SAAT ini bencana banjir sudah terjadi di mana-mana termasuk di Indonesia. Banjir di negeri ini kebanyakan disebabkan kerusakan alam, dan penyalahgunaan peruntukan. Beberapa hari lalu, daerah Kemang, Jakarta Selatan, misalnya, dilanda banjir yang disebabkan menyempitnya aliran sungai di sekitar situ.
Kerusakan alam dan penyalahgunaan peruntukan akibat keserakahan manusia yang tidak mampu menjaga alam pemberian Allah bagi kebaikan manusia dan makhluk lainnya. Akibatnya, kini, hujan seperti momok yang menakutkan bagi manusia. Padahal, hujan yang Allah turunkan adalah rahmat bukanlah azab. Namun tidak semua harapan bisa menjadi realita. Hujan yang kita harapkan menjadi rahmat, ternyata justru menjadi tentara Allah yang siap menghukum kita, dan menjadi azab bagi mereka yang durhaka. Hujan bak pisau bermata dua, bisa menguntungkan dan sekaligus bisa merugikan.
Tentunya anda masih ingat peristiwa yang pernah terjadi di zaman Nabi Nuh alaihis salam. Bagaimana Allah membalas keangkuhan umat Nuh dengan hujan dan air yang berlimpah.
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al Qamar: 11-12).
Di saat itulah, tidak ada yang bisa menyelamatkan diri, selain mereka yang Allah rahmati.
“Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 42-43)
Apa sebab banjir?
Ayat yang sering didengungkan ketika terjadi musibah, adalah firman Allah di surat Ar-Rum:
“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia. Agar Allah merasakan sebagian dari perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ada satu hal yang telah menjadi mindset hampir semua orang terkait ayat ini, tafsir perbuatan tangan-tangan manusia hanya terbatas pada sikap manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Mereka menyimpulkan bahwa banjir, atau bencana apapun bentuknya, disebabkan sikap manusia yang tidak disiplin dalam mengelola lingkungan. Di saat banjir mulai melanda, rame-rame orang menyalahkan buang sampah sembarangan, infrastruktur yang kurang diperhatikan pemerintah, eksploitasi alam yang tidak terkontrol, dst
Namun, tahukah anda, ternyata sebab utama banjir atau bencana alam lainnya, tidak hanya dalam bentuk lahiriyah sebagaimana anggapan di atas. Ada sebab terpenting yang ternyata belum dipahami kebanyakan orang. Sebab itu adalah maksiat.



