Khutbah Jumat Bahaya Merasa Superior Oleh : Habib Ziadi Thohir, M.Pd

Khutbah Jumat Bahaya Merasa Superior Oleh : Habib Ziadi Thohir, M.Pd

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hadiran Jamaah Jumat yang mulia

Alloh Swt berfirman Qs. Lukman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Urwah bin Zubair berkata: Aku melihat Umar bin Khattab dan di pundaknya terdapat wadah air yang terbuat dari kulit. Aku berkata kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin ! hal ini tidak pantas bagi anda. Ia lalu berkata: “Tatkala para utusan datang kepadaku, mereka mendenga ucapanku dan patuh kepadaku, masuklah pada diriku sifat sombong dan angkuh, aku pun ingin menghilangkan sifat itu.” Dan ia membawa kantung air tersebut ke rumah seorang wanita Anshar dan mengisi wadahnya.

Demikianlah potret tuntunan sahabat Nabi saw dalam mengikis sifat angkuh dan ujub dalam hati. Umar ra yang pada waktu itu merupakan pemimpin tertinggi kaum Muslimin tidak membuka ruang sedikitpun jumawa dalam hatinya. Sikap itu umunya lumrah bagi siapapun yang memiliki kedudukan penting. Namun bagi Umar ra, ia langsung memadamkannya dan dilenyapkannya dengan caranya sendiri.

Berapa banyak orang Muslim yang melihat Umar sebelum keislamannya, mereka meremehkan dan menghinanya karena kekufurannya. Umar lalu diberi Allah hidayah keislaman yang melebihi seluruh kaum muslimin kecuali Abu Bakar saja.

Hadiran Jamaah Jumat yang mulia

Cara tepat mengikis kesombongan adalah dengan melakukan hal-hal biasa dilakukan oleh orang-orang kecil. Dengan cara itu ia akan mengalihkan rasa bangga yang bukan pada tempatnya tadi.

Sifat sombong cenderung merasa diri lebih baik dari orang lain. Padahal seorang muslim tidak boleh memposisikan dirinya merasa selalu lebih baik amal shalih dan ibadahnya melebihi yang lainnya. Menilai sesuatu pun, tidak boleh pula beranggapan komentar atau penilaiannya lebih brilian dibanding lainnya. Karena seharusnya, memandang seseorang harus dengan respek dan meyakini bahwa ia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki olehnya.

Hadiran Jamaah Jumat yang mulia

Dalam berteman dengan beragam macam sifat manusia, kita mungkin pernah berhadapan dengan orang yang sombongnya ‘minta ampun’. Perilaku superior ini disebut dengan superiority complex

Superiority complex dalam dunia psikologi adalah perilaku seseorang dimana ia percaya bahwa ia lebih baik dan hebat dari orang lain. Orang-orang dengan sifat superior ini sering memiliki opini berlebih mengenai diri mereka. Mereka yakin bahwa kemampuan dan prestasi yang dimiliki melebihi orang lain. Superiority complex pertama kali dideskripsikan oleh psikolog bernama Alfred Adler pada awal abad ke-21. Ia menggarisbawahi bahwa perilaku superior ini sebenarnya merupakan mekanisme bela diri di balik perasaan inferior seseorang. Artinya, superiority complex merupakan perilaku yang membuat seseorang merasa ‘lebih’ dari orang lain. Namun, keangkuhan tersebut boleh jadi cara mereka untuk menyembunyikan kelemahan atau kegagalan yang sudah pernah dialami.

Hadiran Jamaah Jumat yang mulia

Dalam berinteraksi dengan sesama, merasa seperior umumnya jadi penyakit di tengah-tengah kita. Tidak ada satu pun yang selamat darinya, baik personal atau kelompok. Kita pasti pernah mendengar ujaran, kami lebih nyunnah, kami lebih Islami, kami pancasilais, kami paling NKRI, atau kami paling taat dan setia. Masing-masing merasa “paling dan lebih” dibanding yang lain.

Hadiran Jamaah Jumat yang mulia

Sungguh berbangga dengan amal yang banyak itu adalah bumerang. Inilah penyakit ujub/superior yang menghanguskan pahala. Sehingga amal yang sedikit masih lebih baik dibanding amal banyak disertai ujub.

Hatim Al-Asham berkata: “Janganlah engkau tertipu dengan tempat yang baik, karena tidak ada tempat yang baik dari surga, tapi Adam as mengalamai apa yang telah dialaminya. Janganlah kamu terperdaya dengan banyaknya ibadah, karena iblis setelah beribadah dalam jangka waktu yang lama, dia mengalamai apa yang dialaminya. Janganlah kamu tertipu dengan banyaknya ilmu, karena Bal’am adalah sosok yang mengetahui Asma Allah Al-A’zham, maka lihatlah apa yang dialaminya hingga ia jatuh kafir. Jangalah kamu tertipu dengan melihat orang shaleh (semasa hidup dengan mereka), tidak ada seorang pun yang melebihi kedudukan AL-Mustafa saw, tetapi bertemu dengan beliapun tidak memberi manfaat bagi kerabat beliau yang kafir dan musuh-musuh beliau.

Sebagian ulama berkata, “Tidak seyogyanya seseorang berprasangka bahwa dirinya lebih baik dari orang lain, walaupun orang itu adalah orang kafir, karena segala sesuatu dilihat dari akhir hayatnya. Bisa jadi si kafir itu masuk Islam dan baik islamnya.”

Dalam kitab Al-Hikam tertulis bahwa perbuatan maksiat yang menimbulkan rendah diri dan hina, itu lebih baik dari pada ketaatan yang menyebabkan rasa mulia dan sombong,

Keadaan akhir hayat makhluk itu dirahasiakan dari para hamba. Orang berakal tidak memandang kecuali memandang akibat dan hasil akhirnya. Sehingga hendaklah kita merasa belum berbuat banyak, masih banyak kekurangan, atau tidak sebaik pencapaian orang. Itu semua agar kita tidak cepat puas dan memandang remeh orang lain. Tidak patut seorang hamba berlaku sombong dan merasa sudah mampu memastikan garis finis kehidupan pribadinya.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA