Abu Akrom Mendominasi Khutbah Jum’at Nasional: 312 Judul Dibaca Puluhan Ribu Khatib
Dalam peta dakwah Indonesia, satu nama kini semakin menonjol dan sering menjadi rujukan para khatib di berbagai daerah: Abu Akrom. Sejak akhir tahun 2019 hingga 2025, ia telah menulis 312 judul khutbah Jum’at, sebuah pencapaian yang menempatkannya sebagai salah satu penulis khutbah paling produktif dan paling berpengaruh di Indonesia.
Yang membuat prestasi ini luar biasa adalah konsistensinya. Bukan sekali-sekali menulis, bukan pula berdasarkan suasana hati, tetapi setiap pekan, tanpa jeda, ia selalu menghadirkan satu judul khutbah baru. Selama lebih dari lima tahun, ritme ini tidak pernah berhenti. Ketekunannya membentuk sebuah jejak dakwah yang stabil dan terukur—sebuah komitmen yang jarang ditemukan di era digital saat ini.
jika Setiap tulisan yang diterbitkannya memiliki ciri khas yang membuatnya mudah diterapkan para khatib: bahasa jelas, dalil kuat, struktur khutbah tertata, serta relevan dengan kondisi sosial umat. Tak heran, satu judul khutbah saja bisa diakses 30.000 hingga 50.000 pembaca, sebuah angka fantastis yang menunjukkan betapa luasnya pengaruh karya beliau di mimbar-mimbar Jum’at nasional.
Dengan capaian ribuan pembaca per judul, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Abu Akrom mendominasi lanskap penulisan khutbah Jum’at di Indonesia saat ini. Di banyak daerah, khutbah-khutbahnya menjadi “rujukan tetap”—dipakai mulai dari masjid besar perkotaan hingga surau sederhana di kampung, bahkan oleh para diaspora Indonesia di mancanegara.
Namun kiprah Abu Akrom tidak hanya berhenti di khutbah Jum’at. Ia dikenal sebagai penulis yang serba bisa, yang dengan luwes berpindah dari satu bentuk karya ke bentuk lainnya. Ia menulis:
– Syair bertema nilai moral dan tasawuf
– Cerpen dakwah yang mengajak pembaca merenung
– Pantun-pantun islami yang penuh pesan
– Artikel keagamaan, pendidikan, dan sosial
– Berita kegiatan yang bernuansa positif
– Serta berbagai bentuk tulisan kreatif lainnya
Keberagaman karya ini menunjukkan keluasan wawasan sekaligus kematangan proses kreatifnya. Tidak banyak penulis yang mampu menjaga kualitas ketika menulis di banyak genre sekaligus—tetapi Abu Akrom memadukannya dengan baik.
Dari sisi akademis, banyak yang menilai bahwa tulisan-tulisan Abu Akrom memenuhi kriteria karya ilmiah populer: berdasarkan dalil, relevan dengan konteks, memiliki argumentasi yang runtut, serta menyajikan solusi keislaman yang moderat dan menyejukkan. Inilah yang membuat karya-karyanya bukan sekadar bacaan, melainkan referensi yang dipercaya oleh ribuan khatib.
Di dunia pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, penulis yang memiliki nama lengkap Marolah Abu Akrom, S.Ag., MM, lebih dikenal dengan panggilan Ust. Amrullah. Namun di dunia literasi dakwah, nama pena “Abu Akrom” justru menjadi identitas yang dikenal luas. Nama ini kini sering muncul di platform-platform digital yang menyediakan teks khutbah Jum’at.
Melalui karya-karyanya, Abu Akrom seakan memperlihatkan bahwa dakwah melalui tulisan adalah jalan yang senyap namun sangat kuat. Satu tulisan dapat kembali dihidupkan oleh ribuan khatib di mimbar-mimbar Jum’at. Satu pesan dapat disampaikan ulang kepada jutaan jamaah. Inilah multiplier effect dari dakwah literasi—dan Abu Akrom berada di garda terdepan.
Lebih dari 300 judul khutbah bukan hanya bentuk produktivitas, tetapi cerminan dari perjalanan panjang seorang penulis yang meniatkan ilmunya untuk umat. Setiap pekan, dari 2019 hingga kini, ia tidak pernah absen menanam pesan-pesan kebaikan yang kemudian bertunas pada hari Jum’at di mimbar-mimbar seluruh Indonesia.
Tulisan ini disusun sebagai hasil liputan redaksi sinar5news.com, yang menyoroti kiprah seorang penulis yang telah memberikan warna baru dalam tradisi khutbah Jum’at nasional.



