Sinar5news-Kampus sebagai rumah entrepreneur, Ulul Albab, pencipta, tempat adu gagasan dan riset. semakin ke depan terlihat sebagai pentas adu domba, pentas drama, sinetron dan nyanyian jurus mabok yang sering melihat pemerintah sebagai musuh. Ironi pergerakan kampus universitas Indonesia semakin kehilangan identitasnya sebagai pencipta dan penerus misi kemerdekaan. Negri Pancasila, berbudaya, kearifan lokal sudah tergerus jauh mengalir ke laut. Mereka dengan pengeras suara lantang mencaci maki, menghujat, mengatas namakan rakyat. Tentu gerakan seperti ini sudah jauh dari moral Pancasila yang sejuk bersahaja.
Jika hanya adu gagasan, debat. Tidak mesti harus turun ke jalan yang dapat menganggu ketertiban umum. Menyulitkan pengguna jalan lainnya menuju tempat kerja atau pulang. Debat bisa dilakukan di ruangan kampus, forum – forum diskusi atau di halaman kampus. Baik itu orasi, diskusi dan lainnya. Kebiasaan teriak di jalanan umum ini harus lah dikoreksi agar Indonesia dapat tumbuh unggul berperadaban seperti dulu kala di zaman raja – raja Nusantara.
Terhadap demo sebagian gerakan BEM UI dan elemen mahasiswa lain yang menuntut 8 tuntutan. Terkesan dipaksakan tidak terarah tidak jelas alias kabur. Terlihat Seperti point pertama ” hentikan negara menjajah rakyatnya “. Ini bahasa sesat terkesan gaya diksi yang dimainkan tidak berdasar. Padahal presiden kita dalam setiap napas dan pidatonya selalu mengingatkan kabinetnya untuk menjadi pelayan rakyat yang baik dan benar. Mahasiswa haruslah obyektif menilai. Presiden Prabowo dan kabinet merah putih baru menjalankan amanat rakyat masih sangat belia belum satu periode. Jadi mari kita optimis semua sedang bergerak ke arah penyempurnaan untuk Indonesia berdaulat adil makmur.
Sebagai mahasiswa yang diatas rata- rata dari segi pengetahuan. UI semakin tidak mencerminkan ketajaman intuisi mahasiswa nya dan berbicara asal bukan pakai data. Sebagimana seharusnya insan cendikia berargumen. Media sosial rakyat / publik mengkaitkan demo yang dilakukan bukan semata- mata bela rakyat tapi menyuarakan pihak asing yang tidak mau melihat bangsa Indonesia mandiri maju berdaulat. Sinyalemen dana Soros yang beredar di beberapa kampus dan LSM menguatkan kecurigaan publik / masyarakat Indonesia bahwa gerakan Mahasiswa sudah tidak ada yang murni bela keadilan untuk rakyat.
Tuntutan membubarkan MBG yang dampaknya sangat dirasakan oleh jutaan anak bangsa di daerah. Ibu – ibu hamil dan menyusui. Terkesan mahasiswa bergerak dan menyuarakan kepentingan siapa ?. Apakah mereka sedang melawan program pemerintah yang menata semua rantai pasok makanan dan pangan agar lebih adil. Tidak dikendalikan oleh tengkulak dan mafioso. Akan lebih bagus jika mahasiswa turun lapangan ke desa tanyakan ke petani dan nelayan. Agar mereka dapat data yang akurat.
Makanan bergizi gratis adalah adalah amanat UUD agar generasi ke depan tumbuh lebih sehat dan hebat. Jika ada kekurangan dalam program MBG. Semestinya, mahasiswa lakukan riset koreksi dan ikut mambantu Nagara memperbaikinya, agar lebih baik dan lebih terjamin. Baik dari sisi manajemen, distribusi dan gizi. Inilah cara insan cendikia memperbaiki bukan teriak di jalan menganggu kepentingan umum.
Momentum kemerdekaan yang sudah masuk sangat menua ini. Hendaklah para elit semua elemen bangsa terkhusus kampus agar lebih Arif bijaksana melihat sisi baik dari perjalanan perubahan bangsa. Pemerintah tidak anti kritik. Mari sampaikan lewat poros jalur yang sudah disiapkan negara. Berdialog, bersurat, berdiskusi dengan lembaga terkait pemerintah.
Kampus di Indonesia dalam segi sumbangsih kemajuan untuk peradaban baik dalam negri maupun luar sangatlah ketinggalan jauh dari negara negara luar. Sudah saatnya kampus di Indonesia mempelopori gerakan entrepreneur, untuk kemajuan negara bangsa. Sehingga, output kampus berlomba dalam prestasi wirausaha riset dst. Semua diarahkan kepada produktivitas. Ini cara kita menjadikan kampus yang berdampak dan tentu mendapat reputasi dunia.
Mari jadikan kampus ajang demo menciptakan produk tekhnologi dan penemuan hasil riset lainya yang berdampak nasional dan internasional. Setop cara lama berkerumunan di jalan umum menganggu pengguna jalan baik kendaraan maupun pejalan kaki. Cara dan model penyampaian aspirasi di jalanan sudah tidak produktif dan merusak tatanan nilai mahasiswa yang memiliki predikat insan pencipta Ulul Albab.
( Presiden Forum Kebangsaan)





