Oleh: M. Rusli Nasir, ZH.
Dr. Raden TGH. L. Pattimura Farhan, M.HI lahir di Kediri pada 1977 M., dari pasangan Ustaz L. Muchsin bin Syekh TGH. Abdul Hafidz Sulaiman dan Hj. Baiq Fatmah, seorang gadis cantik asal Sakra Lombok Timur.
Lahir di tengah keluarga bangsawan religius dan sebagai cucu dari ulama besar yang pernah menjadi anggota Konstituante bersama Maulana Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Pancor (perwakilan dari Sunda Kecil), sedikit banyak telah membentuk pribadi Pattimura Farhan sejak belia.
Pattimura dengan sematan nama seorang Pahlawan Nasional asal Huwaloy Maluku ini, rupanya tidak latah dan tak mau lalai, dengan segala kebesaran pendahulunya, sehingga menunggu “emas” jatuh dari langit. Tapi, sejak kecil ia telah terbiasa dilatih berjuang bila ingin memperoleh sesuatu yang berharga dan bermakna.
“Saya tak akan dikasih uang sama Ninikda, kecuali setelah saya menghafal ayat-ayat pendek atau mau disimak mengaji.” Kenang Miq Tuan Pattimura satu ketika dalam pidatonya di Pondok Pesantren Selaparang.
Tempaan demi tempaan dari Sang ayah yang disiplin dan ibunya yang salehah, serta dalam pantauan Sang Kakek yang alim nan saleh, maka pendidikan, keahlian, kecerdasan dan karakternya terbentuk dan mewujud dalam perjalanan hidupnya.
Sebagai keluarga religius, Pattimura belajar mengaji Alquran sudah dimulainya sebelum masuk Sekolah Dasar (SD) dan _khatam_ saat masih kanak-kanak.
Masuk pendidikan formal di SDN 1 Kediri, lanjut di MTs. Islam Selaparang dan sekolah setingkat MA di Ash-Shiddiqiyah Jakarta. Sepanjang tingkatan-tingkatan jenjang ini beliau selalu menjadi juara, baik di kelas ataupun pada saat pentas perlombaan pidato. Padahal ia juga sibuk dan aktif berorganisasi.
“TGH. L. Pattimura yang saya kenal selama di Ash-Shiddiqiyah adalah sosok yang santun, peduli, sederhana dan amanah, sehingga beliau dicintai teman dan disayangi Kiyai. Nilai akademik beliau selalu terbaik. Sering mengikuti lomba di internal Pondok Pesantren atau setingkat Jakarta. Beliau juga masuk menjadi pengurus persatuan santri Ash-Shiddiqiyah.” Demikian persaksian Ust. Muhammad Husni (Da’i).
Menjadi sosok berprestasi terus terawat dalam rekam jejak pendidikan Wakil Komisioner BAZNAS NTB ini. Saat menempuh pendidikan pasca sarjana (S2) di UIN Mataram ia juga menjadi mahasiswa terbaik, setelah mempertahankan tesisnya dengan judul, “Doktrin Politik Syiah dan Sunni: Pengaruhnya kepada Hukum Keluarga.”
Prestasi itu terwujud pula di puncak karir akademik Mamiq Tuan Pattimura Farhan. Beliau menempuh studi doktoral di Universitas yang sama dalam masa yang sangat singkat dan tercepat, dengan nilai paling tinggi dan predikat Cumlaude.
“Alhamdulillah (sejak awal) sudah saya bilang _plungguh_ (anda) yang terbaik. _Plungguh_ terbaik karena paling cepat selesai. _Plungguh_ yang terbaik karena nilai yang paling banyak dan paling baik.” Kata Bapak Dr. Mushlehuddin Dosen di UIN Mataram.
_Subhanallah_, sedemikian gemilang prestasi akademik Miq Tuan Patti, namun sama sekali tidak diterima tanpa perjuangan yang tiada henti dan ujian menghampiri.
Saat penulisan disertasi dengan sekian kesibukannya mengumpulkan data dan bertemu para narasumber, termasuk untuk bertemu Direktur Pasca Sarjana UIN Mataram, Prof. Dr. TGH. Pahrurrozi Dahlan, MA, beliau harus tempuh tengah malam buta. Semua dijalaninya dengan tekun nan sabar.
Sepanjang proses penulisan dan menjelang Ujian Tertutup dan Terbuka Disertasi untuk memperoleh gelar doktoral itu, Miq Tuan Patti ini harus berjibaku dengan ujian beruntun. Mamiqda HL. Husain Abdul Hafidz (mertua) sakit dan keluar-masuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) NTB dan sekian kali kritis.
Sang mertua belum menampakkan tanda-tanda pulih, Miq Tuan Patti ditindih lagi dengan ujian, bahwa Sang Guru Raden TGH. L. Mahsun Abdul Hafidz (kakak ayahnya) sakit pula dan harus Rawat Inap di Rumah Sakit Patut Patuh Patju (RSP3) Gerung. Miq Tuan Sun pun sekian kali mengalami koma sampai akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Ya Allah. Sepertinya Tuhan Yang Mahakuasa “belum merasa cukup” menguji Sang Kekasih-Nya ini dengan rentetan ujian, ibu kandung Miq Tuan Patti sendiri yang punya giliran sakit. Wajib Rawat Inap di RSP3 Gerung. Yang membuat saya sempat khawatir, karena kamar yang ditempat emaknya ini adalah kamar Miq Tuan Sun. Pikiran pun mulai liar.
Namun, _alhamdulillah_ kehidupan memiliki ritme dan potret yang khas. Miq Tuan Patti dengan izin-Nya tetap tegar dan sabar. Bahkan, beliau dengan sadar mengatakan, *_”Ada sedih di sela-sela bahagia. Ada bahagia di sela-sela sedih. Demikianlah kehidupan diperjalankan.”_* (Via WA, 4-7-2022 M).
_Alhamdulillah._ Buah ujian itu luar biasa. Sampai saya masih kesulitan mencari padanan kata atau kalimat yang sepadan untuk mewakili *rasa bahagia dan haru*, saat melihat hasil yudisium doktoral (8-7-2022 M.) gurunda *Raden Dr. TGH. L. Pattimura Farhan, M.HI* dengan predikat *Cumlaude*. Terlebih, karena hanya beliau yang memperoleh nilai segemilang itu dari seangkatannya. Sungguh, pada Miq Tuan Patti terpotret keuletan dan kesungguhan.
_Tahaddus binikmatillah_. Ternyata, Miq Tuan Patti tidak hanya memiliki kemampuan dan kecerdasan akademik, tapi sebagai politisi pun tak kalah gemilang dalam berprestasi. Saya sebagai murid beliau mengetahui betul, betapa beliau saat menjadi anggota DPRD Kabupaten Lombok Barat ia menjadi anggota dewan teladan dan berprestasi.
Saat berkhidmat sebagai wakil rakyat di DPRD NTB pun semakin gemilang. Prestasi Miq Tuan Patti semakin cemerlang. Satu priode diamanahi, hanya beliau yang memiliki bakat dan kecepatan bisa mengusulkan enam rancangan Undang-undang dan menjadi Undang-Undang Daerah.
“Yang tertinggi membuat usulan inisiatif dari anggota itu (adalah) dari farksi PKS. Beliau mengajukan 6 inisiatif selama lima tahun ini. Anggotanya bernama TGH. L. Pattimura Farhan, sehingga kita pusing ke depan, kira-kira ada ndak yang seperti Pak Pattimura.” Demikian kekaguman Hj. Isvi Rupaida, SH Ketua DPRD NTB.
Walhasil, dengan segala kegemilangan prestasi yang diraih Miq Tuan Duktur adalah setelah mengalami sepuhan ujian beruntun. Hanya orang diizinkan dan dipilih-Nya yang bisa menempuh puncak cahaya ilmu. Ingin berprestasi, harus siap disepuh.
_Wa Allah A’lam!_
Bilekere, 9 Juli 2022 M.



