Sinar5news.com – Jakarta – Langkah Ketua Umum PB NWDI, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi (TGB), kembali menjadi sorotan. Bukan hanya karena sikap politik dan solidaritasnya terhadap Iran, tetapi juga karena pesan keagamaan yang jauh lebih dalam: meruntuhkan sekat yang selama ini dianggap tak terjembatani.
Dalam pernyataannya, TGB mengungkapkan momen yang sarat makna tersebut.
“Alhamdulillah, tadi sore saya mengimami salat Asar di kediaman resmi Duta Besar Iran di Jakarta. Bapak Dubes Mohammad Boroujerdi, Kyai Nanang Masduki dan dua pejabat utama kedutaan menjadi makmum.”ungkap TGB di akun media sosialnya yang diunggah pada Jum’at malam 3 April 2026. Dikutip dari Fans TGB.
Beliau kemudian menegaskan prinsip dasar yang menjadi pijakannya.
“Orang beriman itu bersaudara, kata Allah. Saat saudara seiman dizalimi maka datangi, hibur dan besarkan hatinya. Itulah hak minimal seorang muslim atas saudaranya.”Tegas TGB
Pernyataan tersebut diperkuat oleh keterangan resmi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia yang merilis isi pertemuan pada 3 April 2026.
“Hari ini 03 April 2026, Yang Mulia Bapak Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Republik Islam Iran di Indonesia melakukan pertemuan dengan Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi. Dalam pertemuan ini, Tuan Guru Bajang menyampaikan solidaritasnya kepada rakyat Iran serta mengutuk keras serangan musuh terhadap Republik Islam Iran. Selain itu, beliau juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas keteguhan serta perlawanan rakyat Iran, dan mendoakan kemenangan bagi bangsa Iran.” tulis akun tersebut.
Konteks pernyataan ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya eskalasi konflik di Iran. Dalam berbagai pernyataan resmi sebelumnya, Kedubes Iran bahkan menyebut serangan terhadap negaranya sebagai pelanggaran hukum internasional dan tindakan agresi terbuka.
Namun, di balik dimensi geopolitik tersebut, ada pesan yang juga cukup mengguncang: soal mazhab dan klaim keislaman.
Selama ini, Iran kerap dituduh sebagai representasi Syiah yang oleh sebagian kalangan bahkan dianggap bukan bagian dari Islam. Narasi ini berkembang luas, terutama di media sosial, dan membentuk polarisasi tajam di tengah umat.
Tetapi apa yang dilakukan TGB menghadirkan realitas yang sulit dipatahkan oleh sekadar opini.
Seorang ulama Sunni dengan sanad keilmuan yang panjang dan kredibel berdiri di depan sebagai imam. Di belakang beliau, seorang duta besar Iran yang identik dengan tradisi Syiah, bersama para pejabatnya, menjadi makmum dalam satu saf salat yang sama.
Ini bukan sekadar simbol. Ini adalah praktik nyata.
Jika Syiah dianggap “bukan Islam”, maka bagaimana mungkin seorang ulama Sunni mengimami salat mereka? Dan bagaimana mungkin salat berjamaah itu berlangsung dalam satu kesatuan ibadah tanpa sekat?
TGB yang juga Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia itu tampaknya tidak ingin menjawab perdebatan tersebut dengan sebatas retorika. Beliau juga menjawabnya dengan tindakan.
Di saat sebagian orang sibuk menghakimi dari kejauhan, beliau justru hadir, memimpin salat, dan menunjukkan bahwa ukhuwah Islamiyah bukan sekadar jargon melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan dalam kehidupan.(red)




