hadirin jamaah kaum muslimin yang berbahagia rahimakumullah

Alhamdulillah setelah melalui berbagai macam ujian dan cobaan selama melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, akhirnya kita memasuki bulan Syawal. Untuk merayakan kemenangan kita, maka pada bulan Syawal ini tepatnya tanggal 1 Syawal, kita melaksanakan salat Idul Fitri di berbagai tempat yang memungkinkan seperti masjid, mushola, tanah lapang dan lain sebagainya. Umat Islam seluruh dunia meluapkan kegembiraannya dengan mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid. Kemudian puncaknya yaitu melaksanakan ibadah salat Sunnah Idul Fitri yang dilaksanakan secara berjamaah.

Sesuai dengan namanya Syawal yang merupakan bulan ke 10 dalam kalender Islam memiliki arti yaitu peningkatan. Kenapa dikatakan peningkatan? Karena kita sudah melakukan berbagai macam latihan secara spiritual dan secara sosial selama satu bulan di bulan suci Ramadan. Dengan begitu keras dan ekstranya latihan-latihan tersebut, sehingga wajar mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Semua orang Islam yang benar-benar mengisi hari demi hari dengan aneka ibadah pada Bulan Ramadan, pasti akan merasakan adanya suatu peningkatan yang luar biasa. Tetapi bagi mereka yang tidak mengikuti proses latihan secara benar dan intensif, maka tidak akan merasakan peningkatan apapun, bahkan biasa-biasa saja dan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan sebelumnya.

Melalui latihan mental spiritual secara intensif tersebut, diantara yang paling mengalami peningkatan adalah dalam hal ibadah yang telah disyariatkan kepada kita, seperti salat, membaca Quran, dzikir dan doa. Inilah empat ibadah spiritual yang paling dirasakan mengalami peningkatan oleh karena kesungguhan kita berlatih selama bulan suci Ramadan. Apapun bentuk godaan, tantangan dan ujian yang kita alami selama beribadah, kita berusaha menghadapinya dengan penuh kesabaran, sehingga hawa nafsu yang ada pada diri kita benar-benar takluk dan dapat ditundukkan.

Subhanallah, inilah di antara hikmah kita diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh yaitu untuk mendidik hawa nafsu agar senantiasa taat dan patuh dalam beribadah semata-mata mengharapkan ridha dan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Artinya hawa nafsu yang begitu besar menguasai seluruh umat manusia, tidak akan pernah mampu ditundukkan walaupun telah berupaya dengan berbagai macam cara, kecuali hanya dengan berpuasa. Kita ketahui di luar bulan suci Ramadan betapa serakahnya manusia diantaranya dalam hal makan dan minum yang tak terkontrol dan melakukan berbagai dosa yang tak terkendali.Tetapi berkat puasa yang dilakukan, semua keinginan-keinginan duniawi itu ditekan sedemikian rupa dan berusaha untuk ditinggalkan selama kita berpuasa satu bulan lamanya. Maka wajar ketika puasa itu benar-benar sukses dilaksanakan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan anugerah tertinggi dan terbaik yaitu mendapatkan predikat kehormatan berupa taqwa di sisi-Nya.

Hadirin jamaah kaum muslimin sidang Jumat yang berbahagia rahimakumullah

Di sisi lain, ternyata puasa itu tidak hanya meningkatkan dalam ibadah spiritual, juga meningkat karakter kedisiplinan. Coba kita perhatikan bagi mereka yang benar-benar berpuasa, betapa teraturnya dalam menjalani kehidupan dan ibadah-ibadah yang disyariatkan. Salat jamaah tepat waktu, buka puasa tepat waktu, sahur bersama tepat waktu, zakat fitrah tepat waktu, tadarus Alquran tepat waktu dan lain sebagainya. Semua kedisiplinan ini akan berdampak nyata setelah bulan suci Ramadan. Akan dirasakan peningkatannya dan inilah puasa yang sebenarnya yaitu akan berdampak positif dengan hikmah-hikmah yang luar biasa yaitu mendidik umat manusia menjadi manusia yang penuh dengan kedisiplinan. Ketahuilah bahwa hidup dengan kedisiplinan bukanlah hal yang mudah, perlu ada pembiasaan dan latihan secara sungguh-sungguh dan konsekuen. Maka apabila ibadah puasa benar-benar dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan aturan dalam agama Islam, niscaya akan diprogramkan dan dibentuk oleh Allah menjadi manusia-manusia yang disiplin.

Di samping dengan puasa tersebut kita dibentuk menjadi pribadi-pribadi yang disiplin, juga akhlak dan moral akan terbentuk dengan sendirinya, bahkan akan dikedepankan dan diprioritaskan. Mengapa demikian? Karena dalam puasa Ramadan terdapat pendidikan akhlak dan moral yang disampaikan oleh para ulama yang begitu banyak pada bulan Ramadan. Ada bentuknya kultum sebelum berbuka puasa, ada bentuknya tausiyah setelah salat tarawih, ada bentuknya ceramah dalam kegiatan Nuzulul Quran dan lain sebagainya. Para ulama menekankan penyampaiannya pada pembentukan akhlak dan moral ini, hendaknya menjadi penghias terindah dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya bulan Syawal ini sesuai dengan namanya, hendaknya kita berupaya untuk terus meningkatkan hal-hal baik yang kita lakukan selama bulan suci Ramadan seperti salat, membaca Quran, zikir, sedekah, dan lain-lainnya. Karena semua ini akan mengantarkan kita menjadi manusia-manusia yang mulia dan dimuliakan yang menjadi ciri khas bahwa predikat taqwa tersebut telah nyata diberikan kepada kita. Dan ingatlah bahwa dengan ketakwaan yang ada pada diri kita, inilah yang menjadi pembeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Karena Allah berfirman bahwa orang yang paling mulia di antara umat manusia adalah orang yang paling bertakwa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat ayat 13)

Demikian khutbah Jumat singkat yang dapat khatib sampaikan semoga besar arti dan manfaatnya untuk kita dalam peningkatan kualitas diri kita selama bulan Syawal ini.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْر الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلـمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَـهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلـمُؤْمِنَاتِ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَاْلـمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلـمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلـمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلـمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلـمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلـمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.

Jakarta, 13 Ramadhan 1446 H/13 Maret 2025 M

Penulis : Marolah Abu Akrom Hp. 087887270732 (Jurnalis media SinarLIMA/Sinar5News.com, guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta, guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan staf pengajar Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA