-HIKMAH PAGI- “ULAMA BETAWI DI KEPULAUAN SERIBU”

banner post atas

Penyebaran Islam di Kepulauan Seribu dapat diketahui dari penemuan beberapa makam diantaranya makam KH. Mursalin bin Nailin (wafat tahun 1972), Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al Aidid di Pulau Panggang (wafat tahun 15 Mei 1895), makam Syarif Maulana Syarifudin (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Kelapa, dan makam Sultan Mahmud Zakaria (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Panggang.

Dakwah yang dahulunya merupakan kepulauan terpecil dimulai oleh seorang pemuda yang lahir dan dibesarkan di Pulau Panggang. Orang tua beliau berasal dari parung sapi Bogor yang merupakan keturunan suku mandar Sulawesi Barat. Beliau adalah KH. Mursalin bin KH. Nailin. Hasil pengembangan dakwah yang dilakukan oleh Ua Ain (panggilan akrab KH. Mursalin) dapat dilihat dari waqaf Masjid Jami’ Anni’mah, Yayasan Addiniyah Anni’mah dan Majlis Taklim di Pulau Panggang dan waqaf pulau karya yang dijadikan pulau khusus makam para warga sekitar pulau Panggang terasmasuk makam Ua Ain yang berada ditengah-tengah makam warga lainnya. Makam belia tidak diberikan ciri tertentu hal ini untuk meghindari dikramatkannya makam beliau yang mengarah pada kemusyrikan.

Dakwah Islam di Pulau Panggang selain dilakukan oleh KH. Mursalin juga dilakukan oleh habib keturunan Hadramaut yaitu Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zen Aidid di Pulau Panggang. Alasan beliau memilih berdakwah disana adalah karena daerah tersebut adalah daerah yang rawan perampokan, konon legenda Darah Putih merupakan cerita yang menguatkan hal tersebut.

Iklan

Selain di Pulau Panggang, ulama Betawi pun dapt dijumpai di Pulai Tidung. Adalah KH. Abdul Hamid yang dikenal dengan Ua Mamit yang berasal dari Kemandoran. Pendekatan yang dilakukan dengan memberikan pembelajaran ilmu bela diri.

BACA JUGA  Danramil Labuhan Haji,Silaturrahmi ke Ponpes Syafi'iyah Darul Muhsinin NW Tanjung Lotim-NTB.

23 November 2020

Hipzon Putra Azma