Beda Manusia & Binatang

banner post atas

Oleh :Prof Dr H. Harapandi Dahri M.A

Qala Allahu Ta’ala Fi Kitábihi al-Karim wa Maknahu “Dan sesungguhnya Kami akan melemparkan Jin dan Manusia ke dalam Neraka. Yakni mereka yang telah Kami anugerahkan hati, (namun tidak dimanfaatkan untuk mengerti ayat-ayat Allah), dan Kami berikan mata, namun tidak digunakan untuk melihat kitabullah (al-Qur’an) dan ayat-ayat kauniyah Allah, dan Kami ciptakan bagi mereka telinga, namun tidak mendengar peringatan maupun nasihatKu (mereka menggunakan telinganya hanya untuk bersenang-senang dengan musik dan menghindari al-Qur’an), mereka-mereka itu sama dengan binatang bahkan lebih sesat lagi dibandingkan binantang (karena bintang tidak memiliki hati atau juga akal), mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS.Al-A’raf/7:179).
 
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan manusia dibedakan dengan makhluk lain karena akal pikirannya, jika akalnya tidak difungsikan dengan sebaik-baiknya, maka jelas hakikatnya lebih rendah dari binatang. Nabi juga menyebutkan;Laa Dina Liman Laa Aqla Lahu (tidak sempurna agama seseorang yang tidak memaksimalkan akalnya).
 
Anugerah terbesar manusia memang ada di akal, sehingga dengan akal dapat membedakan mana yang baik dan terus dilakukan dan mana yang tidak baik kemudian dihentikan. Jika sudah tahu perbuatan itu tidak baik dan diteruskan itulah orang-orang yang dalam katagori Imam al-Ghazali sebagai Rajulun Yadrii wa laa Yadrii annahu Yadri fahuwa Ghafilun Fadzakkirhu (dia adalah kelompok orang yang hakikatnya tahu tapi tidak tahu dirinya tahu, dia itu adalah orang yang sedang LUPA maka ingatkan dia. Orang pada tipe ini sangat banyak, terdapat sebagian orang pura-pura lupa…
 
Dalam pandangan al-Syeik Tajuddin Ibn ‘Athaillah al-Sakandari dalam kitab Taj al-Urus bawa orang lupa ialah mereka yang sembahyang dan beribadah kepada Allah dengan gerakan dan bacaan yang lengkap, namun hatinya tidak hadir di dalamnya. Dan orang seperti ini tidak akan memperoleh pahala disisi Allah. Bahkan kelak di akhirat akan dilupakan Allah walau di dunia ia membaca kalam al-Rahman namun tidak menjalankan pengetahuannya.
 
 
Kata kunci dari ibadah yang diterima dan diridhai Allah adalah hadirnya hati, jika tidak maka akan termasuk orang yang lalai dan tidak diridhai Allah, Nauuzubillahi Minzalik.

BACA JUGA  Adab itu lebih dahulu sebelum Ilmu Oleh Badri HS QH

Al-Syaikh Abdullah bin Abdul Mubin menulis kitab versi Melayu dengan judul “Tanbih al-Ghafilin” artinya mengingatkan orang-orang yang sedang lupa. Kitab tersebut berisi 12 bab, antaranya beliau menjelaskan terkait dengan ancaman bagi orang yang lalai dalam salatnya.
 
Semoga kita termasuk orang yang dapat memaksimalkan akal. dan dengan akal dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah Rabbul Baraaya.

Iklan