Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 20) Kelahiran Maulana Syaikh di Sambut Para Wali

banner post atas

Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang namanya seringkali disingkat HAMZANWADI (Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah), dan umumnya disapa Maulana Syaikh oleh murid dan jama`ahnya dan atau akrab juga di panggil dengan Tuan Guru Pancor adalah seorang ulama besar yang lahir di Desa Pancor, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat ( NTB ), pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 1324 H/1904 M. Beliau juga wafat di tempat yang sama, di Pancor, Selong LombokTimur, pada malam Rabu, 20 Jumadil Akhir 1418 H/ 21 Oktober 1997 M.

Nama kecil yang diberikan oleh orang tua beliau, Tuan Guru Haji Abdul Madjid adalah Muhammad Saggaf. Sebuah nama yang terambil dari bahasa Arab yang memiliki makna yang sangat tinggi. Dalam hal ini, untuk kata ”saggaf” berasal dari kata ”saqqaf”. Perubahan huruf qaf menjadi ghain didasarkan pada kebiasaan orang Yaman yang dalam bahasa kesehariannya mengubah huruf qaf dengan huruf ghain.

Kata “Saqqāf” tersebut dapat diartikan; “Atapnya para Wali pada zamannya”. Selanjutnya untuk kata “Saqqāf” di Indonesiakan menjadi “Saggāf” dan untuk dialek bahasa Sasak sendiri (bahasa Lombok) menjadi “Segep”. Dan itulah sebabnya, semasa kecilnya Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sering dipanggil dengan panggilan singkat “Gep” oleh ibunya, Hajjah Halīmah al-Sa’dīyyah dan keluarganya.

Iklan

Penamaan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dengan nama Muhammad Saggaf adalah dilatarbelakangi dari kisah unik dan sebagai bagian sejarah kehidupan beliau yang penuh ajaib yang sangat menarik perhatian atau spektakuler bagi kita dan itu sebagai kenyataan yang terjadi pada saat-saat menjelang kelahirannya.

Dalam kisahnya diceritakan, bahwa menjelang kelahirannya itu, sang ayah, yakni Tuan Guru Haji Abdul Madjid, didatangi oleh dua orang wali yang berasal dari Hadhramaut dan Maghrabi. Kedatangan mereka berdua, sepertinaya ada hal yang aneh, dimana kedua wali Allah tersebut memiliki nama yang sama pula, yaitu Saqqaf. Dan lebih lanjut yang aneh dalam shilaturrahimnya kedua Wali ini, mereka masing-masing berpesan kepada Tuan Guru Haji Abdul Madjid agar menamakan anaknya yang akan lahir tersebut dengan nama Saqqaf, seperti nama mereka berdua.

Disamping itu pula, selain cerita diatas sebagai hal yang sepektakuler juga dan terjadi menjelang kelahiran seorang sosok manusia pilihan Allah Subhanahu wa ta`ala, yakni Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah fenomena datangnya seorang Wali Allah lainnya yang bernama al-Syaikh Ahmad Rifa`i.
Dalam hal ini, diceritakan bahwa suatu ketika dengan secara tiba-tiba Tuan Guru Haji Abdul Madjid kedatangan seorang tamu yang tidak pernah dikenalnya. Tamu yang satu inipun memperkenalkan dirinya dengan nama Syaikh Ahmad Rifa`i yang sengaja datang dari Maghribi. Dan ternyata, beliaupun seorang Wali Allah.

Kedatangan Wali Allah Subhanahu wa ta`ala yang satu ini, tentunya juga adalah dengan maksud shilaturrahim dengan Tuan Guru Haji Abdul Madjid (ayah Maulana Syaikh) dan keluarganya. Namun demikian, sebagai misi yang paling penting dibalik maksud shilaturrahim tersebut adalah untuk memberikan informasi dan kabar gembara kepada Tuan Guru Haji Abdul Madjid beserta keluarga perihal kelahiran bayinya dengan jenis kelamin laki-laki. Dan lebih lanjut di tengah diskusi hangatnya itu, al-Syaikh Ahmad Rifa`i mengatakan lagi sesuatu yang tak kalah pentingnya. Dimana, beliau berkata; “Akan segera lahir dari isterimu (Hj. Halimatusa`diyyah) seorang anak laki-laki yang kelak akan mejadi ulama besar.”
Isyarat luar biasa yang datang dari seorang Wali Allah inipun, tentu di sambut gembira oleh Tuan Guru Haji Abdul Madjid beserta keluarga. Bagaimana tidak, karena ia akan memiliki anak yang sangat istimewa dan bahkan nantinya ia akan populer sebagai ulama besar.

Memerhatikan dua kisah spektakuler seputar kelahiran guru besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagaimana telah diceritakan diatas, maka kedatangan para Wali Allah yang menyambut kelahirannya itu, dapat menjadi salah satu indikator atau isyarat awal yang seolah menjelaskan kepada kita bahwa suatu saat nanti, beliau akan ditakdirkan oleh Allah untuk menduduki suatu maqam kewalian atau sebagai salah seorang kekasih-Nya (Wali Allah).

Dan isyarat awal kewalian Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tersebut, seirama pula dengan sebuah pernyataan seorang Sufi yang bernama, al-Syaikh Sahl Ibn ‘Abdillah at-Tustari. Dimana, ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana cara mengenal Wali Allah? Dalam hal ini, ia menjawab bahwa Allah Subhanahu wa ta`ala tidak akan memperkenalkan mereka, kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.