Dakwah TGB (34) MERAWAT WARISAN KEBAIKAN

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

*”Hal-hal yang baik itu harus dirawat. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kalau dibiarkan begitu saja, tidak dirawat, maka dia akan diganti oleh hal-hal lain yang buruk.”* Demikian kata Tuan Guru Bajang mengawali nasihatnya di Islamic Center Mataram diujung kajian tafsirnya.

Pada kesempatan tersebut, TGB merelasikan hikmah ayat suci yang telah dikaji (al-Baqarah: 99 dst.), dengan fenomena kekinian (gelombang demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja).

Iklan

Kata TGB, bahwa kita semua mesti bercermin, bagaimana dahulu Bani Israil, mereka diberikan kaidah-kaidah agama yang dibawa oleh para nabi. Satu kondisi spesial yang mereka peroleh, bila dibanding dengan kaum-kaum yang lain.

Spesialnya umat Bani Israil dibanding umat-umat lainnya, berupa setiap masa mereka dikirimkan nabi sebagai pembawa kebaikan nilai-nilai agama. Sementara kita –misalnya–, hanya ada satu nabi yang kita miliki. Selebihnya kebaikana agama diterangkan oleh para ulama.

Namun sayangnya, itu semua (kehadiran para nabi) tidak mencegah penyimpangan yang ada di tengah-tengah mereka. Kenapa? Karena mereka tidak merawat nilai-nilai yang ada. Mereka tidak menjaga nilai dan kebaikan yang dibawa para nabi, dan nilai-nilai yang ada di antara mereka.

Maka dari sinilah –menurut hemat TGB– pentingnya kehadiran pendidikan. Mengapa pendidikan? Sebab fungsi utama pendidikan ialah tidak hanya sekedar mengetahui yang baik atau buruk. Tapi, –lebih dari itu– pendidikan bertujuan untuk توريث القيام (pewarisan nilai-nilai baik kepada para peserta didik).

Perawatan nilai-nilai baik, dengan modal pendidikan inilah, yang hendak disinggung syaikhona TGB, terkait ketegangan yang ada di Republik kita beberapa hari terakhir ini. Atau istilahnya, ada Pro-Kontra terkait UU Cipta Kerja. Yang masing-masing pihak bertahan pada argumentasinya sendiri.

Bahkan lebih dari itu, –TGB sangat menyayangkan– ada banyak anarkis terjadi di berbagai daerah. Perusakan-perusakan sarana umum yang dibangun dengan biaya mahal sekalipun. Atau bahasa kerasnya, sarana umum yang semula dirawat, eh malah dirusak. Begitulah kira-kira.

Karena itu, “Saya pikir, bagus untuk kita renungkan bersama. Saat ini, kita semua yang hadir, bahkan kita yang ada di NTB. Saatnya untuk kita mendinginkan suasana. Merenung dan menenangkan situasi.” Demikian harap ulama tafsir tersebut.

Salah satu jalan untuk meredakan situasi ini, penting bagi kita mengikuti ajakan TGB agar kita melihat susunan-susunan ayat suci.

Di al-Qur’an –kata TGB–, biasanya Allah swt. selalu menyebut iman dan amal saleh secara bersamaan dalam banyak ayat. Tapi, ternyata tidak demikian pada surah al-‘Ashr.

Justru, pada surah ke-103 ini Allah Ta’ala menambah rangkaian ayatnya dengan, وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر (saling nasihat-menasihati dengan kebenaran dan nasihat-menasihati dengan kesabaran).

Apa hikmah yang bisa dipetik dari penambahan teks tersebut?

Kata Tuan Guru Bajang, bahwa salah satu hikmah dari tambahan tersebut adalah karena manusia ini sangat mudah jatuh dalam subjektivitas pribadinya. Manusia terlalu cepat mengklaim dirinya paling baik. Mudah merasa paling bagus. Padahal tidak demikian. Oleh karena itu, maka kita butuh orang lain untuk menasihati.

Demikian juga yang berlaku pada sebuah organisasi atau kelompok.

Tidak ada organisasi dan kelompok yang bisa memonopoli kebenaran di dalam hal-hal yang masih bersifat duniawi. Masing-masing selalu ada ruang, “Pendapat saya bagus, tapi boleh jadi di pihak sana ada kebenaran”.

Oleh sebab itu, maka solusinya kata ulama yang bernama lengkap Dr. TGKH. M. Zainul Majdi, MA al-masyhur bi TGB tersebut ialah, karena kita bersifat tidak sempurna, maka kita perlu orang lain untuk mengingatkan.

Karena kita memiliki keterbatasan dalam segala hal, maka kita butuh orang lain menasihati sesuatu yang boleh jadi kita tidak ketahui.

Mari kita rubah sikap merusak dengan semangat saling melengkapi dan saling nasihat-menasihati. Sebab kita semua pasti menginginkan kebaikan. Tapi, –hanya saja– perspektif kita yang berbeda-beda.

Maka, “Untuk urusan perspektif yang berbeda-beda, mari selesaikan dengan musyawarah, dengan kelapangan hati dan mahabbah.” Demikian kata TGB yang kemudian diakhiri dengan bacaan fatihah buat negeri.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 17 Oktober 2020 M.