KHUTBAH JUM’AT EDISI 7 AGUSTUS 2026: MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN TAQWA DAN CINTA TANAH AIR
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْكِتَابِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin Jamaah Salat Jumat yang Berbahagia Rahimakumullah,
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah , karena atas rahmat dan karunia-Nya kita diperkenankan menukarkan waktu dan kesibukan duniawi kita untuk melangkahkan kaki menuju masjid yang kita cintai ini, guna menunaikan ibadah salat Jumat secara berjamaah.
Sholawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Baginda Nabi Besar Muhammad , beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah . Yaitu dengan berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Hadirin Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Saat ini kita berada di minggu pertama bulan Agustus. Ini menandakan bahwa tidak lama lagi bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 pada tanggal 17 Agustus.
Setiap tahunnya, berbagai lapisan masyarakat menyambut hari bersejarah ini dengan penuh antusias. Mulai dari pelaksanaan upacara bendera di tingkat RT, RW, kelurahan, instansi pemerintah dan swasta, hingga upacara kenegaraan di Istana Negara yang dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Tidak hanya itu, masyarakat juga memeriahkannya dengan pelbagai perlombaan yang mendidik guna melihat potensi diri sekaligus merawat ingatan atas karunia kemerdekaan ini.
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah cuma-cuma, melainkan nikmat agung dari Allah yang diraih melalui perjuangan panjang, genangan air mata, hingga tetesan darah para pahlawan dan ulama bangsa yang gigih melawan penjajahan ratusan tahun lamanya.
Oleh karena itu, menyambut HUT RI ke-81 ini adalah momentum bagi kita untuk menunjukkan rasa syukur dan bukti cinta kita kepada tanah air. Dalam ajaran Islam, mencintai tanah air (hubbul wathan) merupakan bagian dari cerminan keimanan seseorang.
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Mencintai tanah air memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim saat merindukan keamanan dan kemakmuran bagi negerinya dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 126:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian’…” (QS. Al-Baqarah: 126)
Begitu pula keterikatan batin Rasulullah terhadap tanah kelahirannya. Ketika beliau harus berhijrah meninggalkan kota Makkah, beliau bersabda dengan penuh keharuan:
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
Artinya: “Betapa indahnya engkau wahai negeriku (Makkah), dan betapa aku sangat mencintaimu. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan tinggal di negeri selainmu.” (HR. Tirmidzi No. 3926)
Bahkan ketika Nabi telah menetapkan Madinah sebagai tanah airnya yang baru, beliau senantiasa merindukannya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Anas :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا
Artinya: “Bahwa Nabi SAW apabila kembali dari bepergian dan melihat dinding-dinding kota Madinah, beliau mempercepat jalan untanya; dan apabila menunggangi hewan lain, beliau menggerakkannya karena cintanya kepada Madinah.” (HR. Bukhari No. 1886)
Dari dalil-dalil tersebut jelaslah bahwa rasa cinta kepada tanah air lahir dari jiwa yang beriman. Keimanan kita tidak akan sempurna jika kita acuh tak acuh terhadap kedamaian, keberkahan, dan kemajuan negeri tempat kita bersujud dan meminum airnya.
Jamaah Jumat yang Diberkahi Allah,
Setelah kita menyadari pentingnya mencintai tanah air, tanggung jawab terbesar kita selanjutnya adalah mengisi kemerdekaan tersebut dengan kerja nyata dan kontribusi positif.
Jangan sampai peringatan kemerdekaan ini berhenti pada euforia seremonial semata—bersorak merdeka, mengikuti upacara dan perlombaan, lalu setelah itu surut tanpa makna. Kita dituntut untuk menyiapkan generasi muda, para pelajar, dan mahasiswa agar tumbuh menjadi sumber daya manusia yang berakhlak mulia, cerdas, dan kompeten.
Mari kita isi kemerdekaan ini sesuai dengan keahlian dan kapasitas kita masing-masing:
-
Membangun Sumber Daya Manusia: Menyiapkan anak-anak kita agar menguasai ilmu pengetahuan dan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan.
-
Pembangunan Berkelanjutan: Berkontribusi aktif dalam memajukan sektor ekonomi, politik, kesehatan, dan kebudayaan yang berkeadilan.
-
Menjaga Persatuan: Menguatkan tali persaudaraan dan toleransi sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945, guna mewujudkan negara yang adil, makmur, serta mendapat ampunan Allah (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).
Semoga Allah senantiasa membimbing bangsa Indonesia, menganugerahkan kedamaian, dan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi bagian dari umat yang terus membangun tanah air ini demi mengharap ridha-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA (BAHASA ARAB)
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا”.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكِ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ إِندُونِيْسِيَا بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.




