إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ﴿١﴾فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿٢﴾
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ﴿٣﴾. ﴿الكوثر(١٠٨):١-٣﴾
Artinya:
1.Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang sangat banyak.
2.Maka Dirikanlah shalat Karena ALLAH Tuhanmu; dan berkorbanlah karena ALLAH.
3.Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. Al Qur an surat Al Kautsar (108) : 1 – 3.
Kita sudah diberikan nikmat yang begitu banyak oleh ALLAH SWT, nikmat Iman, nikmat Islam, nikmat sehat yang sangat mahal harganya, nikmat panca indera, akal fikiran, hati nurani, anggauta badan, juga jantung, paru paru, hati, ginjal dan alat pencernaan yang luar biasa, serta ruh / jiwa yang memberikan kehidupan kepada kita, sehingga ada ungkapan:
Hidupnya jasad karena ada ruh, kalau tidak ada ruh bangkai namanya.
Hidupnya ruh karena ada Iman, kalau tidak ada iman kambing namanya.
Hidupnya iman karena ada Ilmu, kalau tidak ada ilmu T.O.L.O.L
Hidupnya ilmu harus ada amal, kalau tidak beramal, seperti pohon tidak berbuah,
Tidak bermanfaat.
Hidupnya amal harus dengan Ikhlas, kalau tidak ikhlas Ria namanya.
Dan adanya ikhlas karena ada rasa Ihsan.
Seakan akan ALLAH SWT bertanya kepada kita, wahai manusia hambaku, maukah kamu kuberikan nikmat yang banyak untukmu ?.
Maka kitapun menjawab:” Mau Ya ALLAH, karena Engkaulah Maha pemberi nikmat yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Kalau begitu Sholatlah karena ALLAH, untuk ALLAH dan bagi ALLAH Tuhanmu, dan ber-Qurbanlah untuk ALLAH, bagi ALLAH dan karena ALLAH Tuhanmu, maka segala kesulitan, kesusahan, halangan, rintangan, tantangan dan semua problema kehidupanmu ini ALLAH lah yang akan menyelesaikannya, ALLAH yang membantu kamu, karena Dia ALLAH SWT Yang Maha berkuasa, Maha Hebat, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap hambaNya, jadi Motivasi / niat harus karena ALLAH semata.
Kita lihat pula betapa Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika terjadi perkelahian didalam pertempuran dengan musuhnya disuatu peperangan. Ketika kuda musuhnya rebah terkena pedang Ali dan musuhnya tersungkur, beliau ingin menikamnya, tiba tiba orang itu meludahi muka Sayyidina Ali ra. Dengan serta merta Sayyidina Ali ra menarik kembali pedangnya tidak jadi menikamnya dan meninggalkan musuhnya dalam keadaan terheran heran. Begitulah yang dilakukan Sayidina Ali ra.
Tatkala satu waktu beberapa tahun kemudian selesai dari thawwaaf di Ka`baitulloh, Ali didekati oleh seseorang, dan beliau ditanya;
“ Engkaukah Ali bin Abi Thalib ?” “Ya” jawab Ali. “ Ada apa?” Tanya Sayyidina Ali ra.
Orang itu berkata lagi:” Ingatkah engkau tatkala beberapa tahun yang lalu, didalam suatu peperangan engkau menebas kaki kuda musuhmu, sehingga kudanya tersungkur. Lalu engkau akan menikam musuhmu tadi. Kemudian tidak jadi engkau menikamnya karena musuhmu itu meludahi muka kamu, bahkan engkau berpindah kemusuhmu yang lain. Ingatkah engkau akan peristiwa itu ?”
“Yah, aku ingat ” kata Sayyidina Ali : “Kemudian apa maksudmu mengemukakan itu ?” Orang itu menjawab : “ Wahai Ali, orang yang akan engkau bunuh pada waktu itu, adalah aku. Kini aku telah menjadi seorang Muslim. Sampai saat ini aku masih merasa heran akan peristiwa itu. Selalu timbul pertanyaan didalam hatiku. Mengapa Ali tidak membunuhku !?”
Sayyidina Ali ra berkata :” Selamat datang wahai saudaraku seiman. Alhamdu lillah. Adapun akan apa yang engkau pertanyakan itu adalah demikian;”
Andai kata aku membunuh kamu pada saat itu, berarti aku tidak memerangi kamu karena ALLAH, tetapi karena jengkelku kepadamu, karena nafsu marahku disebabkan mukaku engkau ludahi. Aku ingin sekali agar nawaituku / niat atau motivasiku bersih, Segalanya harus aku kerjakan atau tidak aku kerjakan karena ALLAH SWT.”
Mengetahui peristiwa itu, maka seyogianyalah orang Islam memelihara betul niatnya atau motivasinya yang lurus karena ALLAH SWT dan untuk dinilai oleh ALLAH SWT, karena dia adalah milik ALLAH dan dia harus melaksanakan semua perintah ALLAH, dan menjauhi semua laranganNYA, dan bertindak sebagai hamba ALLAH SWT dan bukan hamba Hawa Nafsu.
Motivasi / Niat yang lurus.
قُلْ إِنَّ صَلاَ تِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ(162) .﴿الأنعام (6): 162﴾
Artinya:” Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku dan ibadatku, pengorbananku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk dinilai oleh ALLAH dan aku lakukan karena ALLAH Tuhan yang memelihara sekalian alam. Dan aku sadar bahwa aku adalah kepunyaan ALLAH dan apapun yang aku sumbangkan juga adalah kepunyaan ALLAH.” Qs Al An’aam (6) : 162
Mengapa artinya begitu panjang !? Karena arti dari kata لِلَّهِ berasal dari لِ + اللهُ = لِلَّهِ . Sedangkan arti dari kata لِ = Karena, untuk dan kepunyaan. Kalau kita mengakui sebagai seorang Islam, tidaklah patut kita mencampakkan diri kita kedalam kebinasaan sebagaimana yang lalu, beberapa mahasiswa di Medan mencoba menggantung diri untuk meminta pemerintah menurunkan harga sembako.
Jangan pula kita berniat berqurban , berpuasa karena kita ingin mengurangi pemakaian jatah beras didalam kehidupan kita. Namun segalanya harus dimotivasikan karena ALLAH SWT.
Jangan “ bunuh diri.”
وَأَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوْا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ(195).
﴿البقرة (2) : 195﴾
Artinya:” Dan belanjakanlah (apa yang ada pada kamu) karena untuk (menegakkan) Agama ALLAH, dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam kebinasaan, Dan berbuat baiklah sesungguhnya ALLAH mengasihi orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya dengan rasa Ihsan”. Qs Al Baqarah (2) : 195
Bersambung…



