Banyak dari manusia yang terlihat begitu sibuk dan gigih dalam melakukan berbagai bentuk amal saleh di dunia, lebih lagi ketika dilihat dan disaksikan oleh orang banyak dalam beramal, mereka semakin meningkatkan kualitas amal mereka. Terlihat begitu sempurna dan begitu elok dalam melakukan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika disaksikan oleh orang banyak, akan tetapi keadaan yang sebaliknya ditampilkan dalam beribadah ketika dalam keadaan sepi atau sendiri.
Ketika berada di tengah-tengah perkumpulan orang, muncullah dari mulutnya kata-kata indah, penuh wibawa dan mencerminkan dia adalah orang-orang yang memiliki sifat kebaikan dan kemuliaan. Begitu lembut perangainya indah memandangnya dan enak didengar suaranya.
Pemandangan sebaliknya ketika diperhatikan gerak-geriknya saat sendirian, ternyata muncul dari mulutnya kata-kata kotor dan menjijikkan, terlihat dari perilakunya seperti halnya seorang yang tidak berpendidikan.
Apakah gambaran di atas yang dikatakan sebagai sebutan manusia modus dalam bahasa masa kini ?. Kalau hanya di hadapan orang banyak perilakunya semakin baik dan berkualitas, ketika sendirian perilakunya begitu rendah dan memprihatinkan, maka yang demikian itu tidak lebih dari sifat anak kecil yang banyak kita saksikan pada kehidupan sehari-hari, mereka akan giat bekerja saat dipuji dan diperhatikan, ketika ditinggalkan, maka pekerjaannya dilakukan asal – asalan dan bahkan ditinggalkan. Mental seperti ini jelas merupakan mental pemalas dan perusak. Jika orang seperti ini dipercayakan untuk memegang sebuah amanah, maka bisa kacaulah amanah tersebut.
Sangat disayangkan bila orang sudah tua atau sampai kepada puncak dewasa masih memiliki sifat kekanak-kanakan dalam beramal… Selengkapnya baca disini 👇
Buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi 150
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHAIDI



