Kesatria Hebat dan Menara Bintang

Kesatria Hebat dan Menara Bintang

Dahulu kala hiduplah seorang Kesatria. Hampir segala nya sudah ia miliki dalam hidupnya, baik itu paras yang rupawan ,tahta, sanjungan, serta pengikut setia. Bahkan banyak masyarakat yang segan kepada dirinya. Sampai dia merasa tinggi hati dan berbangga diri.

Diapun bertanya pada dirinya sendiri “Semua nya telah saya miliki dalam hidup ini, saya tidak tahu harus berbuat apalagi”

Hingga pada suatu hari, saat dia mengembara ke sebuah hutan larangan. Dia bertemu dengan seorang penyihir tua, dan diberilah ia sebuah gulungan.

“Apa ini?” Tanya si Kesatria pada penyihir itu
“Simpanlah gulungan itu wahai Kesatria. Tapi ingat, jangan sekali-kali engkau membuka gulungan tersebut sampai batas waktu yang tidak ditentukan”

“Kenapa kau memberikan ini padaku? Dan kenapa aku tidak boleh membukanya”

“Melalui gulungan itu, kamu akan menemukan sesuatu yang belum pernah kamu dapatkan dalam hidupmu”

“Benarkah? Tapi bagaimana bisa? Aku bahkan tidak tahu apa yang belum pernah kudapatkan”

Belum selesai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalanya, penyihir itu sudah lebih dulu menghilang dan meninggalkan sang Kesatria.

Setelah berbulan-bulan menyimpan gulungan yang diberikan oleh sang penyihir, Kesatria dilanda kegalauan yang sangat hebat. Pasalnya, ia ingin sekali membuka gulungan tersebut, tapi penyihir itu melarang nya. Namun karena rasa penasarannya yang sangat besar, akhirnya dibukalah gulungan tersebut.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih tiba-tiba lidah Kesatria menjulur panjang hingga keluar dari mulutnya. Bahkan panjang lidahnya melebihi pohon kelapa yang paling tinggi. Ia menyesal, sangat menyesal karena tidak mengidahkan larangan penyihir tersebut. Sampai-sampai ia melilitkan lidahnya ke bagian leher hanya karena panjangnya yang sampai menyeret ke tanah.

Apa yang harus ia lakukan? Dia tidak tau harus bagaimana.
Pengikut setia yang dulu memujanya kini berbalik menghina dan pergi meninggalkannya. Para raja dan bangsawan yang dulu memuji ketangguhannya kini malah ingin mengasingkan dirinya.
Bahkan ada yang sampai hati memberinya julukan sebagai “Kesatria buruk rupa yang berlidah panjang”

Terpaksa ia harus pergi dari tempat tinggalnya dan memutuskan untuk tinggal diatas pohon kelapa. Meski begitu, lidahnya tetap saja masih menjuntai ke tanah.

Muak dengan perkataan orang-orang yang menghinanya. Ia pun kembali kedalam hutan larangan. Niatnya ia ingin mencari penyihir itu dan memintanya untuk mengembalikan wujud aslinya seperti dulu. Belum jua bertemu dengan penyihir tersebut, ia justru bertemu dengan seorang kakek tua yang berjalan tertatih-tatih. Tanpa diduga kakek tersebut justru menghampiri sang Kesatria dan bertanya

“Permisi nak”

“Ada apa pak tua? Apa kamu juga mau menghina saya? Silahkan kalau kamu mau, saya sudah tidak peduli dengan itu semua”

“Saya sangat haus sekali, bisakah kamu menunjukkan saya jalan ke sumber mata air”

Disatu sisi ia tidak mau menolong kakek tersebut, karena dia berpikir bahwa pada akhirnya kake itu akan tetap menghinanya. Tapi dia juga kasihan karena sepertinya kakek itu sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Dengan langkah terpaksa Kesatria pun bergegas menghantarkan kakek tua itu ke sumber mata air. Dan tibalah Kesatria dan kakek tua disumber mata air terdekat.

“Terimakasih nak. Kalau boleh tahu, apa tujuan kamu datang ke hutan larangan ini? Hutan ini sangat berbahaya untukmu”
Tanya kakek tua pada sang Kesatria

“Saya ingin meminta seorang penyihir untuk mengembalikan saya ke wujud asli saya yang dulu”

“Itu tidak mungkin”

“Kenapa begitu? Apa anda ingin saya berada dalam keadaan seperti ini selamanya?”

“Bukan itu maksudku, penyihir itu hanya akan muncul setiap seribu tahun sekali, dan itu masih sangat lama”

“Lalu apa yang harus saya lakukan? Saya tidak ingin seperti ini terus. Saya malu melihat diri saya yang seperti ini. Menjijikkan, sangat menjijikkan”

“Hanya ada satu cara yang bisa kamu lakukan. Pergilah ke sebuah menara bintang. Disana engkau bisa mendapatkan apapun yang kamu mau, termasuk megubah diri seperti dulu lagi”

“Apapun itu akan saya lakukan”

Akhirnya Kesatria mengikuti arahan kakek tersebut untuk datang ke menara bintang.

Untuk bisa sampai di menara, Kesatria harus melewati beberapa medan. Tentu saja medan tersebut tidak mudah untuk dilewati.
Saat ia tiba disebuah lembah, ia dihadapkan dengan seekor binatang buas. Karena tidak membawa perbekalan senjata, Kesatria harus rela kehilangan sebelah tangannya.
Meski begitu, ia tetap bertekad untuk melanjutkan perjalanannya menuju menara bintang.
Setelah berhasil melewati lembah, ia melanjutkan perjalanan melewati sarang monster. Di sana Kesatria kembali mendapatkan kemalangan. Ia kehilangan satu kakinya.

Tidak peduli dengan luka yang sudah didapat, diapun kembali melanjutkan perjalanannya.
Kemudian setelah berhasil melewati sarang monster itu, ia melanjutkan perjalanan dengan melewati rawa yang pada akhirnya untuk melewati rawa tersebut sang kesatria harus berenang.
Rasanya ia ingin menyerah saja untuk dapat sampai dimenara bintang. Terlalu banyak rintangan yang harus ia lalui. Tapi jika ia berhenti berjuang sampai disini, ia sudah kehilangan satu kaki dan tangannya, dan ia tidak mau perjuangan yang sudah ia lakukan itu sia-sia.

Setelah berhasil melewati berbagai macam rintangan berat, Kesatria akhirnya dapat tiba juga di menara bintang.

Setibanya di menara Kesatria terkejut karena banyak orang yang berkumpul disana, berharap agar keinginan mereka juga dapat terwujud .
Namun betapa bingungnya Kesatria ketika melihat tidak ada seorang pun dari mereka yang berkumpul yang juga kehilangan anggota tubuh seperti yang ia alami.

Ketika Kesatria mendekat ke arah menara bintang, ia kembali di buat keheranan. Karena tak ada satupun celah untuk bisa memasuki menara tersebut.

Lalu Ia pun bertanya pada mereka yang lebih dulu tiba di menara tersebut.

“Hey bagaimana caranya untuk bisa masuk kedalam?”. Ujar sang Kesatria

Kemudian salah satu dari merekapun menjawab “Entahlah, tiada satupun pintu atau jendela yang bisa di masuki”

Banyak orang yang memanjat menara tersebut untuk dapat masuk kedalamnya. Namun tak ada seorang pun yang dapat memasukinya.
Jika menara ini tidak bisa dimasuki dengan cara dipanjat, mungkin menara ini bisa dimasuki dengan cara dirobohkan. Berpikirlah si Kesatria agar dapat masuk kedalamnya. Dan tercetuslah sebuah ide

“Hey semuanya. Aku ingin meminta bantuan kepada kalian. Aku tau bagaimana cara untuk masuk kedalam menara ini”.
Teriak sang Kesatria kepada orang yang berada di sekeliling menara.

“Yang kamu bicarakan itu hanyalah omong kosong belaka. Sejak aku berada dimenara ini, tidak ada seorang pun yang berhasil masuk kedalamnya. Jadi jangan berteriak seperti orang gila dan memberikan kami cara yang sia-sia” Ungkap salah satu orang yang juga berada disana

“Kau boleh menyebutku gila. Tapi, yang harus kita lakukan sekarang adalah menggali tanah dibawah menara ini lalu merobohkan menaranya. Aku serius, jika kita bersama-sama untuk merobohkan menara ini, aku yakin kita akan bisa masuk kedalamnya. Dan impian kita untuk masuk kedalamnya akan segera terkabul” lanjut Kesatria

Mereka saling pandang satu sama lain. Menurut mereka, tidak ada salahnya mengikuti saran sang Kesatria.
Semua orang yang ada disitupun membantu sang Kesatria untuk menggali tanah tersebut.

Dan yang terjadi adalah menara itu roboh. Sehingga semua orang dapat masuk kedalamnya. Kesatriapun mendapatkan wujud aslinya kembali.
Dia sangat bahagia dan bersyukur atas apa yang didapat nya. Perjuangan dan kesabaran yang selama ini ia lakukan akhirnya membuahkan hasil. Andai saja ia tidak kembali melanjutkan perjalanan ke menara bintang, mungkin tubuhnya tidak akan kembali seperti dulu lagi. Kebahagiaan nya ini tidak dapat diutarakan oleh apapun.

Seketika Ia pun terbangun dari mimpi buruknya.
Badannya gemetar hebat, keringatnya mengucur deras. Ternyata apa yang selama ini ia hadapi hanyalah sebuah mimpi buruk yang tak pernah ia harapkan terjadi dalam hidupnya.

Dan sekarang ia menemukan jawaban tentang apa yang belum ia miliki selama ini. Yaitu kebahagiaan yang dirasakan saat bersyukur atas pemberian dari sang maha kuasa. Itulah yang belum pernah ia dapatkan dalam hidupnya.

Menghargai orang lain yang tidak memiliki kemampuan seperti dirinya adalah hal yang penting juga agar tidak merasa tinggi hati. Dan bersabar atas segala kesusahan yang menimpa adalah wajib hukumnya.

Boleh berbangga diri atas apa yang telah dicapai, namun jangan sampai merendahkan orang lain. Karena awan yang tinggi saja tidak pernah menginjak-injak rumput yang berada dibawahnya, justru ia memberikan berkah dengan hujan yang diturunkannya.

“Semakin kita menghargai sesuatu, semakin kita akan menghargai diri sendiri”

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA