Semarak Milad ke-23 Yayasan Pendidikan Acprilesma: Refleksi, Eksistensi, dan Pentingnya Literasi
Jakarta — Yayasan Pendidikan Acprilesma baru saja sukses menggelar acara gebyar pentas seni dalam rangka memperingati Milad ke-23 yang dipusatkan di halaman Sekolah Laboratorium Jakarta pada hari Senin, 31 Agustus 2026. Perhelatan meriah ini dihadiri oleh para siswa, guru, orang tua, serta jajaran pengurus yayasan.
Di sela-sela acara yang penuh semarak tersebut, kru media SinarLIMA berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Ketua Yayasan Pendidikan Acprilesma dr. Satria Ghaibi Saputra, S.Ap, M.Si. Berikut petikan perbincangan hangat seputar perjalanan yayasan, konsep pendidikan anak, hingga pentingnya budaya literasi:
SinarLIMA:
Assalamu’alaikum. Bagaimana pandangan Bapak melihat jalannya acara gebyar milad kita hari ini?
Ketua Yayasan: Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, acara milad hari ini berjalan lancar. Perasaan saya tentu sangat senang. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat usia yayasan yang telah menginjak 23 tahun, sekaligus momen untuk mengenang mendiang almarhum Prof. Agustitin.
Jujur, saya itu tidak pernah bisa menahan haru kalau melihat anak-anak aktif tampil, senyum sumringah para guru, serta ketulusan mereka dalam bekerja. Itu sangat gampang meluluhkan hati saya. Kesenangan pribadi saya adalah ketika melihat orang lain ikut merasa senang.
Melihat Sekolah Laboratorium Jakarta saat ini masih tetap eksis—bahkan banyak sponsor yang masuk di luar dugaan saya—di balik segala keterbatasan dan kelemahan yang ada, kita masih bisa menyelenggarakan milad yang meriah ini. Semua ini berkat kerja keras dan perjuangan teman-teman panitia.
Prinsip saya, jangan sampai kita menggaji atau membayar orang sampai keringatnya kering tanpa apresiasi yang sepadan. Kerja keras panitia dan kekompakan adalah kunci utama. Hak seseorang harus diberikan, tidak hanya berupa materi (uang), tetapi juga apresiasi, dukungan moril, interaksi yang positif, dan afirmasi yang membuat mereka merasa dihargai. Melihat kerja keras teman-teman hari ini, mewujudkan pentas seni yang lebih megah ke depannya bukanlah hal yang mustahil dengan izin Allah.
SinarLIMA:
Tadi kita melihat anak-anak tampil sangat bagus dan percaya diri di panggung. Bagaimana Bapak melihat konsep penampilan mereka?
Ketua Yayasan: Itu dia. Saya selalu bilang, mungkin tidak semua orang ingin menjadi ketua yayasan seperti saya, tidak semua ingin menjadi penyanyi atau artis. Namun, setiap anak wajib tampil agar mereka memiliki kepercayaan diri.
Apa yang mereka lombakan atau tampilkan hari ini—baik menyanyi, berkompetisi, maupun berbicara di depan umum—akan melatih mental mereka untuk bersaing di dunia yang lebih luas kelak. Ini bukan sekadar soal menang atau kalah. Seorang pemimpin harus terlihat berani tampil; mau berbicara kepada atasan maupun bawahan. Panggung-panggung ini kita siapkan untuk melatih mental anak-anak agar siap terjun ke masyarakat.
SinarLIMA:
Tentu sebuah acara besar membutuhkan konsep yang matang. Bagaimana proses perumusan konsep hingga bisa tertata rapi seperti ini?
Ketua Yayasan: Sebenarnya, fondasi dasar itu sudah diletakkan oleh almarhum Prof. Agustitin sebagai pendiri yayasan pendidikan Acprilesma. Peringatan milad hakikatnya adalah untuk refleksi diri, evaluasi, dan menatap masa depan. Yayasan kita memang sudah biasa mengadakan berbagai perlombaan sejak dulu. Inspirasinya bersumber dari sana, lalu kita sesuaikan dengan perkembangan zaman.
Dulu, Prof. Agustitin lebih fokus pada seni budaya tradisional, sementara anak-anak zaman sekarang mungkin lebih akrab dengan flashmob atau kreativitas digital seperti TikTok. Kita adaptasi itu, yang penting penampilannya tetap positif. Pondasinya dari Prof. Agustitin, lalu kita kembangkan mengikuti dinamika zaman.
SinarLIMA:
Salah satu keunggulan yang konsisten di yayasan kita adalah budaya menulis, seperti karya-karya buku yang lahir dari media SinarLIMA. Bagaimana pandangan Bapak mengenai hal ini?
Ketua Yayasan: Bicara soal menulis, perintah pertama dalam hidup kita adalah “Iqra” (membaca), dan tentu tidak lepas dari menulis. Tulisan menjadi hal yang sangat penting karena membuat kita mengingat apa yang sudah dilakukan dan merencanakan apa yang akan dilakukan ke depan.
Seperti pesan Prof. Agustitin, kita harus tahu dari mana kita berasal, mau ke mana kita pergi, dan apa yang harus kita lakukan di tengah perjalanan tersebut. Catatan atau tulisan sangat penting untuk bahan evaluasi serta penyusunan visi-misi ke depan.
Makanya, saya sangat berterima kasih kepada Ust. Marolah Abu Akrom dan teman-teman media SinarLIMA yang terus aktif menulis. Karya-karya tersebut menjadi bahan referensi refleksi bagi saya pribadi, termasuk literasi dan syair-syair baru yang bisa diadaptasi untuk diterapkan di lapangan dan di sekolah Laboratorium Jakarta.
Ke depan, dengan adanya buku-buku baru ini, kita berencana mengadakan program bedah buku agar budaya literasi semakin hidup. Di tengah era digital di mana orang-orang lebih suka scrolling konten pendek yang justru menurunkan minat baca mendalam, kehadiran buku fisik memberikan pengalaman (experience) tersendiri.
Selain itu, ketua pengawas kita Dr. Joko Nugroho —yang juga seorang ketua ikatan doktor di UNJ—sudah siap memberikan dukungan penuh bagi murid maupun guru yang ingin menuangkan tulisannya untuk diterbitkan. Jadi, wadahnya sudah ada. Kita ingin kembali menghidupkan tradisi keilmuan Islam masa lalu yang lekat dengan tradisi menulis dan membaca buku.
SinarLIMA:
Adakah pesan khusus yang ingin Bapak sampaikan untuk anak-anak, guru, dan para pembaca?
Ketua Yayasan: Pesan saya ada tiga hal utama:
-
Akhlak dan Adab di atas Ilmu: Kita tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita kekurangan orang yang berakhlak mulia. Mari wujudkan “Akhlak mulia siap mendunia.” Tentu akhlak saja tidak cukup; kita harus membekali diri dengan wawasan global, keterampilan universal seperti bahasa Inggris, penguasaan teknologi, dan literasi yang baik.
-
Jangan Tinggalkan Salat: Salat adalah fondasi utama. Ibarat sebuah bangunan, atap bisa berdiri, tapi jika tidak punya tiang (salat), bangunan itu akan runtuh. Salat adalah amal yang pertama kali dihisab.
-
Jangan Berhenti Belajar: Tuntutlah ilmu sejauh mungkin—bahkan sampai ke negeri Cina—sesulit apapun itu.
SinarLIMA:
Terakhir Pak, bagaimana pandangan Bapak terhadap sosok Ibu Dra. Hj. Conny Kurniawati, M.Pd selalu orang tua dan pembina yayasan pendidikan Acprilesma yang menjadi inspirasi besar kita semua?
Ketua Yayasan: Beliau adalah sosok orang tua kita yang luar biasa aktif. Kita belum tentu bisa mencapai energi di usia beliau. Kita bisa belajar banyak dari perjalanan hidup beliau sebagai teladan dan bahan introspeksi diri.
Jam terbang dan pengalaman empiris senior seperti beliau tidak akan kita temukan sepenuhnya di dalam buku teori. Teori itu ibarat hitam dan putih, sementara realitas di lapangan itu banyak warna abu-abunya. Di sinilah pentingnya kita bertanya kepada para senior, sesepuh, kiai, atau mentor untuk memahami adaptasi di lapangan. Seperti halnya dunia kedokteran yang memiliki pengalaman empiris di samping teori medis, bimbingan dari tokoh yang berpengalaman sangat krusial agar kita tidak hanya pintar berbicara secara teoretis saja.
SinarLIMA:
Baik, terima kasih banyak atas waktunya, Pak Ketua Yayasan. Semoga sehat selalu, panjang umur, dan yayasan kita semakin sukses ke depannya.
Ketua Yayasan: Aamiin, terima kasih kembali.
Redaktur dan kru media SinarLIMA, Marolah abu Akrom (Penulis buku Hasil Raker Yayasan Pendidikan Acprilesma tahun 2026 dan menyelami makna Acprilesma dalam gubahan syair)





