Kami ridla terhadap takdirMu:
Aku mesti melanjutkan sekolah ujar kakak tertuaku
Akulah yang harus meneruskan pelajaran riintihanku
Bapak, ibuku yang mendengar dan
melihat pola tingkah kami
Memberikan jalan keluar “akulah” yang akan sekolah
kata bapak.
Tahun 1978 cerita baruku dimulai, Orang tuaku, mendaftarkan diriku sebagai salah satu murid di Madrasah Tsanawiyyah Nahdlatul Wathan (MTs-NW) Sikur. Semua anak seusiaku pun dimasukkan di Madrasah ini.
Tradisi melanjutkan pendidikan ke sekolah agama merupakan satu tradisi yang sangat baik, terpelihara sejak madrasah ini ada dan menjadi “aib” jika orang tua memasukan anaknya ke sekolah umum seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang notabenenya sebagai representasi dari sekolah umum.
Di madrasah inilah diriku ditempa dengan beragam ilmu mulai dari ilmu-ilmu agama lebih tinggi dari sebelumnya. Materi-materi agama kecuali al-Qur’an, Tajwid, aqidah dan akhlak merupakan materi-materi pelajaran baru yang harus diseriusi. Ilmu Nahwu dan Sharf adalah dua ilmu yang menjadi ukuran seseorang dikatakan mampu dalam bidang agama juga menjadi materi inti.
Bahasa Inggris dan matematika adalah dua mata pelajaran yang paling ditakutkan, kepala kaku, pikiran kacau saat pelajaran matematika dimulai. Lidah terasa kelu ketika diminta berucap dengan bahasa yang satu ini. Ilmu, jika ditakuti akan semakin jauh, tetapi jika bersimpati dengan mengerahkan dan mengarahkan pemikiran positif, maka tidak ada ilmu yang tidak dapat ditekuni, semua ilmu itu sama, ia bersifat bebas nilai, hanya pemilik ilmulah yang akan memberikan nilai (value) terhadap sebuah ilmu. Jika ilmu dimiliki (dikuasai) oleh orang yang baik, maka ilmu akan memberi manfaat, namun saat orang-orang berpikir dan berkepribadian jahat memahami ilmu, maka ia akan menjadi petaka bagi ummat manusia bahkan alam raya.
Ilmu telah berkata kepada para pencarinya; Berikanlah semua waktumu untukku, niscaya aku akan memberikanmu sedikit dariku”. Perhatikan dan renungkan apa yang dikatakan oleh ilmu, semua waktu kita habiskan untuknya, kita akan dibagi sedikit saja. Bagaimana halnya jika waktu yang kita berikan hanya sedikit saja pastilah ilmu tidak akan dapat mampir di dalam dada kita.
Ilmu dan juga ahli ilmu akan menjadi hujjah bagi seseorang di akhirat. Ilmu dapat menyelamatkan dan dapat pula menjerumuskan. Ilmu yang dapat menjadi penyelamat ialah ilmu yang berkah yakni ilmu yang diamalkan oleh pemiliknya, sedangkan ilmu yang tidak dimanfaatkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah akan menjadi media penyiksaan bagi pemiliknya.
Ingatlah hadist Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam;
”Sesungguhnya orang yang paling berat azabnya di hari kemudian ialah mereka yang tiada beramal dengan ilmunya”. Bahkan dikatakan ia akan disiksa sebelum para penyembah berhala.
Amalkanlah ilmu walaupun sedikit, tentunya sebatas kemampuan kita untuk menjalankannya. Tidak memaksakan diri dalam beramal. Sebaik-baik amal sedikit tapi istiqamah.




