Dakwah TGB (96) TIGA HIKMAH DI BALIK CORONA

Dakwah TGB (96) TIGA HIKMAH DI BALIK CORONA

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa
Ada ungkapan, الدنيا دار البلاء والآخرة دار الجزاء “Dunia, panggung bala’. Akhirat, tempat balasan”. Saya percaya betul dengan ungkapan ini.

Kepercayaan saya ini, dilandasi ayat 155 dalam surah al-Baqarah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ .

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Pada ayat di atas, Allah menegaskan sebanyak dua kali menggunakan “taukid” (penguat) berupa huruf _lam_ dan _nun kedua_ pada kata وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ sebagai penanda akan betapa pastinya bala’ itu ada di dunia.

Bila demikian pastinya bala’ (ujian) di dunia, maka kedatangannya harus dihadapi, bukan diratapi. Tentu, sembari mencari jalan untuk berlepas diri darinya. Karena, potensi yang kita miliki masih jauh lebih besar daripada bala itu sendiri. Demikian kata Prof. Quraish Shihab saat menafsirkan kata “syaiun” pada ayat tersebut.

Memang, musibah siapa yang mau. Tapi, kalau ia datang, tak satupun kita yang bisa mengelak. Dan salah satu musibah terberat yang dialami manusia saat ini ialah Pandemi Covid-19.

Kehadiran Corona sangat menggemparkan dunia. Mulai dari rakyat biasa hingga petinggi negara, bingung harus berbuat apa. Para pemuka agama semua mengangkat tangan, menengadah ke langit mohon pertolongan Allah.

Para ulama, Tuan Guru dan Kiyai dari kalangan umat Islam, para Pedande, Pendeta, Pastur dan Biksu-biksu semua berdoa untuk keselamatan kita dan bangsa Indonesia. Sungguh, pandemi Covid-19 tak ada yang mau bersahabat dengannya.

Di tengah memuncaknya kegamangan dan kepanikan kita. Yang sampai sekarang, pandemi sebenarnya masih ada. Kitapun tetap dituntut menerapkan protokol kesehatan Covid-19, dan dianjurkan senantiasa berdoa agar virus ini hilang sepenuhnya.

Namun, selain berdoa agar Corona angkat kaki dari bumi ini, “Jangan lupa juga untuk kita berdoa, supaya hikmahnya itu ditetapkan oleh Allah di dalam diri ini.” Kata Syekhona mengingatkan hadirin sembari menyuntikkan optimisme.

BACA JUGA  Pangdam Cenderawasih Resmikan Pergantian Nama Kodim 1705/Paniai Menjadi Kodim 1705/Nabire

Apa saja hikmah yang bisa dipetik dari Pandemi global ini? Pada saat peresmian Pendopo Bapak H. Tresno Wikondo Rahardjo (Bali, 27-11-2021), saya menangkap ada tiga hikmah yang disampaikan Syekhona Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi.

*_Pertama_*, dalam suasana apapun, mari tetap menjadi jalan kebaikan.

Kapan saja ada peluang untuk berbuat baik, jangan pernah ditunda. Karena, kita tidak tau, kapan kebaikan itu akan ditutup. Terutama pasca pandemi. Mari masuki pintu-pintu kebaikan. Bahkan mestinya, kita sendiri yang harus menjadi jalan kebaikan itu.

*_Kedua_*, hikmah yang paling terasa dari adanya Corona ialah pengakuan bahwa sandaran yang paling kokoh dalam kehidupan ialah Allah swt. Bukan yang lain.

Bersandar kepada pejabat, ada masanya. Paling lama sekitar lima atau sepuluh tahun. Bersandar kepada orang yang kaya raya juga sama. Hartanya tak ada yang bisa menjamin tetap terjamin hingga esok hari.

BACA JUGA  Pondok Pesantren Sebagai Tolak Ukur Di Berbagai Bidang Kemaslahan Ummat.

Syekhona TGB menceritakan sekelompok orang dalam surah al-Qalam memiliki kebun yang sangat subur. Saking suburnya, mereka yakin besok pagi mereka akan memanen hasil buahnya. Tapi, dengan izin Allah. Pada malam harinya Allah kosongkan kebun itu. Apa sebab? Karena mereka lupa mengucap “insyaallah” sebagai bentuk sandaran kepada Allah swt.

Nah, bentuk sandaran utuh kita kepada Allah yang paling nyata saat Pandemi ini ialah dengan berdoa kepada-Nya. “Saya sebagai seorang muslim, saya percaya betul, bahwa kekuatan doa itu mengatasi semua kekuatan lahiriyah dalam kehidupan dunia.” Tegas Syekhona Tuan Guru Bajang.

Mau tau betapa dahsyatnya kekuatan doa. Coba saja renungkan! Protokol kesehatan yang kita miliki tidak lebih baik dari orang-orang Eropa dan negara-negara maju lainnya. Ilmu dan tehnologi kita untuk menghadapi pandemi, juga tidak lebih baik dari mereka.

“Vaksin saja kita masih mengambil dari luar negeri.” Kata Syekhona TGB menyentil.

Namun, alhamdulillah atas izin Allah, dibanding dengan mereka yang berada di negara-negara maju, kita bangsa Indonesia sebagai negara yang religius, masih relatif lebih cepat tersembuhkan dan terpulihkan. Alhamdulillah!

BACA JUGA  Alokasi Dana Otsus Untuk Papua Naik

*_Ketiga_*, dengan adanya Corona, “ukhuwah” persaudaraan sangat terasa pentingnya, terutama dalam mengentaskan kesulitan.

Selain mengandalkan kekuatan doa. Rasa persaudaraan, senasib dan sepenanggungan sebagai anak bangsa dan sesama umat manusia, adalah menjadi energi dahsyat yang bisa mengeluarkan kita lebih cepat dari bala ini.

“Berat sama dipikul. Ringan sama dijinjing.” Itulah gambaran utuh suasana batin kita sebagai sesama anak bangsa saat menghadapi Pandemi.

Rasa inilah yang dicontohkan oleh para pendiri bangsa, saat pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Padahal, saat itu mereka memiliki kepentingan yang tak sama. Pemikiran yang berlainan. Latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.

Sutan Syahrir, Kiayi Agus Salim, Bung Karno dan Bung Hatta, serta tokoh-tokoh lain dari Indonesia Barat, Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Mereka semua tokoh-tokoh yang berjiwa besar dan sangat bijaksana. Mereka siap membuang ego, demi kepentingan bersama dan demi bangsa.

Tak kebayang. Kalau saja umat Islam waktu itu tidak mau mengalah, maka Indonesia tidak akan ada. Kalau saja Umat Keritiani tidak membuka hati, Papua tak akan pernah bergabung. Demikian pula umat Hindu, kalau mereka tak berjiwa bijak, tidak mungkin Bali menjadi bagian dari Indonesia.

Alhamdulillah, semua pendiri bangsa saling membuka hati dan mengedepankan kepentingan bersama. Mereka rela bersatu dan bertemu dalam satu payung bernama Pancasila. Jadi, “Pancasila itu adalah titik temu kebijaksanaan.” Tegas Syekhona TGB.

Walhasil, keteladanan dari para pendahulu yang demikian bijak itu, harus terwariskan dan terus terawat oleh kita generasi sekarang. Sebuah keteladanan yang dibutuhkan di era Pandemi. Alangkah indahnya doa yang diajarkan Syekhona TGB al-Hafidz:

BACA JUGA  Soal Kasus di Sampar Maras, Kapolres Sumbawa : Serahkan Kepada Aparat Hukum

اللهم اجعلنا خير خلف لخير سلف .
“Ya Allah, jadikan kami generasi penerus yang baik, untuk para pendahulu yang baik.” (Bali, 27 Nopember 2021).

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 3 Desember 2021 M.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA