Dakwah TGB (60) ULAMA JUGA PEJUANG BANGSA

banner post atas

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa

Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang (TGB) kali ini di majelis Al-Ihya’ Bogor Jawa Barat. Banyak hal yang beliau sampaikan di tempat mulia ini, dan tentu dengan tema bahasan yang –pasti– berbeda dari sebelumnya di tempat-tempat yang lain.

Sebagai pengantar ulasan dakwahnya, Ulama yang hafal al-Qur’an 30 Juz ini mengapresiasi enam poto pahlawan dari kalangan ulama yang terpampang di tembok majelis tersebut. Salah satu di antara foto yang terpajang itu ialah al-Magfurulahu Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Kakek beliau sendiri.

Iklan

“Pemajangan poto seperti ini menunjukkan bahwa, dari awal, bahkan jauh sebelum hadirnya Republik Indonesia 1945, para ulamalah yang selalu di depan berjuang.” Kata beliau menegaskan di depan jamaah yang demikian padat.

Oleh karena itu –lanjut TGB–, adalah merupakan “suul adab” bila ada orang (siapapun) yang mencoba memisahkan antara keislaman dan keindonesiaan. Mengapa demikan? Sebab, kalau bukan karena دماء العلماء ومدادهم (darah ulama/syuhada’ dan tinta pena mereka), maka tidak akan pernah lahir yang namanya bangsa Indonesia ini.

Maka, poto-poto ulama yang terpampang di dinding-dinding kelas, perkantoran atau di rumah dan bahkan di tempat manapun, harusnya semua itu dimaknai –sekaligus– sebagai pengingat bagi kita bahwa mereka juga para pejuang bangsa.

Cara memandang dan beradab yang baik kepada para ulama dan prjuang bangsa terdahulu, kita dicontohkan oleh syekh TGB cara dengan cara membacakan atau menghadiahkan mereka “fatihah”, semoga amal shaleh dan kontribusi mereka diterima oleh Allah swt.

Adab dan pengakuan kita akan peran ulama terhadap kebangkitan tanah air, atau juga dalam mempertahankan kemerdekaan bukan sebatas retorika dan klaim semu. Contoh konkrit para pejuang itu, yakni seperti Imam Bonjol, Tengku Cik Dik Tiro, KH. As’ad Syamsul Arifin dan lainnya.

BACA JUGA  Masuki New Normal Forkopimda NTB Lakukan Rakor Tangani Covid-19 Di Mataram

Saat Indonesia telah lahir, ulama juga tak pernah sepi berkontribusi, semisal Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan Resolusi Jihadnya di pulau Jawa, mampu mengobarkan semangat jihad kala itu. Di NTB ada Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang siap aktif merancang taktik perang oleh pasukan al-Mujahidin menyerang NICA di Selong.

Akhirnya, dengan pemaparan ini, kita berharap para ulama secara khusus, atau umat Islam secara menyeluruh, untuk tidak pernah berhenti berkontribusi bagi bangsa dan negara tercinta ini.

Pemikiran, perjuangan dan bahkan doa kita umat Islam sangat dinanti bangsa ini.

Wa Allah A’lam!

PP. Selaparang, 31 Maret 2021 M.

#Sekretaris_PCNWDI_Kediri