“Dibacakan dari Timur, Disimak oleh Cahaya”

“Dibacakan dari Timur, Disimak oleh Cahaya”

Sinar5news.com – Di suatu pagi pengajian di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits, suasana hening namun penuh getar ruhani. Di hadapan para santri dari berbagai penjuru pulau dan luar pulau, Maulana Syaikh duduk bersila dengan tenang, wajahnya memancarkan wibawa dan kasih yang bersatu. Pagi itu, sebagaimana biasanya, beliau tidak langsung membacakan kitab. Sebaliknya, beliau memandang sejenak ke kerumunan santri, lalu berkata pelan namun tegas:

“Lobar, bacakan…”, setelah itu, Loteng, bacakan, selanjutnya, Lotim, bacakan, dan seterusnya…

Maka, Seorang santri Ma’had dari Lobar, yang telah mempersiapkan diri sejak semalaman, segera memulai bacaan dengan kitab di tangannya. Suaranya lantang, lafaz Arabnya mantap, dan gerak matanya mengikuti baris demi baris dengan penuh hormat. Para santri yang lain menyimak dalam-dalam, sementara Maulana Syaikh sesekali mengangguk, terkadang menghentikan untuk mengoreksi, menafsirkan, atau memperluas makna.

Ayah kami, yang kala itu masih remaja dan belajar di Ma’had, sering mengisahkan momen-momen seperti ini dengan mata berbinar. “Setiap daerah ada perwakilan yang disiapkan,” katanya, “dan ketika nama daerahmu disebut, jantungmu berdegup lebih cepat. Bukan karena takut salah, tapi karena merasa dimuliakan dan dipercaya.”

Memanggil dengan nama daerah bukan sekadar kebiasaan teknis bagi Maulana Syaikh. Itu adalah cara beliau menanamkan rasa tanggung jawab kolektif, bahwa santri bukan hanya belajar untuk dirinya sendiri, tapi menyandang nama, marwah, dan harapan daerahnya. Ketika ” Lobar” dipanggil, maka seluruh santri dari Lobar menegakkan punggung, merasa ikut berdiri, ikut dibacakan. Ketika “Sumbawa” atau “Lombok Timur” dipanggil, maka semua dari sana ikut berdebar dan bangga.

Itu pula mengapa para santri bersungguh-sungguh dalam belajar. Mereka tahu bahwa mereka sedang menyuarakan daerahnya di hadapan seorang guru agung yang mengajar bukan hanya dengan ilmu, tapi dengan kasih dan visi besar. Maulana Syaikh membentuk para dai dan ulama bukan dengan tangan besi, tapi dengan sentuhan jiwa yang dalam.

Bukan hanya dalam pembacaan kitab, Maulana Syaikh juga memetakan para santri berdasarkan asal daerah mereka. Ada kelompok santri dari Bima, dari Dompu, dari Sumbawa, Lombok Tengah, Lombok Barat, bahkan dari luar Nusa Tenggara. Bagi beliau, setiap daerah adalah ladang dakwah yang unik, yang harus disemai dan dipanen dengan pendekatan kultural yang tepat.

Dalam momen-momen pelatihan dakwah atau latihan ceramah, Maulana Syaikh memiliki satu kebiasaan khas yang membuat para santri tak bisa main-main:

“Kalau engkau dari Bayan, ceramahlah pakai bahasa Bayanmu.
Kalau dari Sumbawa, bicaralah dengan bahasamu sendiri.”

Ayah kami seorang santri Ma’had walaupun karena keadaan waktu itu beliau tidak bisa menyelesaikan Ma’hadnya, beliau sering menuturkan kepada kami ketika mengaji Al- Qur’an, bagaimana para santri awalnya grogi, bahkan malu ketika harus berdiri di depan dan berceramah dalam bahasa daerahnya. Tapi perlahan mereka memahami: ini bukan sekadar latihan.

Maka, tidak heran, alumni-alumni Ma’had Darul Qur’an wal Hadits menyebar ke seluruh penjuru NTB dan Nusantara bukan sekadar sebagai guru atau ustadz, tetapi sebagai penerang masyarakat karena mereka sudah diasah untuk bicara dengan lidah umatnya sendiri.

Kebiasaan ini bukan semata teknik pengajaran. Ini adalah bentuk hikmah dan strategi dakwah yang mendalam, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ yang mengutus para dai sesuai dengan kondisi, bahasa, dan adat istiadat suatu kaum:

“Berbicaralah kepada manusia menurut kadar akalnya…” (HR. Muslim).

Sayuti Hamdani, QH.MA.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA