Analisis Sosial Dan Wacana

banner post atas

Analisis Social dan Wacana
Oleh: kanda Astar Hadi.

Analisis social banyak dibahas dalan ranah cultural study, dari berbagai disiplin ilmu sudah banyak membahas analisis social dengan perkembangan yang cukup signifikan sejak zaman aksial hingga industrialisasi. Analisa social bisa disebut sebagai sebuah pekerjaan yang dilakukan dalam rangka membaca lingkungan, baik dengan cara mengamati, menyelidiki, dan sebagainya. Adapun contoh teori social yang paling terkenal adalah teori marxisme dengan teori kapitalisme yang bersifat materialism. Lalu kemudian bagaimana cara mengukur kondisi masyarakat? Jika kita kembali ke teori masrxisme dengan cara menggunakan metode fenomenologi, kondisi ini bisa dianalisa dengan memakai berbagai fakta yang ada di tempat yang diamati.
Kecenderungan seseorang secara social akan lebih melihat kepada fakta atau realita yang ada di lapangan, meski secara kualitatif tidak sesuai. Namun, yang paling penting adalah bagaimana menemukan solusi atau menyelesaikan permasalahan yang ada di lapangan, dimana hal itu merupakan tujuan dari analisa social. Kemudian ada beberapa problem dalam analisa social, yakni problem structural dan curtural.
Pada problem structural biasanya lebih berasal dari pihak pemerintahan yang berpengaruh secara kekuasaan terhadap masyarakat di suatu tempat. Kemudian problem cultural biasanya diselesaikan dengan cara mendekati orang atau tokoh yang berpengaruh dalam culture tersebut, dimana pihak cultural tersebut juga bisa masuk ke dalam ranah structural, dan biasanya secara cultural akan lebih membantu melakukan negosiasi.
Analisa social membutuhan cara berpikir yang kritis guna menyelesaikan masalah karena analisa social biasanya juga digunakan dalam menyelesaikan suatu konflik. Adapun salah satu bentuk analisa social yang biasa digunakan adalah fenomenologi, dimana biasanya dilakukan dengan cara mendekatinya disisi lain juga menjauh, contohnya dalam konflik bandara yang sedang terjadi di NTB. Selain itu, analisa social juga sangat membantu untuk menemukan berbagai problem social yang ada di suatu tempat kemudian mencari penyelesaian dari problem tersebut, baik itu dari kondisi tempat tinggal atau pun kondisi masyarakat yang ada sekitarnya. Misalnya, problem-problem yang ada di KEK Mandalika.
Jika dilihat bagaimana kondisi kita hari ini dengan masa yang sudah lampau, tentunya dalam melakukan analisa social akan menggunakan metode atau pendekatan yang berbeda, dimana hal tersebut sangat dipengaruhi oleh adanya perkembangan teknologi.
Haberma seorang filsuf Jerman dengan teori idealisme relativenya mengatakan, “orang tidak bisa bersepakat dalam satu hal, akan tetapi semua itu bisa diterima jika ada suatu hal yang bersifat idealis, yang kemudian bisa dijadikan pertimbangan bagi mereka yang sebelumnya menolak. Semua orang berhak melakukan analisa social, namun tidak semua punya pengetahuan untuk menganalisa. Dan biasanya analisa ini dilakukan dalam bentuk focus grup discussion yang hanya melibatkan segelintir orang.
Kita dituntut untuk memposisikan diri pada pihak yang kontra, dengan ikut merasakan apa yang dirasakannya. Artinya, pemahaman subjektif bisa berubah menjadi objektif jika kita ikut mengalami yang orang tersebut alami. Hal itu bisa menjadi salah satu cara mendekatkan emosional kita dengan orang lain yang tadinya tidak menerima keberadaan kita. Dan dengan begitu kita juga akan bisa lebih memahami kondisi mereka, yang tentunya dapat membantu memudahkan proses analisa. Dimana kesetiaan dalam mengalami suatu peristiwa akan memperkuat citra kita di masyarakat, terutama yang menjadi objek analisa meski secara cultural kita berbeda.

Iklan
BACA JUGA  Bupati Sukiman : Sekda Harus Mampun Menjadi Harmonisasi, Dinamisasi dan Fasilitasi Antara Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

#Wapa2himmahnwlomboktimur
#Himmahnwcabanglomboktimur
#Mendewasabarenghimmah