Sinar5news- JAKARTA- Di tengah percepatan transisi energi, pemerintah dan pelaku industri menilai pengembangan energi gas alam tetap memegang peran strategis. Energi gas diproyeksikan menjadi “energi transisi” yang menjembatani ketergantungan pada batu bara dan minyak, menuju dominasi energi terbarukan pada 2060.
Gas alam dinilai memiliki keunggulan dari sisi emisi dan keandalan. Pembakaran gas menghasilkan emisi karbon dioksida 40% hingga 50% lebih rendah dibanding batu bara, serta hampir tidak menghasilkan sulfur oksida. Selain itu, pasokannya dapat diandalkan 24 jam, berbeda dengan pembangkit listrik tenaga surya dan bayu yang bergantung pada cuaca.
“Industri berat seperti pupuk, baja, kaca, dan keramik membutuhkan panas dengan suhu tinggi secara kontinu. Di titik inilah gas menjadi solusi paling realistis saat ini,” ujar AB Hamid Dekom PLN EG di Jakarta, Senin (25/8/2026).
Tiga Pilar Pengembangan Gas Nasional. Untuk memaksimalkan peran gas, ada tiga arah pengembangan utama yang sedang didorong:
1. Hilirisasi dan Nilai Tambah.
Pemerintah mendorong agar gas tidak hanya diekspor dalam bentuk LNG, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti pupuk, metanol, amonia, dan petrokimia. Langkah ini ditargetkan meningkatkan penerimaan negara sekaligus membuka lapangan kerja baru.
2. Perluasan Infrastruktur.
Pembangunan jaringan pipa gas nasional dan hub LNG di wilayah timur Indonesia terus dikebut. Konversi kendaraan ke Bahan Bakar Gas/BBG juga digencarkan untuk mengurangi beban subsidi BBM.
3. Teknologi Rendah Karbon.
Penerapan teknologi Carbon Capture Storage/CCS dan Carbon Capture Utilization/CCUS pada pembangkit gas mulai diuji coba. Dengan teknologi ini, gas alam dapat dikategorikan sebagai “low-carbon gas” sehingga tetap relevan dalam skenario Net Zero Emission.
Bersinergi dengan Energi Terbarukan, Bukan Berkompetisi. Alih-alih bersaing, energi gas dan energi terbarukan/EBT diposisikan sebagai mitra. EBT seperti PLTS, PLTB, panas bumi, dan hidro akan menjadi tulang punggung kelistrikan. Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Gas/PLTG berfungsi sebagai pembangkit cadangan yang cepat beroperasi saat EBT tidak tersedia karena malam atau tidak ada angin.
Selain gas bumi, pengembangan biogas dari limbah pertanian, peternakan, dan sampah rumah tangga juga masuk dalam kategori energi terbarukan. Ini sekaligus menjadi solusi pengelolaan limbah di daerah.
“Transisi energi itu maraton, bukan sprint. Kita butuh energi yang cukup, terjangkau, dan bertahap menjadi lebih bersih. Gas memenuhi dua kriteria pertama hari ini, sementara EBT dikebut untuk masa depan,” jelas sumber dari Kementerian ESDM.
Tantangan ke Depan. Meski potensinya besar, pengembangan gas nasional masih menghadapi tantangan penurunan produksi dari sumur tua, kebutuhan investasi infrastruktur yang besar, dan kepastian regulasi harga gas untuk industri agar tetap kompetitif.
Dengan sinergi antara pengembangan gas yang bersih dan percepatan EBT, Indonesia ditargetkan mampu menjaga ketahanan energi nasional tanpa mengorbankan target iklim.
PLN EG selaku BUMN yang bergerak dalam pipanisasi Gas yang menghubungkan dan mengalirkan gas dari pembangkit ke industri dan warga masyarakat luas untuk Nusantara menyala. haruslah dikasih keleluasan berinovasi dan perizinan yang cukup untuk memudahkan melaksanakan dan penyelesaian proyek negara dalam percepatan menuju Indonesia swasembada energi terbaik dunia. ( Red )





