Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 25) 5 Alasan Maulana Syaikh Disebut Raja dari Rajanya Para Wali

banner post atas

Di zamannya ini, maka setidaknya penulis mengajukan lima (5) alasan penting untuk kita simak bersama dengan teliti, sebagaimana berikut;

1. Maulana Syaikh Penyusun Tarekat Mu`tabarah
Sebagai argumentasi pertama dalam penyebutan Guru Besar kita al- `Allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lantaran beliau adalah seorang ulama penyusun tarekat Mu`tabarah, yakni Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan.

Sebelumnya penulis sudah menjelaskan bahwa ketika kita komparasikan dengan suatu pernyataan yang dituangkan langsung dalam sebuah buku Permasalahan Thariqah, Hasil Muktamar dan Musyawarah Besar Jam`iyyah Ahlith Thariqah al-Mu`tabarah Nahdlatul Ulama (1957-2005) yang menyebutkan bahwa setiap Thariqah Mu`tabarah mempunyai Sulthan al-Auliya` sendiri-sendiri. Dan bagi pengikutnya, wajib menetapi dan mencintai (mahabbah) kepada Sulthannya masing-masing serta tidak menyakiti kepada wali lainnya.

Iklan

Sementara itu, bagi Guru Besar kita, Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang wali Allah yang telah berhasil menyusun sebuah tarekat Mu`tabarah yang dinamakan dengan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan. Dan keberadaan tarekat yang disusunnya ini, dikenal sebagai Tarekat Akhir Zaman. Dan bahakan disinyalir, sebagai tarekat mu`tabarah yang muncul terakhir, sehingga tidak akan muncul lagi tarekat-tarekat lainnya.

Dengan demikian, terhadap tarekat Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan ini pun, tentunya telah memiliki Sulthan Al-Awliya yang memimpinnya. Dan sebagai pemimpin dan bahkan pendiri langsung dari Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan ini adalah al `Allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Dalam konteks ini, ketika kita mengikuti alur pemikiran di atas, maka Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah Sulthan Al-Aulia (Raja para Wali).

Selain itu, terhadap keberadaan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang berhasil disusun pada tahun 1967 setelah banyak melakukan “komunikasi” dengan secara mubsyirat bersama para Nabi tertentu, termasuk dengan Nabi Hidir `alaihissalam, maka hal inipun makin memperkuat beliau sebagai seorang wali Allah yang telah al-Mukasyafah dan bahkan disebut sebagai seorang ulama yang telah berhasil menduduki kewalian tertinggi yang dinamakan Quthb (Kutub) atau Sulthan Al-Aulia tersebut.

Untuk memperkuat argumentasi diatas, penulis telah melakukan penelitian tentang keberadaan tarekat Hizib ini dengan mewawancarai secara khusus dua orang murid dekatnya Maulana Syaikh, yaitu Tuan Guru Haji Mahmud Yasin (Allahu yarham), pimpinan Pondok Pesantren Ishlahul Ummah NW Lendang Kekah, Lombok Tengah, NTB dan Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta.

Sebagai salah satu hasil dari wawancara dengan Tuan Guru Haji Mahmud Yasin, menyebutkan bahwa Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah ulama penyusun Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan itu dengan proses cukup panjang dan merupakan suatu hal yang sangat berat. Di sebut sangat berat, karena merupakan suatu tugas yang diberikan oleh Allah pada seorang wali yang setingkat wali Quthb atau Sulthan Al-Aulia.

Sementara sebagai hasil wawancara penulis dengan Al-Ustadz Drs. Haji Muhammad Suahidi adalah adanya pernyataan yang senada dengan pernyataan yang dikomentarkan oleh Tuan Guru Haji Mahmud Yasin. Dimana, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang ulama dari wali Allah yang telah menduduki posisi Wali Quthb atau Sulthan Al-Awliya, sehingga dengan tingkatan kewalian seperti itulah, beliau menyusun tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, sebagai terekat akhir zaman.

Menyimak pernyataan dua tokoh tuan guru NW diatas, maka sepertinya dengan tidak ragu kita menyimpulkan bahwa Guru Besar kita al `Allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang wali yang menduduki kewalian tertinggi yang dinamakan Quthb (Kutub) atau Poros Alam. Dan suatu tingkatan wali yang kadang juga dinamakan Ghauts (Penolong) atau Sulthan Al-Awliya (Raja Para Wali).

2. Maulana Syaikh sebagai Imam Para Wali
Sebagai argumentasi kedua dalam penyebutan Guru Besar kita, Sulthaanul Aulia, al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lantaran beliau adalah seorang imam dari seluruh para Wali Allah. Pernyataan ini, disampaikan oleh seorang ulama besar dan Wali Allah, pendiri Dewan Dakwah wal-Irsyad (DDI), KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Dan bahkan, beliau mengatakan bahwa Maulana Syaikh itu sebagai imam semua waliyullah atau Sulthan Al-Aulia (Raja Para Wali).

3. Maulana Syaikh Bercerita Tentang Sulthanul Aulia/Wali Quthub
Adanya sebuah cerita menarik tentang pelantikan dua Sulthanul Aulia/Wali Qtuhub, yaitu al-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulana al-Syaikh Hasan Muhammad al-Massyath yang bersumber dari salah seorang murid dekat beliau, yakni pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta (al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi), dapat mengantarkan kita sampai pada pemahaman dan kesimpulan yang mantap mengenai tingkatan kewalian Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang Sulthan Al-Aulia (Raja Para Wali) atau Wali Quthub.

Adapun cerita menarik yang dimaksudkan, seperti berikut ini;

“ Suatu ketika, al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi pulang ke Lombok untuk menghadap Guru Besar kita Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk menyampaikan perkembangan pondok pesantren yang di Jakarta. Setelah sampai di Lombok, pada sore harinya langsung menuju ke rumah beliau yang berada di Pancor, Bermi, Selong, Lombok Timur. Setelah mengucapkan salam, ia pun disuruh masuk.
Selanjutnya, setelah selesai basi-basi dengan menceritakan perkembangan madrasah di Pondok Pesantren NW Jakarta, tiba-tiba Maulana Syaikh menyuruh sang murid menutup dan mengunci pintu-pintu rumah.
“Suhaidi…, tolong tutup dan kunci pintu rumah semua ya!”, Kata sang Maulana Syaikh memerintahkan sang murid.
“Inggih (Ya) Datuk…., Sebagai jawabannya sang murid.
Saat itu, sang murid pun tidak mengetahui gerangan apa, sehingga diperintahkan menutup semua pintu rumahnya. Setelah semua pintu rumah ditutup dan dikunci rapat, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bercerita kepada sang murid dengan alur cerita, seperti berikut.
“Suhaidi….!, Sahut beliau”.
“Inggih (Ya) Datuk…”, Jawabnya.
“Dahulu, ketika al-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani diangkat oleh Allah Subhanahu wa ta`ala sebagai Shultan al-Awliya (Rajanya para wali)/Wali Quthb, maka banyak para muridnya yang berdatangan dan mencuci kaki gurunya itu. Mungkin saja, mereka bermaksud ingin mendapatkan keberkahan dari raja wali tersebut”.
Mendengar cerita tersebut, sang murid setia (al-Ustadz Haji Suhaidi) hanyalah terkesimak, sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengamini cerita tersebut dengan mengatakan; nggih Datuk (Ya Datuk). Hal ini, tentu karena terkesimaknya dalam mendengar cerita hebatnya Shultan awliya al-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tersebut.
Setelah Beliau selesai bercerita, rupanya sang murid belum bisa memahami dan menagkap, apa isyarat dan maksud yang ingin dituju oleh cerita beliau ini.
Tak lama kemudian, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menambahkan ceritanya lagi. Dan mengatakan;
“ Suhaidi…!, “Inggih (Ya) Datuk.” Sahut sang murid lagi.
“Dahulu, ketika guru saya, Maulana al-Syaikh Hasan Muhammad al-Massyath, telah diangkat sebagai Shultan al-Awliya/Wali Quthb oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, para muridnya berdatangan juga untuk hendak mencuci sandal atau trompahnya. Lagi-lagi, mungkin saja mereka bermaksud ingin mendapatkan keberkahan dari beliau ini”.
Mendengar cerita beliau yang kedua ini pun, sang murid setia (al-Ustadz Haji Suhaidi), lagi-lagi hanyalah mengangguk-anggukkan kepala, sambil mengamini dengan mengatakan; nggih datuk (Ya Datuk), terhadap cerita hebatnya Shultan awliya Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Massyath tersebut.

Setelah beliau selesai bercerita untuk yang kedua kali ini dan rupanya sang murid belum bisa juga memahami dan menagkap, apa isyarat dan maksud yang ingin dituju oleh cerita beliau ini, maka untuk kali ketiga ini, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berkata kepada sang murid;
“Suhaidi….!, Inggih (Ya) Datuk. Sahutnya dengan cepat lagi.
“Kamu ambil baskom di dapur, lalu isi air dan bawa kemari”.
“Inggih, ampure Datuk (Ya, maaf Datuk).
Sebagai sahutnya yang boleh kita nilai sebagai nada “kesal”, karena tidak memahami maksud dan keiginan dari sang Guru Besar (Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid). Lalu, sang murid dengan bergegas dan cepat pula melangkah menuju dapur. Setelah sampai dari dapur, saat itu, ia ketemu dengan Ummi Adniyah (salah satu isteri beliau Maulana Syaikh). Dan Ummi pun bertanya;
“Ada apa Suhaidi ke dapur?.
“Inggih (Ya) Ummi. Datuk tiang (saya) menyuruh ke dapur untuk ambil baskom yang di isikan air”.
“O inggih (ya), silahkan ambil!”, Sahut Ummi.
Sang murid, mengambil baskom tersebut. Dan setelah di isikan air, lalu di bawa lagi ke depan Maulana Syaikh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Dan berkata; “Niki (ini) airnya Datuk”. Sahutnya.

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 24) Tingkatan Kewalian Maulana Syaikh

Maulana Syaikh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid diam saja, mendengar dan melihat “keluguan” sang murid yang saat itu dengan tanpa teman diskusi dan belum sama sekali memahami, apa maksud isyarat cerita sebelumnya dan apa maksud perintah mengambil air tersebut. Dan beliau saat itu, dalam posisi duduk di atas kursi.
Sambil duduk, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berkata, “Suhaidi…..!!!
“ Inggih (Ya), Datuk”. Sahutnya dengan cepat lagi dan terasa sangat kebingungan.
“Kaki saya, kok gatal ya?”.
Dan saat itu, beliau sambil menggerak-gerakkan dua kakinya dan duduk di atas kursi tersebut. Sang murid pun, diam seribu bahasa. Karena masih tidak memahami apa yang dinginkan oleh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Singkat cerita. Beliau berkata lagi.
Suhaidi… !.Inggih (Ya), Datuk.
Dan kali ini, rupanya Beliau terbuka, supaya muridnya paham dan berkata dengan jelas;
“Tolong baskom air itu, taruh di depan saya disini dan cuci kaki saya ya!.
Ayo, segera mulai !!!”
. Dengan tanggap dan langsung sang murid mengangkat baskom yang berisikan air tersebut dan ia pun mulai mencuci dua kakinya Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan tentu dengan perasaan yang tidak enak dan gagap. Hal ini, karena charisma sang Guru Besar juga.
Setelah selesai, Beliau berkata lagi.
“Suhaidi…!” “Inggih (Ya), Datuk”. Sahutnya dengan tetap nada cepat.
“Minumlah air itu”!.
Sang murid setia inipun, langsung meminum air basuhan kaki beliau itu. Dan saat itupun, beliau berkata lagi;
“Nanti, sisa air yang kamu minum itu, kamu bawa ke Jakarta ya. Dan siramilah batas-batas tanah madrasahmu disana.”

Ketika kita menyimak alur cerita diatas, sebagai hal yang sangat mendasar bagi penulis adalah adanya sebuah kesimpulan penting yang menjelaskan kepada kita semua tentang keberadaan diri al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang Wali Allah. Sehingga, beliau pun dengan mudah menceritakan prihal wali-wali Allah lainnya. Dan sebagai kesimpulan penting kedua, ketika beliau bercerita kepada murid setianya (Al-Ustdaz Haji Muahmmad Suhaidi) dan mengeluarkan dua buah pernyataan yang mengatakan; Pertama, “Dahulu, ketika al-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani diangkat oleh Allah Subhanahu wa ta`ala sebagai Shultan al-Awliya (rajanya para wali), maka banyak para muridnya yang berdatangan dan mencuci kaki gurunya itu. Mungkin saja, mereka bermaksud ingin mendapatkan keberkahan dari raja wali ini”. Kedua, “Dahulu, ketika guru saya, Maulana al-Syaikh Hasan Muhammad al-Massyath, telah diangkat sebagai Shultan al-Awliya oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, para muridnya berdatangan juga untuk hendak mencuci sandal atau trompahnya. Lagi-lagi, mungkin saja mereka bermaksud ingin mendapatkan keberkahan dari beliau ini”.

Dengan memerhatikan ilustrasi atau alur dari dua cerita Wali Allah yang berpangkat Sulthanul Aulia/Wali Quthb kepada al-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulana al-Syaikh Hasan Muhammad al-Massyath dan beliau menyebut, ketika diangkat sebagai wali Quthb, murid-muridnya mencici kaki dan sendalnya untuk ambil berkah dan selanjutnya beliau sendiri memerintahkan muridnya untuk melakukan hal yang sama itu, maka hal ini dapat menjadi indikasi yang jelas dan terang bahwa Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah Wali Allah dalam tingkatan yang sama sebagai Wali Quthb juga, sebagaimana halnya dengan al-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulana al-Syaikh Hasan Muhammad al-Massyath tersebut. Wallaahu `alamu

4. Seorang Murid Maulana Syaikh Hadir di Ma`la Makkah
Sebagai penguat keberadaan al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang waliyullah dalam tingkatan Sulthan Al-Awliya (Raja Para Wali) atau Wali Quthub adalah adanya sebuah al-Mubsyyirat yang bersumber dari salah seorang murid beliau yang bernama Tuan Guru Haji Fathurrahman, Teratak, Lombok Tengah. Dari al-Mubsyyirat tersebut, menyebutkan tentang pengangkatan atau pelantikan beliau sebagai seorang waliyullah dalam tingkatan Sulthan Al-Awliya (Raja Para Wali) yang bertempat di Ma`la Makkah al-Mukarramah.

Untuk ilustrasi al-Mubsyyirat yang dimaksud, penulis kutip dari sebuah buku yang berjudul, ”Keagungan Pribadi Sang Maulana, Buku Kedua Trilogi Cinta Maulana, Catatan Murid Maulana dari Majlis Al-Aufiya wal Uqala”. Dan dalam cerita ini, disebutkan bahwa Tuan Guru Haji Fathurrahman, Teratak, Lombok Tengah, pernah dijanjikan oleh Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk bertemu sebanyak tiga kali pertemuan di Makkah al-Mukarramah. Dan sebagai realisasi dari janji tiga kali pertemuan tersebut, untuk pertemuan pertamanya dilakukan di Masjidil Haram. Selanjutnya, untuk pertemuan kedua kalinya dilakukan di terowongan air antara sib Ali dan sib Amir. Dan untuk pertemuan yang ketiga kalinya di Ma`la Makkah. Untuk pertemuan yang ketiga kalinya di Ma`la Makkah, inilah sebagai tempat pertemuan yang sangat fenomenal dan luar biasa, karena beliau (Tuan Guru Haji Fathurrahman) menyaksikan langsung acara pergantian Guru Besar kita al `Allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang Sulthan Al-Aulia (Raja Para Wali) yang menggantikan maha gurunya yang bernama Maulana Syaikh Hasan al-Masysyath. Untuk lebih mantap alur cerita yang satu ini, penulis mencoba mengikuti ilustrasinya, seprti berikut ini;

” Ketika pertemuan di Ma`la di Makkah al-Mukarramah berubah tampakannya menjadi tanah lapang yang sangat luas, seperti Padang Arafah. Saat itu, saya melihat para auliya` Allah seluruh dunia berkumpul tumpah ruah dengan menggunakan top (jubah) putih. Dalam kebersamaan itu, seorang peserta nyeletuk bertanya (terkadang dengan bahasa Indonesia dan terkadang dengan bahasa Arab);

”Apa kamu mengetahui malam apa ini?”
”Maaf, saya tidak tahu, ”jawab saya.
Orang itu berkata: “Malam ini adalah malam upacara pembaiatan pengganti Sulthanul Auliya.”
Saya Tanya :”Siapakah calon pengganti sulthanul auliya itu?
Dijawab: “Katanya, dari Indonesia.”
Saya tanya lagi: Dari Indonesia mana
“Katanya dari NTB, al-Anfananiy al-Shaulatiy. Nama lengkapnya al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Majid al-Anfananiy al-Shaulatiy.”
Saya tidak tahu seperti apa kegembiraan saya.

Dengan tidak sadar mulut saya spontan menjawab: “itu Guru saya, Sayyidi dan Maulana saya.”
Mendengar pernyataan saya, saya kemudian dipeluk oleh orang tersebut, sembari berkata:
“Berbahagialah engkau wahai hamba Allah, menjadi murid orang yang paling mulia di sisi Allahsaya

 

Tidak lama kemudian tiba-tiba kami mendengar komando untuk harus menghadap timur, maka semua yang hadir menghadap timur sambil menengadahkan tangan ke langit. Tiba-tiba datanglah helikopter di tengah keramaian di lapangan luas itu dan langsung merendah (menunduk) di tempat itu. Maulana al-Syaikh (Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) turun dari helikopter itu kayak (seperti) orang orang terjun perlahan seperti terjun payung. Beliau langsung mendarat di telapak tangan para auliya’ yang hadir pada saat itu. Telapak tangan itu menjadi jembatan menuju panggung yang telah disiapkan.

Tiba di atas panggung itu, saya saksikan telah berdiri seseorang yang ternyata adalah Maulana al-Syaikh al-Masysyath. Beliau sendiri menyambut kerauhan (kedatangan) Bapak Maulana al-Syaikh. Beliau berdiri di atas panggung lalu berpidato yang kalau dibahasa-Indonesiakan kurang lebih berbunyi:
“Kamu semua sudah maklum kalau saya ini sudah pindah dari alam dunia kea lam lain. Sampai saat ini belum ada pengganti saya sebagai Sulthanul Auliya’. Inilah Pengganti Saya, Murid Saya, Saudara Saya, Kekasih Saya, al-Muhibb al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Majid al-Anfananiy al-Shaulatiy.”

Khutbah Syaikh Hasan al-Masysyath disambut serempak dengan ucapan takbir seluruh hadirin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Takbir itu menggema memenuhi langit Ma’la.
Saya pun terbangun (dalam mubasysyirat singkat itu) dan langsung mengambil atum (ballpoint) dan buku untuk menulis kejadian yang luar biasa itu.

Dua hari setelah pulang ke Indonesia, yakni saat berada di rumah muncul suatu kejadian. Pada malam Sabtu, jam tiga malam saya bermimpi, Maulana al-Syaikh rauh (datang, hadir) di pondok saya di Teratak.

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 21) Beberapa Indikator Kewalian Maulana Syaikh Bagian 5

Beliau ngandika (berkata): “Jemaq datang ante aning Abrar, sampiq meq nejak kakameq Inaq Syahdan. Meq lemaq-lemaq datang ito sendeq man kusugul langan khalwat.” [besok kamu datang ke rumah al-Abrar, ajak juga kakakmu Inaq Syahdan. Datanglah pagi-pagi sebelum aku keluar dari kamar khalwatku].
Kami pun bersisap-siap bersama kakanda Inaq Syahdan. Pagi-pagi itu kami keluar rumah dan sampai di jalan ternyata kendaraan sudah menunggu lalau kami naik (menumpang) sampai Pancor Dao. Disana kendaraan juga sudah menunggu, yakni kendaraan yang menuju Lombok Timur. Wallahu ‘alam. Kami tidak mengetahui bagaimana persisnya perjalanan kami, tiba-tiba kami sudah sampai di Pancor pada pagi buta.

Kami pun langsung marek (menghadap) ke Ummi Hajah Adniyah.
“Sai sino?,” tanya Ummi. [siapa itu]
“Tiang Haji Fathurrahman, bareng Inaq Syahdan.”

Kami pun dibukakan pintu dan langsung masuk. Ummi berkata: “Auq ngoneq oah aku nyuruq Maulana al-Syaikh ngelek ante, meletku nggitaq ante, laguq nengke meq terus tame aning kamar khalwat, Maulana al-Syaikh wah nganti ante.” [Benar,tadi saya yang meminta Maulana memanggilmu, saya ingin sekali berjumpa denganmu, tetapi tidak apa-apa kamu langsung masuk ke dalam kamar khalwat, Maulana al-Syaikh sudah menunggumu].

Kami kemudian masuk ke kamar khalwat beliau. Saat sampai di depan pintu, tabir sudah dibuka, kami langsung bersalaman dengan beliau,
“Aoq datang ante?” [oh ya kamu datang]
“Inggih,” jawab tiang singkat.
“Sai nyuruq ante beketeq?,” tanya Maulana. [siapa yang menyuruhmu kemari?]
“Plungguhde Maulana al-Syaikh.” [anda]
“Piran kunyuruq ante? tanya beliau. [kapan saya suruh kamu datang?]
“Ngoneq jam telu plungguhde manikang tiang bareng Inaq Syahdan.” [Tadi jam tiga malam, plungguh memerintahkan saya bersama Inaq Syahdan]
“Ape oleh-oleh jauang me ite?,” Tanya Maulana. [apa oleh-oleh yang kau bawa dari Makkah?]
“Ndek narak Maulana al-Syaikh.” [tidak ada Maulana al-Syaikh]
Saya terus didesak. Akhirnya, beliau berkata: “Mno catetan ino.” [itu catatan itu]
Maulana al-Syaikh sendiri kemudian bercerita tentang pengangkatannya sebagai Sulthanul Auliya’ yang terjadi di Ma’la Makkah itu.

“Wah badaqne aku, angkum-meq siq hadir ito isiq Nabi Khidir as. Laguq ndaq pisan meq becerite leq sai-sai. Parane ante kajuman laun. Ndaq becerite lamun ndeq ku man mate” [saya sudah diberi tahu tentang kehadiranmu disana oleh Nabi Khidir as., tetapi jangan sekali-kali kamu bercerita kepada siapa pun, khawatir mereka menganggapmu sombong atau ingin dipuji dan jangan bercerita sebelum aku mati]
Saya pun mohon izin dan minta do`a kepada Bapak Maulana al-Syaikh.”

Memerhatikan cerita diatas juga, makin menambah keyakinan kita pada al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang waliyullah dalam tingkatan Sulthan Al-Awliya (Raja Para Wali) atau Wali Quthub.

5. Adanya Dokumen Tertulis tentang Maulana Syaikh sebagai Wali Quthub
Adanya dokumen nyata yang tertulis tangan pada malam Senin, tanggal 24 Mei 1970, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dapat merupakan argmentasi pamungkas yang menguatkan eksistensi Guru Besar kita, Sulthaanul Aulia al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang waliyullah dalam tingkatan Sulthan Al-Awliya (Raja Para Wali) atau Wali Quthub dan bahkan beliau disebut sebagai Wali Qutub Aktab Akbar.

Dan untuk dokumen yang satu ini, telah disebutkan adanya sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril `Alaihissalam tentang penegasan maqam atau tingkatan kewalian Maulana Syaikh sebagai Wali Qutub Aktab Akbar, sebuah kepangkatan dalam kewalian yang paling tinggi. Dan dalam dokumen tersebut, disebutkan pula tentang pengangkatan salah seorang dari isteri Maulana Syaikh yang masuk atau di angkat oleh Allah Subhanahu wa ta`ala sebagai seorang wali dalam kepangakatan Wali al-Khawwash.

Dan lebih lanjut sebagaimana penulis sebutkan sebelumnya juga bahwa dalam dokumen yang tertulis dalam lembaran lanjutannya, termuat penjelasan tentang alasan, kenapa maqam atau tingkatan kewalian Maulana Syaikh adalah sebagai Wali Qutub Aktab Akbar. Sementara, untuk maha guru beliau Syaikh Hasan al-Massyath sebagai wali dalam tingkatan Wali Qutub Aktab. Artinya, kenapa tidak sama dalam tingkatan Wali Qutub Aktab Akbar. Untuk dua hal penting ini, kembali penulis mengutip dokumen asli yang termuat dalam redaksinya, seperti berikut ini.

“ Sampaikan salam pada isterimu, mulai malam ini, ia diangkat menjadi Wali al-Khawwash oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kekeramatan gurumun Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Wali Qutub Aktab Akbar dan kamu sendiri telah diangkat Allah menjadi sekretarisnya… (Jibril `Alaihissalam). 25

Dan dalam redaksi selanjutnya, tertera lagi dengan jelas dalam lembaran yang sama berikutnya lagi, disebutkan seperti ini;

“Benar, Malaikat Jibril menyampaikan pada malam itu dan benar pula pengangkatan isterinya menjadi Wali al-Khawwash oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan memang benar pengangkatan Maulana Syaikh K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menjadi Wali Qutub Aktab Akbar. 25

Selanjutnya, untuk penjelasan maqam atau tingkatan kewalian Maulana Syaikh adalah sebagai Wali Qutub Aktab Akbar. Sementara maha guru beliau Syaikh Hasan al-Massyath sebagai wali dalam tingkatan Wali Qutub Aktab, berikut redaksinya;

“Lebihnya Maulana Syaikh dari Syaikh Hasan Massyath adalah karena menurut perbedaan tempat. Syaikh Hasan Massyath di Makkah adalah Negara Islam yang aman. Sedangkan Maulana Syaikah adalah di Indonesia negara yang kacau, banyak saling fitnah menfitnah.

Syaikh Hasan al-Massyath menjadi Wali Qutub Aktab, sedangkan Maulana Syaikh menjadi Wali Qutub Aktab Akbar, karena tahan uji terhadap segala rintangan-rintangan dan segala macam fitnah.” 25

Dengan memerhatikan pemaparan di atas, maka kita telah mendapatkan sebuah kesimpulan yang semakin tajam yang menambah terang dan jelas sekali tentang keberadaan Guru besar kita, al-`Aarifu Billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai seorang ulama besar yang telah memiliki kepangkatan kewalian yang sangat tinggi yang disebut Wali Qutub Aktab Akbar.
Dalam konteks ini, sebagai analisis penulis terhadap pernyataan tersebut, secara tidak langsung bagi Maulana Syaikh telah menceritakan kepada muridnya dan kepada kita semua bahwa beliau adalah seorang wali Allah yang telah mendapatkan kepangkatan (maqam) dalam kewalian tertinggi yang disebut dengan Shultan Awlia, sebagaimana halnya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan sebagaimana gurunya juga, yakni Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Massyath, sehingga beliau pun menyuruh muridnya untuk membasuh kakinya juga.

Oleh sebab itu, keberadaan cerita di atas inipun, bagi penulis dapat menjadikannya sebagai sebuah argumentasi yang menguatkan penulusuran yang menjelaskan mengenai kewalian dan sekaligus kepangkatan dalam kewalian yang dimiliki oleh Guru Besar kita Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang masuk dalam tingkatan Sulthan al-Awliya (Raja Para Wali).

Dan ketika kita menyebut Beliau sebagai Wali Allah dalam jajaran dan tingkatan Sulthan al-Awliya (Raja Para Wali), maka kita dapat memerhatikan ajaran al-Imam Muhyiddin Ibn ‘Arabi yang menyebutkan bahwa, wali yang tertinggi dinamakan Quthb (Kutub) atau Poros Alam. Ia kadang juga dinamakan Ghauts (Penolong) atau Sulthan al-Awliya (Raja Para Wali). Dan untuk penyebutan Kutub bagi Maulana Syaikh, maka baginya adalah pusat daya-daya spiritual. Beliau mengumpulkan semua maqam. Dan Beliau adalah Kutub semesta lahiriah maupun semesta batiniah, yang semuanya berputar di sekelilingnya, seperti Ka`bah yang menjadi sumbu perputaran dalam thawaf. Dan beliau juga adalah Kuthub yang diberi masuk pada ranah eksternal (politik), seperti empat khalifah pertama pasca Nabi adalah Quthb, yang memiliki kekuasaan politik. Sehingga bagi beliau, sempat tercatat dalam sejarah hidupnya sebagai anggota Konstituante dan Anggota DPR/MPR RI.

Walhasil, dengan memerhatikan berbagai argumentasi di atas dan dikuatkan lagi dengan adanya dokumen pamungkas yang tertulis pada tanggal 26 Oktober 1980 dan dokumen menarik lainnya, yang tertulis tangan pada malam Senin, tanggal 24 Mei 1970, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka sebagai kesimpulan penulis mengenai keberadaan maqam atau tingkatan kewalian Guru Besar kita al `allaaamah al-`aarifu billaah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah Wali Allah dalam tingkatan yang disebut dengan Wali Qutub. Sebuah tingkatan dalam kewalian tertinggi yang dalam ajaran al-Imam al-Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi dinamakan Quthb (Kutub) atau Poros Alam. Atau tingkatan kewalian yang kadang juga dinamakan Ghauts (Penolong) atau Sulthan al-Awliya (Raja Para Wali). Wa Allahu a’lam.