Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 12) Pintu Kewalian Tidak Pernah Tertutup

banner post atas

Terkait dengan keberadaan pintu kewalian dan karomah, apakah saat ini masih terbuka lebar ataukah sudah tertutup rapat?. Untuk menjawab pertanyaan yang menggelitik ini, penulis menukil penjelasan tuntas dari al-Syaikh Muhammad Nafis ibn Idris al-Banjari yang tertuang dalam kitabnya, “al-Durru al-Nafiis” (Permata yang indah). Sebagai jawaban awal yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Nafis dalam menjawab dan menjelaskan tentang pertanyaan diatas ini adalah dengan mengungkapkan pernyataan;
مَنْ طَلَبَ شَيْئًا بِجِدِّهِ وَجَدَهُ
“Siapa yang mencari sesuatu dengan kesungguhan, maka pasti ia mendapatkannya”.

Selanjutnya, al-Syaikh Muhammad Nafis menjelaskan dengan mengatakan bahwa hendaknya jangan kita terpengaruh dengan pendapat yang mengatakan bahwa pada masa sekarang ini tidak ada lagi yang dapat memeroleh ”maqom kewalian” karena sudah mendekati akhir zaman. Pendapat itu adalah tertolak (al-Mardud)”. Pendapat itu pula menunjukkan adanya rasa dengki (al-Hasad) dan rasa ingkarnya (al-‘Inad). Bila dalam iktikad mereka tumbuh anggapan bahwa Allah Subhanahu wa ta`ala tidak kuasa lagi mendatangkan karomah dan wilayah kepada hamba-Nya, maka iktikad yang demikian adalah kufur.

Dan lebih jauh lagi, al-Syaikh Muhammad Nafis menjelaskan dengan mengatakan lagi, sebenarnya bagi Allah Subhanahu wa ta`ala itu tidak ada kesulitan sedikit pun untuk menganugerahkan kewalian kepada hamba-Nya kapan saja dan kapanpun Dia mau, kini mau pun masa yang akan datang. Hal ini, sebagaimana juga tidak sulit bagi Allah Subhanahu wa ta`ala menganugerahkan kewalian itu kepada mereka yang terdahulu. Dan menurutnya, untuk memperoleh tingkat kewalian, berhubungan dengan ketekunannya, kesungguhannya, latihan-latihan tertentu.

Iklan

Sehingga memercepat datangnya. Dalam hal inipun, al-Syaikh Muhammad Nafis, memperkuat pendapatnya ini dengan menukil apa yang dikatakan oleh al-Syaikh Yusuf Al-Mishri rahimahullahu Ta’ala. Dimana, sewaktu beliau mengajar di Masjidil Haram, mengatakan bahwa pendapat di kalangan Ahli Sufi yang menyatakan bahwa tingkatan (al-Maqom) kewalian itu bisa di dapat dengan usaha seperti tersebut di atas adalah suatu pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan (al-Mu`tamad). Dan menurutnya, bagi mereka yang telah mendapat pangkat kewalian itu adalah mereka yang benar-benar tekun melakukan ibadat dan melawan hawa nafsunya sendiri. Tentang kemungkinan dianugerahkan pangkat kewalian tanpa usaha demikian adalah yang jarang terjadi (an-Nadir).

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 5) Mukasyafah Maulana Syaikh

Masih dalam penjelasannya al-Syaikh Muhammad Nafis, dimana beliau menukil perkataan Syekh Muhammad bin Abdul Karim dalam risalah beliau yang bernama “Unwan al-Jalwati fi Sya’ni al-Khalwati”, bahwa seseorang akan mendapat pangkat wali dan al-Abdal (wali-pengganti) pada umumnya dengan melaksanakan segala rukun-rukunnya. Sementara itu, yang dimaksudkan dengan rukun-rukunnya dalam mendapat pangkat kewalian itu adalah sebagai berikut:
1. Khalwat
2. Tahan lapar, berpuasa
3. Tidak banyak bicara
4. Berjaga malam, tidak banyak tidur.

Selanjutnya dalam mengakhiri dan memantapkan penjelasannya, al-Syaikh Muhammad Nafis, mengutip apa yang pernah dikatakan oleh al-Syaikh Mahyuddin Ibnu al-‘Araby, sebagaimana berikut ini:
يَا مَنْ اَرَادَ مَنَازِلَ اْلاَبْدَالِ # مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِلْاَعْمَالِ
لَا تَطْمَئِنَّ فِيْهَا فَلَسْتَ مِنْ اَهْلِهَا # اِنْ لَمْ تَزَاحَمْهُمْ عَلَي اْلاَحْوَالِ
بَيْتُ اْلوِلاَيَةِ قُسِمَتْ اَرْكَانُهُ # سَادَاتِنَا فِيْهِ مِنَ اْلاَبْدَالِ
وَبَيْنَ صُمْتٍ وَاعْتِزَالٍ دَائِمٍ # وُاْلجُوْعِ وَالسَّهْرِ وَالنَّازِهِ اْلعَالِي

“Wahai orang-orang yang menginginkan pangkat abdal, Tapi tiada maksud untuk beramal, Tidak mungkin anda dapat merasakannya, Dan anda bukanlah ahlinya, Bila anda tidak melaksanakan segala ahwalnya, Istana kewalian itu terbagi atas rukun-rukun tertentu,Sepanjang pendapat penghulu-penghulu kita, Yang diantaranya terdapat wali abdal, Yaitu, tidak banyak kata dan mengasing diri, Menahan lapar dan berjaga,
Memuji dan tasbih kepada Allah yang Maha Tinggi”.

Memerhatikan sekilas penjelasan di atas, maka makin jelas bagi kita bahwa apa yang telah disebutkan oleh al-Syaikh Muhammad Nafis ibn Idris al-Banjari dalam kitabnya itu yang menyebutkan tentang pintu kewalian yang tetap masih terbuka dan tidak pernah tertutup, maka untuk memperluasan wawasan kita dan menguatkan pendapat diatas, perlu kita perhatikan pernyataan yang disampaikan oleh al-Syaikh Ahmad Ibn `Atha`illah dalam kitabnya, “al-Hikam”. Dimana sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam kitab tersebut, al-Syaikh al-Imam Ibn Athaillah menyebutkan adanya sebuah pertanyaan menarik dari seorang muridnya yang bernama Abdul `Aali yang mengajukan pertanyaan dengan mengatakan, apakah syarat yang harus diperbuat oleh orang-orang yang ingin menjadi wali Allah?. Pertanyaan tersebut, selanjutnya di jawab dengan mengatakan, ada dua belas syarat, yaitu;

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 27) Mukasyafah Maulana Syaikh Bagian 1

1. Benar-benar mengenal Allah, yakni mengerti benar Tauhid dan mantap imannya kepada Allah Subhanahu wa ta`ala
2. Benar-benar menjaga perintah Allah Subhanahu wa ta`ala
3. Berpegang teguh pada sunnah Rasul Shallallaahu `alaihi wa sallam
4. Selalu berwudhu, yakni jika berhadats, maka segeralah memperbaharui wudhu`nya
5. Rela menerima hukum qadha Allah Subhanahu wa ta`ala dalam suka dan duka
6. Yakin terhadap semua janji Allah Subhanahu wa ta`ala
7. Putus harapan dari semua apa yang di tangan makhluk atau manusia
8. Tabah, sabar menanggung berbagai derita dan gangguan orang
9. Rajin mentaati perintah Allah Subhanahu wa ta`ala
10. Kasih sayang terhadap semua makhluk Allah Subhanahu wa ta`ala
11. Tawadhu` atau merendah diri terhadap orang yang lebih tua atau lebih muda
12. Selalu menyadari bahwa syaithan itu adalah musuh yang utama.

Sementara sarang syathan itu ada alam hawa nafsu dan selalu berbisik untuk mempengaruhimu.
Selain itu, al-Syaikh al-Imam Fakhrurrazi telah menukil dari para ahli Ilmu Kalam dalam Tafsirnya, ”Sesungguhnya wali Allah adalah orang yang memiliki keyakinan yang benar, yang dibangun di atas pondasi dalil-dalil yang shahih, ia senantiasa berbuat amal shalih, yang sesuai dengan ketentuan syariat. Dan dalam kesimpulannya, bahwa kewalian itu dapat ditetapkan berdasarkan tiga kaidah utama, yaitu; Keimanan yang shahih (benar), Amal yang hanya diikhlaskan karena Allah Subhanahu wa ta`ala semata dan sesuai dengan ketentuan as-Sunnah.