Beberapa hari yang lalu saya melihat Tulisan yang di publish oleh Yunda Muna Daswadi di akun Media Sosialnya yang Berjudul “Apa Bangganya jadi Himmawati”, namun karena ada perkerjaan lain saya hanya membaca judulnya saja, namun ketika tulisan itu dibahas oleh salah seorang Senior saya bergegas untuk me-research tulisan itu kemudian membacanya, tulisan yang lebih condong berisi sebuah Keritikan terhadap kaum Maskulin ini nampaknya telah menciptakan Dua Kubu yaitu Kubu Pro dan Kubu Kontra. Saya sendiri berada diantara kedua kubu tersebut, disatu sisi pro disatu sisi kontra, karena saya berada dimana Himmah mengalami Transisi Kesetaraan, dari masa Himmawati hanya sebagai Pembuat Kopi sampai pada masa Himmawati Menikmati Kopi sambil berdiskusi.
Kemudian tulisannya dibalas oleh Kanda Ozi Rozek yang berjudul “Formalitas kajian Gender Equality dalam Keseharian kita” dengan beberapa Refrensi Dia menulis bagaimana awal kedudukan Perempuan sejak dulu hingga hari ini, dan didalam tulisan itu pula menjelaskan tentang Laki-laki/Himmawan hari ini masih terbiasa dengan Budaya Lokal, sehingga ia memperlakukan Perempuan/Himmawati layaknya Perempuan dulu yang masih memiliki keterbatasan dalam bergerak, berpikir, dan belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk membersamainya diskusi, hingga tak Jarang perempuan hanya dijadikan sebagai Internal Support Kitchen.
Kemudian dibalas lagi Oleh saya sendiri, dalam Tulisan itu saya menjelaskan Bahwa Gagasan dari Himmawati sudah banyak sekali disumbangkan dan diaplikasikan, Mungkin karena dulu Dia belum pernah bertemu dengan Yunda Ahyani Fadla, Yunda Lailatul Ismi, sehingga dia lupa dengan gagasan-gagasan yang telah disumbangkan Himmawati untuk HIMMAH ini, dan ada satu hal yang harus difahami dalam membuat suatu Asumsi tentang Himmawati miskin Gagasan, seharuanya jauh-jauh hari sebelum mengatakan hal seperti itu dia seharusnya mengadakan Analisis ataupun Riset terlebih dahulu untuk itu saya mengatakan “Mainnya Kurang Jauh”, karena HIMMAH ini menyangkut banyak komisariat bukan hanya Komisariat dimana tempat kita berhimpun saja.
Lalu Tulisan Kanda Rozi dibalas lagi Oleh Yunda Muliani dengan Tulisan yang seolah memiliki Intonasi tinggi ketika kita membacanya, itu menggambarkan sikap Kontranya dan Keberatannya terhadap pendapat Kanda Rozi yang mengatakan bahwa “Himmawati Tidak pernah menyumbangkan Gagasan untuk HIMMAH” dengan sikap pembelaan terhadap kaum himmawati ia menunjukkan dalam tulisannya Betapa banyak Jasa Himmawati dalam Kehidupan Ber-Himmah ini, Himmawati memang belum banyak yang pandai Bicara namun pergerakannya dilakukan bukan hanya dengan bicara didepan banyak kader, tapi dilakukan dengan cara berbicara dibelakang untuk menaklukkan Hati kaum Himmawan yang pandai beretorika namun ketika Himmawan sudah terjun dalam Lembah Bucinisme nampaknya Perasaannya telah mengelabui Kepandainnya dalam Ber-retorika, sehingga tak jarang Himmawan Tunduk pada Himmawati karena alasan Perasaan. Dalam tulisan Yunda Mulaini juga menjelaskan betapa kurangnya Hidup Himmawan tanpa Himmawati, Perempuan memang tak selalu bisa menjadi Pemimpin namun jika perempuan tidak ada Siapa yang akan dipimpin, karena sefahamnya semua Laki-laki berambisi untuk menjadi pemimpin. Belum lagi ketika hidup dalan biduk Rumah Tangga peran wanita sudah tidak bisa diragukan lagi, berkerja non-stop tanpa Gaji tanpa Upah melayani suami, melayani anak, sampai lupa melayani dirinya sendiri sebagai seorang Wanita.
Kemudian tulisan ini mendapat balasan lagi dari Kanda Abdul Hafiz dengan Judul “Lupa Esensi Sebagai Perempuan” yang mana dalam tulisan ini menggambarkan kondisi Perempuan masa Dulu dengan Perempuan masa sekarang, perempuan masa dulu sangat terikat dengan aturan Budaya, Keluarga, dan Mayarakatnya, sehingga perempuan kala itu tidak memiliki Peregerakan, dan tidak diperbolehkan Keluar Rumah, dan menghabiskan waktunya dirumah untuk Bertenun, seiring berjalannya waktu kelonggaran aturan semacam ini terjadi seiring berkembangnya zaman sehingga Perempuan mulai diperbolehkan Keluar Rumah, diperbolehkan untuk Sekolah, Berkerja dan lain sebagainya seperti Halnya yang dilakukan oleh Lelaki. Namun seringkali karena kebebasan yang diberikan Perempuan seringkali lupa bahwa Dirinya adalaha perempuan sehingga dalam tulisannya Kanda Hafiz menyarankan untuk membaca Buku “Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan”
Mungkin beliau Sebagai seorang laki-laki melihat Perempuan Modern saat ini banyak yang lupa dengan Ke-perempua-nan-nya
Memang dari satu sisi Perempuan hari ini sangat Diberikan Kebebasan untuk menjalani Hidupnya, tapi disatu sisi Kebebasan membuatnya Kehilangan jati dirinya sebagai seorang Perempuan. Banyak sekali perempuan yang kehilangan Rasa Hormatnya kepada kaum laki-laki karena merasa diri lebih hebat darinya, banyak Perempuan yang menindas laki-laki karena Merasa diri lebih berkuasa darinya. Kebebesan bagi perempuan diibaratkan sebagai Dua Mata Pisau, satu sisi bisa menyelamatkannya satu sisi bisa menghancurkannya.
Namun kembali Lagi kita harus sadar Akan Eksistensi HIMMAH hari ini hadir untuk menyeimbangkan “Kebebasan” yang ada dalam diri Himmawati, HIMMAH hadir untuk memberikan Kebebsana yang ter-struktur untuk Himmawati, Himmawati harus menjadi Perempuan yang kaya akan gagasan, Berintelektual, Berani Mengambil Tindakan, harus berani memimpin tanpa melupakan Bahwa dirinya adalah Perempuan. Dalam setiap Kajian ke-Himmawati-an juga Perempuan selalu ditekankan untuk Berani, namun selalu diingatkan untuk selalu Menghormati kaum lelaki, bukan berarti berani lalu tidak lagi menghoramati laki-laki, namun men-sinkron-kan antara Keberaniaanya dengan Kehoramtannya pada kaum Laki-laki.
Kemudian Muncul lagi Tanggapan kedua dari Kanda Rozi dengan tulisan yang berjudul “Eksistensi kehimmawatian yang kerap kali terkubur” dengan paksa saya harus mengedit tulisan yang saya tulis tadi pagi dan menambahkannya sesuai dengan Tanggapan yang telah ditulis. Yang dikatakan oleh nya memang Mengandung Kebenaran tapi disatu sisi juga ada beberapa hal yang harus diluruskan, kebenarannya adalah bahwa Eksistensi Himmawati saat ini memang Bisa dikatakan terkubur atau Redup, tak banyak Himmawati yang mau menampakkan diri karena alasan Tawadu’ dan Mental yang masih belum Matang, seperti yang saya Katakan beberapa Hari yang lalu, PR HIMMAH Hari ini bukan mencari Himmawati yang Memiliki Intelektual tinggi, HIMMAH punya itu sejak dulu, namun yang perlu Difokuskan adalah Mental Himmawati harus benar-benar dimatangkan, bukan hanya sekedar jual tampang Cantik lalu Keberadaanya dianggap ada oleh Kaum Lelaki, namun Himmawati harus lebih banyak menampilkan diri dalam Forum-forum besar atau Dengan kata Lain harus bisa Speaking Publik layaknya Himmawan.
Yang perlu diluruskan adalah perihal Pengakuan, memang hari ini dizaman Modern ini semua orang perlu Pengakuan untuk menunjukkan Keberadaannya, sehingga tak Jarang orang-orang memperlihatkan Citra terbaiknya dimedia sosial untuk mendapat pengakuan dari orang-orang, tak peduli seberapa buruk ia dalam kehidupan nyata tetapi Pengakuan didunia Maya lebih penting karena mudah untuk didapatkan. Sebelum saya aktif menulis Ada Yunda Husna dari Komisariat Universitas Hamzanwadi yang sering menulis kemudian di publish di Blog ataupun akun media sosialnya namun tampaknya Keberadaan tulisannya belum diakui sebagai karya seorang himmawati, entah karena tidak pernah dilihat ataupun karena tidak diketahui bahwa Dia adalah Himmawati. Namun kalau hanya sekedar mencari Pengakuan tanpa Implementasi yang nyata justru akan Lari kepada Sensasional nantinya, dan beberapa kali saya pernah berbicara didepan Banyak orang atau Forum besar, dalam hati ingin sekali menampakkannya ke media sosial untuk mendapatkan pengakuan dari Orang banyak namun disatu sisi saya harus bermain dengan Ego saya, bahwa Berkerja Secara nyata itu kadang tidak perlu pengakuan namun memerlukan hasil yang nyata, atau bahasa lainnya Output dari tindakan itu lebih diutamakan.
Ada Satu Point penting dari semua tulisan-tulisan diatas, yaitu Himmawan dan Himmawati harus saling mendukung satu sama lain, satu sisi Himmawan harus memberikan Ruang yang sama untuk Himmawati supaya tidak ada lagi penerapan Budaya Lokal dalam berdiskusi, kalau perihal Pembuatan Kopi itu bisa diatur tanpa harus mengorbankan satu orang untuk kepentingan banyak orang, disatu Sisi himmawati juga harus Bangun supaya Himmawan yang skeptis terhadap pergerakan Himmawati bisa percaya dan yakin bahwa HIMMAH ini sangat Kaya akan Gagasan dari HIMMAWATI karena kalau satu Himmawati saja yang Berani, Himmawan akan merasa Diri menang, tapi ketika banyak Himmawati yang menunjukkan Keberaniannya bisa jadi Himmawan akan kocar-kacir karena khawatir kedudukannya diambil, tapi tidak seperti Demikian juga.
Antara Himmawan dan Himmawati harus benar-benar setara tanpa ada Ambisi terhadap perasaan Lebih Berkuasa. Dan Sadar atau tidak sadar, atau mungkin banyak yang kehilangan kesadaran bahwa sejak dulu Himmawan dan Himmawati saling membutuhkan satu sama lain, himmawan sering lupa akan peran pentingnya himmawati yang sering berkerja dibelakang layar untuk men-sejahterakan Perut himmawan, Himmawati juga kadangkala lupa bahwa Kehadirannya dibelakang layar sebagai Support System nomer Satu untuk keberlanjutan Hidup Himmawan yang sedang berkerja didepan Layar.
Tanpa Himmawan Apa jadinya Himmawati, tanpa Himmawati hidup Himmawan tidak akan terasa Lengkap. Himmawan Himmawati seperti dua buah Unsur yang harus saling melengkapi, membangun, dan mendukung satu sama lain.
Catatan : Dari Tulisan Ini semoga lahir tulisan yang baru dari kader-kader HIMMAH, dan semoga dengan tulisan seperti ini dapat mendorong kader yang lain untuk Menulis.
#BangkitkanLiterasiHIMMAH




