Fî ‘Uqûbat Târiq al-Shalât (Siksa Bagi Orang yang Meninggalkan Salat)

Fî ‘Uqûbat Târiq al-Shalât (Siksa Bagi Orang yang Meninggalkan Salat)

Oleh :Prof Dr H Harapandi Dahri M.A

Jika engkau ingin mengetahui kedekatanmu dengan Allah, maka lihatlah bagiamana sembahyang yang telah engkau lakukan; jika baik maka baiklah hubunganmu dengan Allah tetapi jika ibadah sembahyangmu rosak maka jauhlah engkau denganNya.

Bermula bab yang pertama ialah Uqûbat (siksaan) orang-orang yang meninggalkan sembahyang. Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman dalam surat al-Bayyinah/98:5.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Tafsirnya: Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Ugama yang benar.

Dalam sebuah hadits Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ (رواه البيهقي)
Maksudnya: “Sembahyang itu merupakan tiang agama, sesiapa yang mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama dan sesiapa yang meninggalkannya maka ia telah merusak (merobohkan) agama”.

Sembahyang bagaikan tiang dalam sebuah bangunan, jika bangunan tanpa tiang pastilah akan rosak dan runtuh, demikian pula agama jika sembahyang diabaikan (tiada dijalankan), maka pasti agama seseorang akan binasa bahkan kita akan termasuk orang-orang yang munafiq.

Hal tersebut ditegaskan baginda Rasul dalam sebuah hadithnya tiada perbedaan antara orang Islam dan orang munafiq melainkan mereka yang meninggalkan sembahyang. Jadi orang yang meninggalkan sembahyang berarti termasuk orang munafiq, bahkan jika ia meninggalkan sembahyang karena ingkar akan kewajiban sembahyang maka masuk dalam katagori orang kafir.

Al-Syaikh menjelaskan satu cerita bahawa sesiapa yang meringan-ringankan sembahyang ia akan disiksa dengan 15 siksaan. Enam (6) siksaan ketika berada di atas dunia, tiga (3) siksaan saat kematian menjemputnya, tiga (3) siksaan waktu berada di alam kubur, tiga (3) siksaan semasa bertemu dengan Tuhannya.

Adapun enam (6) siksaan di atas dunia ialah; (1) diambil keberkatan (tiada memberi manfaat) umurnya, (2) tidak akan merasakan keberkatan pada rizkinya, (3) tiada terlihat tanda-tanda kebajikan dari raut mukanya, (4) tiada terpelihara agamanya, (5) tiada mendapat pahala daripada semua amal kebajikan yang dilakukan, dan (6) tiada diangkatkan doanya oleh Malaikat kehadapan Allah Azza Wajalla.

Sedangkan tiga (3) siksaan saat menghadapi kematian ialah; (1) dimatikan Allah dengan kehinaan, (2) ketika sakaratul maut ia akan merasakan sangat lapar, dan (3) juga dimatikan dalam keadaan sangat dahaga; sekiranya semua air yang ada di dunia ini dituangkan ke dalam mulutnya, ia tiada dapat menghilangkan rasa dahaganya.

Tiga (3) siksaan yang akan diperolehi ketika dalam alam kubur ialah; (1) akan dipicikkan tanah kuburannya hingga menyatu antara dua belah tanah yang kiri berpindah ke arah kanan dan tanah sebelah kanan akan bergeser ke arah sebelah kiri dan diperintahkan dua orang Malaikat untuk menyiksanya hingga datangnya hari kiamat, (2) didatangkan beberapa ular yang dikenali dengan “Syuja al-Aqra”, kedua matanya dari api neraka, (3) kuku-kuku Malaikat tersebut terbuat daripada besi harsani dan panjang kukunya perjalanan sehari semalam, di tangannya terdapat cemeti daripada besi, lalu Malaikat itu berkata dengan suara seperti gemuruh; “Aku disuruh Tuhanku untuk memalukan dikau kerana engkau meninggalkan sembahyang.

Sementara tiga (3) siksaan saat bertemu dengan Tuhannya ialah; (1) Allah memerintahkan Malaikat untuk merantai orang yang meninggalkan sembahyang, panjang rantainya 70 hasta. Rantai tersebut digantungkan pada lehernya dan dimasukkan ke dalam mulutnya lalu dikeluarkan melalui duburnya, setelah itu Malaikat menarik-nariknya sambil berkata; inilah balasan orang yang meninggalkan sembahyang yang telah difardhukan Allah, (2) Tiada minilik akan Allah Azza Wajallan ke arahnya, dan (3) tiada dipilih (siksa) baginya melainkan siksaan yang paling panas dan sakit.

Keutamaan Sembahyang

Al-Syaikh juga menuliskan beberapa hadith Dari Anas bin Malik. Ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda;

عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلىَ كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتاَنِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ. (أخرجه الترمذي)

Maksudnya: “Siapa yang sembahyang empat puluh hari secara berjamaah sejak takbir pertama, dicatat baginya dua keterbebasan; keterbebasan dari api neraka dan keterbebasan dari kemunafikan.” (HR. at-Turmudzi)

Dalam riwayat lain baginda Rasul bersabda yang bermaksud;
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّان: مَنْ صَلَّى صَلاَةَ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِي جَمَاعَةٍ فَهُوَ كَقِياَمِ لَيْلَةٍ وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَهُوَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَهُوَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ (رواه أحمد)

Maksudnya: “Dari Sayyidina Utsman bin Affan:Barang siapa yang sembahyang Isa dan subuh secara berjamaah, seakan-akan ia mendirikan salat sepanjang malam, Abdurrahman berkata: Sesiapa yang salat isya berjamaah eperti ia salat setengah malam dan sesiapa yang salat subuh secara berjamaah seperti ia salat sepanjang malam”.

Satu riwayat lain juga mengatakan yang bermaksud

وعَنْ جابِرِ بْنِ سَمُرَةَ: أنَّ النَّبِيَّ ﷺ كانَ إذا صَلّى الصُّبْحَ جَلَسَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. قُلْتُ: هُوَ فِي الصَّحِيحِ غَيْرُ قَوْلِهِ: يَذْكُرُ اللَّهَ. (رواه الطبراني)

Maksudnya: ”Dari Jabir bin Samurah: Sesungguhnya Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, (kebiasaan) Nabi setelah sembahyang subuh, duduk dan berzikir hingga mata hari terbit”.

Sembahyang bagaikan sebauh sungai yang mengalirkan air jernih di depan rumah kita, setiap kali hendak memasuki rumah mesti mandi terlebih dahulu ke dalam sungai tersebut, tidakkah kotoran yang ada di badan kita hilang dan bersih?, tentulah semua kotoran akan hilang karena dibersihkan setiap hari lima (5) kali sehari semalam. Demikianlah hal dengan sembahyang lima (5) waktu yang kita tetap laksanakan.

Baginda Rasulullah menjelaskannya dalam sebuah hadits yang sangat populer;

قال رَسُول اللَّهِ ﷺ: مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلىَ بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ (رَوَاهُ مُسلِمٌ)
Maksudnya: “Permisalan sembahyang yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya)”.

Dari berbagai penjelasan tersebut, jelaslah bahawa salat merupakan tiang agam yang mesti dijaga, dirawat. Menjalankan salat seperti menegakkan agama dan meningalkannya bagakan orang yang merobohkan agama. Salat juga sebagai permata keindahan bagi Rasulullah, sebagai media (jalan) bagi orang-orang bertaqwa dan salat sebgai jannatul ‘ajilah lil muhibbin (surge yang disegerakan bagi para pencinta Ilahi).

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA