Prof Harapandi :Aku Menjadi Seorang Buruh

Prof Harapandi :Aku Menjadi Seorang Buruh

 

Sesungguhnya Allah mengasihi seseorang yang melakukan pekerjaan dengan tekun dan sungguh-sungguh. (al-Hadits)
Faidza Faraghta Fanshab (saat engkau telah selesai dari satu pekerjaan, maka berpindahlah kepada pekerjaan yang lain) Wa Ila Rabbika Farghab (dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berserah diri).

Tanpa ingin berlama-lama larut dalam kesedihan akupun mencoba menyimpan asa dan keinginan untuk terus bersekolah dan akan aku lakukan pekerjaan apapun yang halal dan shahih agar bersekolah dapat terwujud.
Seperti kebanyakan anak sebayaku di kampoeng, mulai pagi hingga sore hari pergi ke tempat penggilingan padi yang kami sebut “Heler” sebagai usaha membantu perekonomian keluarga. di tempat keluarnya sampah-sampah padi (kuut:lombok), secara bergantian menadahkan karung untuk mengumpulkan sedikit-demi sedikit sisa-sisa padi yang terbawa bersama angin-angin panas, pekerjaan ini kami lakukan setiap hari, rasa malu, minder sebagai manusia normal bergelanyut dalam hati, namun perasaan ini segera diusir keluar jauh-jauh, karena sadar ataupun tidak rasa malu untuk melakukan perbuatan baik akan berakibat patal.

Teringat, tiga dari kunci kesuksesan ialah teruslah berjalan dan berjuang (al-Harakah barakah), jangan mendengar komentar orang lain selama engkau dalam kebajikan (lâ tasma’ qaulal Âkharîn mâ dumta fî khairin) dan ingatlah Allah akan selalu memberikan jalan keluar dalam berbagai kesusahan yang kita hadapi (idzâ dhâqat ittasa’at) dalam bahasa al-Qur’an (Fainna Ma’al Usri Yusran).
Rabu 1982, hari yang lebih berat sudah menanti, hari pertama bekerja sebagai pembantu pekerja (kenek) bangunan sekolah dan rumah. Pekerjaan setiap hari membuat dan membawa batu, pasir, semen, kerikil dan beragam benda yang dicampur menjadi satu yang popular disebut sebagai “adukan” (Lombok: luh-luh).

Faidza Faraghta Fanshab (saat engkau telah selesai dari satu pekerjaan, maka berpindahlah kepada pekerjaan yang lain) Wa Ila Rabbika Farghab (dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berserah diri).
Hari berganti hari, minggu pun bertukar minggu dan bulan demi bulan menjalani aktivitas tersebut dengan pasrah dan tanpa keluh kesah. Rasakan pekerjaan apapun yang sedang kamu jalankan sebagai sebuah anugerah sehingga engkau dapat menikmatinya, nasiha bapak.

Rabu 13 Maret 1982, amakku diminta bekerja sebagai tukang bangunan di CV Budi Luhur Rembiga Lombok Barat oleh Bapak Haji Awwaluddin, genap satu minggu beliau menjalankan tugasnya, saya pun diminta turut serta sebagai pembantu beliau dalam menjalankan tugasnya. Berbekal 5000 rupiah –kala itu– saya berangkat dari rumah (semat-sikur) menuju Rembiga-Lombok Barat.
Bismillahi Tawakkaltu Alallah Lâ Haulâ Walâ Quwwata Illâh billâhil ‘Aliyyil ‘Adzîm, keluar rumah menuju jalan raya antar desa. Tidak berselang begitu lama, kendaraan umum jarak dekat bernaa Becak yang ditarik kuda pun sampai dan berhenti tepat didepan tempat saya berdiri.
Bismillahirrahmanirrahim, kaki kanan menginjak tangga becak dengan penuh hati-hati, takut terjatuh. 20 menit roda becak berputar, abang kusir menarik perlahan tali kekang yang menjulur ke mulut kuda dan kudapun berhenti, setelah memberikan lima ratus rupiah kepada abang (kusir) becak, kaki secara perlahan diturunkan melalui tangga becak yang sama.

Berdiri di pinggir jalan, berteduh dibawah sebuah pohon rindang seakan-akan sebuah halte Bus mewah dengan Aircondition yang menyejukkan badan dari sengatan matahari-, menunggu mobil (populer:engkel) jurusan cakranegara-lombok barat yang akan membawa kami menuju destinasi yang diinginkan. 10 menit mobil engkel yang dinantipun tiba, saat mobil berhenti dengan sempurna, kaki kananku melangkah pasti masuk ke dalam mobil. Kursi pinggir nomor dua dari depan tepatnya aku duduk menghadap depan.
Duduk di kursi pinggir memiliki kelebihan karena dapat melihat-lihat ke arah luar mobil. Dalam perjalanan, kerinduan akan sekolah terus menggoda pikiranku, tekad terhujam dalam hati, sambil berbisik halus “uang yang engkau hasilkan dari kerjamu, simpan untuk mewujudkan cita-citamu”. Gantungkan cita-citamu setingi langit, raihlah bintang-bintang dengan ketinggian angan-anganmu, kerja sungguh-sungguh adalah pintu keberhasilan. Kalimat-kalimat mahfudat (kata-kata bijak dalam bahasa Arab) selalu menjelma menjadi hiburan sistematis dalam pikiranku.

Dua jam laju roda kendaraan berputar akhirnya sampai di destinasi (terminal Cakranegara-Lombok Barat). Setelah menyerahkan 2000 rupiah kepada kernet (kondektur) mobil, kakipun turun dari mobil, lalu mencari mobil angkot (angkutan kota) jurusan (dengan tujuan) Gunung Sari Lombok Barat. Duduk disamping sopir, dengan harapan destinasi tidak terlewat, namun sopir angkot lupa memberhentikan kendaraannya pada tempat yang sudah disepakati hingga pada pemberhentian terakhir yakni terminal gunung sari.
Pesan yang dapat diambil dari “lupanya sopir angkot”, sebaik dan semanis apapun rencana kita sebagai makhluk, namun Allahlah yang akan menentukan, Dialah yang memilihkan dan Dia pula yang Maha Mengetahui rahasia dibalik kealfaan sopir angkot.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA