Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 13) Memahami Karomah Wali

Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 13) Memahami Karomah Wali

Dalam topik pembahasan tentang memahami karomah wali ini, penulis akan mencoba mengupas beberapa hal penting mengenai, makna karomah dan perbedaanya dengan Mukjizat, Ma`unah dan Irhas, gambaran Karomah di dalam al-Qur`an al-Karim, kepada siapakah sebenarnya Karomah itu diberikan, perbedaan anatar Karomah dengan Istidraj dan pembahasan tentang empat puluh macam Karomah dalam pandangan al-Imam al-Ghazali.

Istilah karomah, dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan keramat. Dan istilah keramat ini, memang suatu peristiwa yang sepertinya sulit diterima akal pikiran manusia pada umumnya. Akan tetapi, karomah sering dijumpai dalam berbagai literatur keagamaan, termasuk dalam literatur agama-agama selain Islam.

Dan pada dasarnya, karomah itu tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. Dimana, dalam ilmu pengetahuan modern ada juga dikenal istilah pychokinesys, yaitu perilaku luar biasa dan irrasional yang dimiliki oleh orang-orang tertentu.

Dengan demikian, ketika ada cerita peristiwa supranatural dari para wali, ulama, atau para kyai, sepertinya tidak masuk akal bagi orang-orang yang belum mempelajari parapsychology. Dan bagi seseorang yang sudah mempelajarinya dan apalagi sudah melakukan eksperimen, maka peristiwa seperti itu sama sekali bukan sesuatu yang tidak masuk akal atau irrasional. Listrik, telephon dan handphon adalah hal yang irrasional bagi orang-orang yang belum pernah melihatnya. Namun bagi orang-orang yang sudah melihat dan apalagi sudah menggunakannya, maka hal itu bukanlah sesuatu yang aneh.

Karomah itu memang ada dan tidak bisa terbantahkan untuk membentuk charisma seorang wali di mata umat. Keberadaan karomah diakui dalam konsep Islam dan setidaknya didasarkan pada dua argument. Pertama, dalil `aqli (logika). Secara akal dan menurut rasio manusia, adanya karomah adalah jaiz. Artinya, tidak mustahil bagi Allah menciptakan karomah dan menganugerahkannya kepada seorang wali.

Kedua, dalil naqli, yakni argument berdasar Al-Qur’an atau Hadits, seperti kisah Maryam dan makanan dari surga (QS.Ali Imran (3): 37), kisah Ashab al-Kahfi (QS.Al-Kahfi (18): 17), dan kisah Ashif, salah seorang pembantu Nabi Sulaiman yang bisa memindahkan singgasana Ratu Bilqis ke istana Nabi Sulaiman dengan jarak yang sangat jauh dalam waktu sekejap (QS.al-Qashash (28): 40). Dan hampir semua ulama sepakat bahwa karomah memang benar-benar ada, kecuali Ibnu Hazm dan ulama kelompok Mu’tazilah.

Dalam Al-Qur’an, tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang mengisahkan kejadian atau peristiwa yang sulit diterima akal pikiran manusia biasa, tetapi peristiwa itu terjadi. Lihatlah kisah Ashab al-Kahfi , sekelompok pemuda yang tertidur selama ratusan tahun dalam goa; atau kisah Maryam sang wanita suci, ibunda Isa al-Masih yang melahirkan anaknya itu tanpa ayah; atau kisah Nabi Ibrahim yan dibakar oleh Raja Namrud di atas api membara, namun sedikit pun tubuhnya tak terbakar.

Bahkan, sebenarnya peristiwa-peristiwa khawariq li al-adah tidak hanya kita temukan di dalam Al-Qur’an al-Karim saja, melainkan juga terjadi pada kalangan ulama pada zaman sebelum Nabi Muhammad Shallallaahu `alaihi wa sallam. Tidak hanya itu, para sahabat Nabi, Tabi’in, Tabi’ittaabi’in, dan para ulama pun tidak sedikit yang memiliki karomah, suatu kejadian yang tidak lazim namun terjadi dalam dunia nyata. Tentu saja, peristiwa tidak lazim itu terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa ta`ala, penguasa alam jagad raya ini.

Sahabat Umar bin Khattab radhiallaahu `anhu, salah seorang dari al-Khulafa al-Rasyidun, misalnya, juga memiliki kisah karomah yang cukup masyhur. Dikisahkan bahwa suatu ketika di tengah-tengah khutbahnya di Madinah, sahabat Umar berteriak keras-keras,”Wahai Sariyah, merapatlah ke gunung! Merapatlah ke gunung!”. Lalu, Sariyah bin Zunaim, panglima perang yang diutus Umar ke daerah Pasa dan Abajirda, tersentak mendengar seruan Umar dari Madinah itu. Ia segera memerintahkan pasukannya yang terhimpit oleh musuh untuk bergegas merapatkan diri ke gunung. Akhirnya, pasukan muslim yang dipimpinnya selamat, bahkan berhasil memukul balik pasukan musuh.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA