Muhadarah adalah kegiatan mingguan yang dilakukan setiap hari sabtu, dengan tujuan menumbuhkah mental dan memberikan bekal keterampilan kepada anak didik supaya memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
Mental dan Kemampuan berkomunikasi adalah sasaran utama yang ingin dibiasakan dan ditanamkan sebagai karakter bagi peserta didik.
Dengan pelatihan muhadarah, siswa diharapkan mampu dan terbiasa menyampaikan dan mengekspresikan isi hatinya, serta memiliki mental yang kokoh, berani berbicara didepan publik.
Dalam pelaksanaannya, Latihan berpidato (muhadarah) yang dilaksanakan setiap hari sabtu dirangkai dengan beberapa kegiatan. Kegiatan yang pertama, pembawa acara membuka acara dengan sama-sama membaca basmalah. Dilanjutkan dengan acara yang kedua, pembacaan Shalawat Nahdlatain. Acara yang ketiga, pembacaan ayat suci alqur’an. Acara yang keempat, khitobah. Acara yang kelima kesimpulan seluruh isi pidato. Kemudian ditutup oleh acara terakhir pengarahan dari kepala sekolah atau Guru yang ada.
Setiap tampilan diisi secara bergiliran antar kelas. Misalnya minggu pertama kelas 10 ipa, minggu kedua kelas 10 ips. Begitu seterusnya berputar dari kelas 10 sampai kelas 12.
Tiap tampilan kelas yang berpidato dibatasi minimal tiga tampilan da’i, dan maksimal lima da’i. Setiap peserta diberikan kebebasan untuk tampil berekspresi sesuai dengan model dan gaya pidato yang dikehendaki. Begitu juga konten yang disampaikan, para siswa diberikan keleluasaan untuk memilih konten apa yang diinginkan, asalkan tidak saling menyinggung, dan sopan.
Bukan sekedar berpidato. Siswa juga boleh mengganti pidato dengan berdongeng, curhat, penyampaian dalam bentuk berita, atau dalam bentuk dialog. Karena inti dari mukhadarah adalah menumbuhkan mental dan mampu berkomunikasi dengan baik.
Mukhadarah di SMA NW Jakarta sangat berkontribusi besar dalam melatih dan membentuk mental siswa. Berapa banyak siswa yang masuk SMA belum pernah berbicara didepan umum, belum pernah berbicara dengan menggunakan mikrofon, kalau berbicara di publik badan gemetar bercampur dengan keringat. Tapi seiring dengan semakin seringnya berlatih melali muhadarah, menjadikan mereka menjadi berani untuk berbicara didepan umum. Misalnya Aswir fikriwansyah, pada awal masuk di SMA NW belum memiliki keberanian untuk tampil didepan umum. Setelah lama mengikuti mukhadarah dia mencoba mengikuti seleksi calon OSNW, disitulah mulai kelihatan hasil mukhadarah beberapa bulan lalu, penampilannya mampu menarik perhatian para asatidz, musyrif dan teman-temannya sehingga terpilih menjadi ketu OSNW. (fathi)
Moga Manfaat




