Belajar Dari Papua

Belajar Dari Papua

 

Hiruk pikuk kabar berita dan tontonan yang memperlihatkan kemegahan sirkuit Mandalika semenjak mulai di resmikan oleh bapak presiden Jokowi serta latihan yang digelar oleh IACT pasca peresmian  memperlihatkan antusias warga lokal masyarakat Lombok tengah khususnya dan NTB umumnya tumpah ruah. Layaknya seperti pesta bau nyale.

Kemeriahan sorak sorai, tepuk tangan, senyum tersungging di bibir tipis dari semua yang hadir. Energi positive kebaikan mengalir menyelimuti pulau seribu menara hari itu. Semua mata memancarkan cahaya kebahagiaan. Pesta kemeriahan bergemuruh menembus cakrawala menggetarkan bumi persada tanah kelahiran putri nyale.
 
Kemeriahan dan kemegahan sirkuit dalam gawe sangkep peresmian sedikit ternodai, dengan tidak terlihatnya kepala daerah Lombok tengah ( bupati ) diarena peresmian motor GP di dalam sirkuit Mandalika. Seketika saja pandangan dan suara sumbang rakyatnya tertuju sama panitia dan pimprov NTB. Yang tidak melibatkan dan tidak mengajak sang bupati. Entah itu paktor sengaja ataupun paktor lain masih tanda tanya. hiporia kebahagiaan warga Lombok tengah khususnya sebagai tempat lokasi sirkuit
Sedikit ternodai, protes wargapun marak tertuju pada sang Gubenur. 
 
Tanah pusaka yang sudah digarap sejak leluhur sebagai tempat tinggal beranak pinang ribuan tahun yang lalu kini sudah berubah bentuk dan kepemilikan. Ada sebagian warga yang sampai hari ini yang berjumlah kurang lebih delapan puluhan KK masih belum menerima pembayaran ganti rugi.  Forum Kebangsaan terus akan  menyuarakan hak atas pembayaran sampai tuntas. Mengingat nasib mereka yang tinggal disekitar sirkuit sangat memperihatinkan. Sementara rumah ladang tempat bercocok tanam sudah menjadi sirkuit. 
 
Mereka hanya bisa lihat dari kejauhan, hanya bisa mendengar  desingan deru laju suara motor.  yang dulu tempat mereka bermukim, beranak pinang sekarang sudah disekat tembok kawat besi. Hanya mereka yang berkantong tebal yang mampu duduk didalam sana. Sementara mereka warga miskin bagai terasing diatas tanah sendiri pusaka leluhur tempat mereka dulu dilahirkan. 
 
Karena hanya ingin bersama menikmati pandangan di dalam sirkuit mereka warga sekitar yang tidak mampu masuk ke dalam. Hanya bisa menatap  dari kejauhan melalui pohon – pohon yang ada disekitar sirkuit. mereka menikmati duduk terasa diatas singgasana para dewa atau kelas VIP. Entah apa yang menjadi dasar penilaian aparat.  tempat duduk mereka yang disiapkan alam semesta berupa pohon-pohon disekitar sirkuit. Mereka tebang habis, dengan alasan keamanan warga. Bagi warga alasan itu tidak masuk akal. Karena pepohonan  bagi masyarakat lokal adalah tempat mereka bermain sejak kecil.
 
Budaya kearifan lokal yang mesti dipertahankan sebagai bagian dari nilai tradisi yang penuh dengan estetika seni malah diberangus. Inilah bentuk kejahatan kemanusiaan yang atas nama uang dan keserkahan berkuasa. Yang semestinya mengayomi rakyat malah membunuh kretifitas dan niliai luhur budaya yang hidup di bumi seribu menara. 
 
Apakah rakyat kecil rakyat miskin tidak boleh melihat, bukankah mereka disana tidak melanggar, membuat kerusakan karena mereka bukan memaksa masuk. Mereka hanya melihat dari kejauhan dengan tetap menjaga nama baik tuan rumah. Ironi ketidak adilan terhadap warga lokal semakin melebar. Yang telah merelakan tanah tumpah darahnya, tanah pusaka leluhurnya. Ditempati sirkuit bukannya di jaga dan dibina malah diberangus.
 
Belajar dari masyarakat Papua yang sukses sebagai tuan rumah PON mempekerjakan masyarakat lokal 70% sisanya 30% dari luar daerah. Walaupun sudah  terlampau jauh terlambat, untuk menghindari kerusakan dan kekacauan dikemudian hari hendaklah pimprov NTB meninjau ulang aturan yang selama ini merugikan masyarakat lokal. Mereka diam bukan karena tidak paham jangan terus menindas rakyat kecil. Pemerintah daerah harus dapat menengahi dan menaruh warganya sebagai pelaku bukan hanya obyek. 
 
kehadiran Sirkuit harus dapat menghadirkan nilai tambah  dan dirasakan dinikmati warga lokal dalam menunjang pengembangan dan peningkatan SDM dan ekonomi masyarakat sekitar dan Indonesia pada umumnya. Ini yang harus terjadi bukan sebaliknya masyarakat lokal terpinggirkan.
 
Penulis : Presiden Forum Kebangsaan

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA