Dakwah TGB (52) CARA MENYIKAPI PERBEDAAN

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa*

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah sebuah negara dengan bentangan panjang dari ujung timur ke barat, tidak kalah panjang dengan benua Australia. Bentangannya memiliki tiga waktu yang berbeda yakni; Waktu Indonesia Timur (WIT), Waktu Indonesia Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia Barat (WIB).

Penduduk Indonesia terdiri dari beragam suku-ras dan ribuan bahasa daerah. Sebuah realita yang sangat berat untuk disatukan dalam sebuah kesepakatan untuk berbahasa dan ber-tanah air satu, jika mereka tak memiliki nafas yang sama untuk merdeka.

Iklan

Perekat utama Indonesia sejak awal ialah kesadaran penduduknya akan perbedaan bukan sebagai sesuatu yang masalah. Terutama umat Islam –tentu pasti– sangat memahami perbedaan dan keragaman itu sebagai sebuah kehendak Tuhan.

“Yang penting betul kita sadarai ialah bahwa perbedaan adalah sunnatullah. Perbedaan tidak bisa dihilangkan.” Kata TGB pada sekemen ke tiga dalam acara Satukan Shaf Indonesia di TVRI.

Dalam uraiannya, Ketua PBNW tersebut menjelaskan bahwa yang diajarkan Islam kepada kita bukan menghilangkan perbedaan. Tapi, bagaiamana kita menyikapi dan meresponnya.

Bagaiamana cara menyikapi perbedaan?

Alumnus Al-Azhar Cairo Mesir tersebut mengatakan bahwa dalam Islam sudah jelas tuntunan-tuntunannya. Misalnya –TGB mencontohkan–, kalau kita membaca dalam surah al-Insyirah yang awalnya mengatakan الم نشرح لك صدرك (Tidakkah kami telah melapangkan hatimu).

Salah satu penjelasan para ulama –kutip TGB– adalah bahwa ayat tersebut terkait pemberitahuan dari Allah swt. bagaimana cara Rasulullah saw. harus menyikapi perbedaan manusia yang ada pada saat itu. Sebab, sejak awal; kadang-kadang ada yang menerima dakwah Nabi saw., ada pula yang anti-pati, bahkan menolak mentah-mentah dan melawannya.

Melalui Ayat tersebut Allah swt. mengajar Nabi-Nya dalam menghadapi mereka dengan إنشراح الصدر (berlapang dada). Nabi Muhammad saw. harus menerima perbedaan dan menyikapinya dengan berlapang dada.

BACA JUGA  Hari Ini Matahari Singosaren Plaza Jadi Incaran Edukasi Penerapan PPKM

Untuk mendekati pemahaman kita, dan supaya pandai menyikapi perbedaan yang ada di negara tercinta ini. Tuan Guru Bajang mengibaratkan kita dan negara ini seperti sebuah rumah dengan penghuninya yang beragam.

Sebagaimana yang kita ketahui, di rumah ada kamar masing-masing, dan ada pula kamar bersama. Apa kamar masing-masing itu? Itulah kamar tidur. Mana maksudnya kamar bersama? Yakni, kamar tamu atau kamar keluarga.

“Seperti itu pula kita dengan segala kekayaan yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia dengan segala perbedaan”. Jelas ulama yang pernah menjabat sebagai Gubernur NTB dua priode ini.

Nyatanya memang demikian. Indonesia terdiri dari unsur perbedaan yang sangat beragam. Katakanlah misalnya dari sisi agama. Penduduk Indonesia ada yang muslim dan non muslim. Yang non muslim pun banyak, ada yang Hindu, Budha, Kristen Katolik dan Protesten, dan Konghucu.

Ibarat semua perbedaan itu, masing-masing memiliki ruang tersendiri. Karena itu, tidak boleh teman yang satu menerobos kamar pribadi teman yang lain. Sebab, kamar-kamar pribadi itu private, ruang yang khusus dan tertentu orang menghuninya.

Kalau ruang private pada agama disebut ruang Akidah atau ruang ritual-ritual badah masing-masing pemeluk agama. Oleh sebab itu, masing-masing kita perlu saling menjaga dan menghormati. Jangan menyinggung dan menyindir pemeluk agama selain kita.

Ulama tafsir tersebut mengutif ayat لكم دينكم ولي دين (bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Inj urusan Akidah tidak ada kompromi dan campur baur seputar keyakinan kepada Allah.

Namun meski demikian, (perlu kita pahami) juga ada namanya ruang keluarga. Di tempat itu kita bisa berjumpa dengan sesama. Apa itu ruang keluarga? Inilah tanah air Indonesia sebagai ranah kita berbangsa dan bernegara. Di sinilah kita saling bertoleransi saling mengisi, berbagi dan mengembangkan sikap saling menghormati satu sama lain.

BACA JUGA  Saung Pancasila Nusantra: Perlu Gerakan Revolusi Berfikir untuk Menumbuhkan Spirit Kebangsaan

Kalau kita salibg menghormati dan berlapang dada dengan sesama anak bangsa, maka ada janji Allah swt. yang kita peroleh. Apa janji Allah itu? Itulah yang disebut pada ayat selanjutnya ووضعنا عنك وزرك الذي عنك ظهرك (Dan kami menghilangkan beban dari punggungmu).

Ayat dua dan tiga kata ulama –kutip TGB– merupakan simbol bila kita harus saling menghormati antara yang satu dengan lainnya, maka beban-beban akan berkurang. Kalau, pembicaraan ini diletakkan dalam kontek sebagai bangsa Indonesia yang sedang berlari, maka lari kita pun semakin kencang.

Apakah balasannya cukup sampai di situ? Pada ayat berikutnya Allah swt. mengatakan ورفعنالك ذكرك (Dan kami akan angkat sebutanmu di dunia dan akhirat). Ayat ini kutip TGB, kata ulama merupakan simbol bahwa, “Ketika kita membangun kelapangan hati, maka beban berat di belakang semakin berkurang”.

Demikian pula ayat ini kalau diletakkan pada tataran diri kita, daerah bahkan bangsa Indonesia tercinta. “Kehormatan dan wibawa kita di mata negara lain semakin tinggi, manakala kita sendiri saling menghormati dan menghargai.” Kata Ketua PBNW tersebut.

Termasuk sekarang kita sedang dalam suasana pilkada serentak. Pilihan kita boleh berbeda. Calon Bupati, Wali Kota atau Gubernur kita boleh lain-lain, asalkan kita saling menghargai dan menghormati pilihan sesama.

“Mari kita rawat sikap toleransi dan saling hormati. Mari menghargai pilihan yang berbeda. Semoga Allah memperkokoh persaudaraan kita. Menumbuhkan cinta kita kepada hal-hal baik. Dan menyatukan kita dalam semangat yang sama untuk kemajuan Indonesia yang kita cintai ini”.

Demikian harapan dan doa Syaikhuna TGB dan menjadi doa kita bersama. Âmiin.