Dakwah pada dasarnya adalah ajakan menuju jalan Allah, sebagaimana yang ditempuh para nabi dan diwariskan kepada para ulama. Maulana Syaikh termasuk tokoh yang menjalani amanah besar ini dengan penuh ketulusan. Beliau melihat hidup sebagai ladang pengabdian tanpa batas. Beliau sering menggambarkan dirinya seperti matahari: tidak pernah meminta balasan, tetapi terus memberi cahaya dan manfaat bagi siapa saja.
Dalam berdakwah, Maulana Syaikh tidak hanya mengandalkan isi ceramah atau materi ajaran semata. Beliau memahami bahwa dakwah adalah seni. Ada cara, gaya, dan momentum yang harus dipilih dengan tepat agar pesan dapat diterima dengan baik. Karena itu, beliau selalu mampu membuat jamaah merasa dekat, tersentuh, bahkan terkesan setiap kali berjumpa.
Salah satu metode dakwah beliau yang paling berkesan adalah pendekatan kultural. Beliau tidak menolak budaya lokal yang sudah hidup di tengah masyarakat Lombok. Selama budaya itu tidak bertentangan dengan syariat, beliau menerimanya sebagai bagian dari jalan dakwah. Sikap seperti ini membuat masyarakat merasa dihargai dan membuat ajaran agama lebih mudah diterima. Dari sini, beliau menanamkan nilai moderasi, toleransi, dan keseimbangan dalam beragama. Beliau tidak mudah mengeluarkan larangan atau fatwa yang keras tanpa memahami kondisi sosial, sebab beliau selalu menimbang dampaknya bagi masyarakat luas.
Selain itu, kekuatan dakwah Maulana Syaikh terletak pada fondasi tarbiyah yang kokoh. Beliau membangun masjid sebagai pusat ibadah, lalu mendirikan madrasah sebagai pusat pendidikan. Dua institusi ini menjadi fondasi utama perkembangan dakwah beliau. Dari madrasah inilah lahir generasi yang cerdas, paham agama, dan memiliki karakter kuat untuk meneruskan perjuangan. Ini juga yang membuat dakwah beliau menyebar dengan cepat dan tertata dengan baik di berbagai daerah.
Warisan beliau bukan hanya bangunan atau lembaga, tetapi juga cara berpikir dan semangat untuk terus belajar. Banyak peninggalan beliau yang sebenarnya masih bisa digali lebih dalam oleh generasi sekarang. Jika terus dipelajari, warisan tersebut bisa menjadi cahaya dan pedoman yang menuntun perjalanan para murid dan penerusnya.
Sebagai generasi yang datang setelah beliau, kita seharusnya menjadikan metode dakwah ini sebagai inspirasi. Dakwah tidak harus keras atau memaksa. Dakwah bisa lembut, mengakar pada budaya, dan diperkuat oleh pendidikan. Itulah ruh dakwah Maulana Syaikh: memberi manfaat, menuntun dengan kebijaksanaan, dan membangun masyarakat dengan penuh cinta.
penulis Hasan Asy’ari, ME



