Diskusi Umum Konferensi Internasional Studi Islam, H. Muslihan Habib : Korelasi Agama dan Kemanusiaan

Diskusi Umum Konferensi Internasional Studi Islam, H. Muslihan Habib : Korelasi Agama dan Kemanusiaan

Korelasi Agama dan Kemanusiaan
Agama adalah kebutuhan jiwa (psikis) manusia yang akan mengatur dan mengendalikan sikap, kelakuan dan cara menghadapi tiap-tiap masalah. Diantara ilmuan Barat, seperti Clifford Geertz, dengan sederhana menyebut agama sebagai sebuah “sistem kultural”.

Kemudian, ada sebuah kritikan untuk model Geertz oleh Talal Asad, dimana ia mengategorikan agama sebagai “sebuah kategori antropologikal.”

Dalam perjalanan kesejarahan umat manusia, agama seringkali menempati posisi sentral dalam proses-proses kehidupan kemaysrakatan dimanapun. Meminjam ungkapan Durkheim, bahwa agama merupakan salah satu kekuatan yang mampu membentuk tanggung jawab moral dalam diri individu pemeluknya untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan merupakan semen perekat bagi setiap anggota masyarakat yang bersangkutan dan bahkan semenjak kehadiran amsyarakat manusia paling awal.

Dengan demikian rasa agama dan perilaku keagamaan (agama dan kehidupan beragama) merupakan pembawaan dari kehidupan manusia, atau dengan istilah lain merupakan “fitrah” manusia.

Ada sebuah buku berjudul al-Insaniyyah qabl at-Tadayyun (kemanusiaan sebelum keberagamaan) adalah kumpulan tulisan Habib Ali al-Jufri antara tahun 2012 dan 2014. Tulisan ini, intinya berisikan pemahaman bahwa agama dan kemanusiaan pasti sejalan, mengingat misi utama agama adalah kemanusiaan itu sendiri. Kita mesti kembali kepada kemanusiaan kita agar keberagamaan kita dapat diandalkan.

Hal yang sama, dapat kita perhatikan ulasan pakar kajian Islam dan studi Al-Qur’an seperti yang disampaikan oleh Fazlur Rahman (1919–1988), misalnya, dalam sejumlah karyanya seperti Islam, Prophecy in Islam, atau Major Themes of the Qur’an pernah menegaskan bahwa Islam adalah “agama antroposentris” yang memberi penekanan atau prioritas pada masalah-masalah kemanusiaan universal, dan bukan “agama teosentris” yang berpusat atau bertumpu pada hal-ikhwal yang berkaitan dengan ibadah ritual individual-ketuhanan. 

Mendahulukan kemanusiaan sebelum keberagamaan merupakan salah satu konsep yang ideal untuk memupuk kerukunan antar umat beragama di era disrupsi ini. Namun hal tersebut sering di abaikan oleh sebagian tokoh-tokoh agama. Bahkan banyak orang Islam yang belum bisa membedakan antara agama dan keberagamaan. Jika hal tersebut tidak segera diluruskan, maka dapat merusak keharmonisan hidup rukun antar umat beragama. Di sisi lain, hal tersebut dapat memicu terjadinya kasus intoleran, Islam radikal, kolot dan semacamnya.

Bagi Prof. Quraish, mengutamakan kemanusiaan adalah fitrah yang sejalan dengan akal dan syariat. Mengedepankan kemanusiaan dari keberagamaan bukan berarti meninggalkan agama. Sebab keberagamaan tentu bukan agama, tapi keberagamaan lebih diartikan sebagai sikap dan corak dalam mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama itu sendiri. Menurut beliau, kemanusiaan bukan hanya manusia. Persaudaraan manusia bukan sekadar hubungan, melainkan konsep manusia sosial dan hubungan yang terbangun di atas dasar nilai-nilai keadilan, perlakuan baik, kasih sayang, dan kedamaian, bahkan mementingkan orang lain dan berkorban.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA