Tentu, hidup adalah soal pilihan sebagai konsekuensi dari yang namanya kebebasan. Hal ini bisa dikonfirmasi akan eksistensi soal kebebasan ke dalam sumber primernya Islam, yaitu Al-Qur’an. Secara simbolis, di dalam surat al-kafirun menyebut soal kebebasan yang dimiliki manusia. Oleh sebab itu, implikasi-logis dari hal tersebut memposisikan Islam sebagai salah satu jalan hidup atau the way of life di dunia yang plural ini.
Hidup dengan segala pilihan yang tersedia dari pilihan-pilihan sederhana semisal memilih lauk yang akan dimakan, sampai pada pilihan-pilihan yang tak sederhana, kompleks semisal memilih suatu agama sebagai penuntun hidup. Kondisi hidup tersebut tak pernah membebaskan manusia dari yang namanya kebebasan dan memilih. Inilah juga yang menjadi jawaban dari ahlussunnah wal jama’ah terhadap perbedaan antara jabariah dan qodariah. Bahwa konsekuensi kondisi hidup yang selalu memilih dengan kebebasan, berimplikasi kepada perbuatan yang akan dimintai pertanggung jawaban nanti di akhirat.
Manusia kemudian hidup di sebuah ruang yang rumit. Di dalam ruang tersebutlah manusia memutuskan sebuah pilihannya. Manusia tak pernah lepas dari implikasi kemanusiaannya dari sosial, agama, ekonomi, budaya, politik dan lain-lain. Aspek-aspek tersebutlah yang membuat ruang itu rumit dengan segala perkembangannya kini.
Kemudian dalam perjalanan hidup manusia, sebagaimana disebut di awal, mereka tak pernah bebas dari sebuah pilihan, mereka hidup berdiri dalam sebuah bangunan pikiran yang kompleks baik disadari atau tidak. Entah berdiri dalam sebuah agama orang tua, sistem ekonomi yang kapitalis, pendidikan yang liberal dan seterusnya. Kesemua hal itu, tentu menentukan tindak tanduk dari manusia.
Hidup dalam sebuah ruang kemudian menjelaskan kebebasan manusia hanya terletak pada pilihan-pilihanya bukan pada ruang di mana ia hidup. Mengutip apa yang disebut dalam film fast and furious bahwa tak ada yang namanya kebebasan. Kalimat tersebut dikatakan saat pemain film tersebut ingin bebas dari penjara. Mungkin ia bebas dari penjara, namun tak pernah dari hukum sosial di mana ia hidup. Beberapa filsuf semisal Plato, Hobbes, Locke menyebut akan eksistensi kontrak sosial. Bahwa di mana pun manusia hidup, ia selalu membuat kontrak sosial yang mengikat dan hal tersebutlah yang tak mengizinkan manusia melakukan sekemauannya.
Konteks ini kemudian penting kita bertanya kepada diri kita sendiri. Agama apa tempat kita berdiri, budaya apa yang kita anut, politik apa yang kita lakukan, ekonomi apa yang kita berlakukan, di mana kita sekarang dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangatlah menukik, fundamental terutama untuk yang sejauh ini hidup tak sadar ia berada dalam sebuah pilihan.
Jawaban akan pertanyaan tersebut akan memunculkan pertanyaan fundamental lainnya. Lalu mengantar kita semua kepada jawaban-jawaban soal kehidupan yang sedang kita jalani. Bahkan mungkin kita mau memilih hal lain dari pilihan kita selama ini. Hidup memang seakan ditinggalkan oleh penciptanya sendiri, terkesan dilepas menjalani hidup lalu dibebankan untuk memilih pilihan-pilihan itu.
Apapun pilihan kita dalam hidup dalam berbagai sisi kehidupan kita. Semuanya akan kembali kepada diri kita masing-masing. Pilihan kita adalah sebuah ikatan, minimalnya ikatan psikologis yang kita sadari sebagai sebuah pilihan. Pilihan-pilihan kita tersimpan dalam diri kita sendiri. Kesemua pilihan tersebut kemudian menjelaskan akan sejarah hidup kita sendiri.




